
Kata orang bijak, bersikap baiklah jika ingin dihargai. Karena, jika kasusnya sudah seperti ini, alhasil, pesta megah bertabur penyanyi terkenal dengan ratusan tamu undangan dari kalangan atas akan menjadi cerita aib yang akan selamanya dikenang sepanjang masa.
Perkara Retno yang tanpa sadar melemparkan gelas karena tersulut emosi ternyata berlanjut sampai ke kantor polisi. Tak henti-hentinya wanita paruh baya itu menangis. Riasan mata sudah luntur sejak tadi karena air matanya yang jauh lebih deras dari aliran air terjun. Seribu permintaan maaf tak tulus, tidak pernah cukup meluluhkan amarah Varissa yang kepalang emosi melihat Dikta terluka.
"Tolong, Mbak! Kasihan, Mama!" Tika menyatukan kedua telapak tangannya. Memohon sambil terisak di hadapan mantan kakak iparnya.
Varissa masih bergeming. Meski sedikit iba melihat perubahan drastis Tika yang sepertinya kehilangan banyak berat badan akhir-akhir ini, namun perbuatan Retno juga tak semudah itu akan Varissa toleran.
"Mama sudah keterlaluan, Tik! Apa Mbak harus membiarkan perbuatan Mama yang seperti itu?"
Tika langsung bersimpuh. Berlutut dihadapan Varissa dengan air mata yang kian deras mengalir. Kepala gadis itu tertunduk dalam. Kedua tangannya masih mengatup memohon belas kasih.
"Sekali ini saja, Mbak! Tika nggak mau Mama di penjara. Setidaknya, ampuni Mama demi Tika. Ya?" bujuk gadis itu mengiba.
Harun hanya terdiam sambil mengusap punggung istrinya yang sedang duduk berhadapan dengan salah satu anggota kepolisian. Raut wajah lelaki itu tampak sedih, namun sorot matanya menyiratkan tak ada rasa bersalah. Pun, dengan Erik dan Mauren. Sepasang suami istri yang baru sah menikah itu, tampak menaruh dendam. Tak satu pun yang merasa bahwa perbuatan Retno itu adalah sesuatu yang salah.
Varissa menghela nafas kesal. Pucat wajah Tika serta badannya yang kian ringkih, membuat sudut hati Varissa sedikit mencelos. Kemana perginya Tika yang angkuh? Kenapa anak ini mendadak berubah seperti dua orang yang berbeda jauh?
"Kakak!" Kini Tika beringsut mendekat pada Dikta. Masih dalam keadaan berlutut, gadis itu kembali mengiba demi ibunya.
"Kak! Maafkan Mama, ya! Tolong bujuk Mbak Varissa untuk mencabut laporannya. Sekali ini saja! Tolong jangan biarkan Mama menginap di sel tahanan."
Tatapan dingin Dikta menilai kejujuran yang disampaikan Tika melalui binar matanya. Tidak! Gadis ini sedang tidak berbohong. Permintaan itu tulus dari hatinya demi menyelamatkan Ibu Kandung yang tak bermoral itu.
Sebenci-bencinya dia terhadap keluarga besar Erik, namun Dikta menilai masih ada satu orang yang bisa mereka selamatkan untuk tidak berakhir buruk seperti anggota keluarganya yang lain. Ya, Tika. Gadis itu masih memiliki harapan untuk berubah. Bisa jadi, sikap buruknya selama ini hanya terbentuk karena salah didikan semata.
"Kamu ngapain sih, Tik? Berdiri!" bentak Erik geram saat sudah tak tahan melihat adik perempuannya membuang harga diri didepan musuh mereka.
"Harusnya Abang bantuin Tika buat bujuk Mbak Varissa, dong! Abang memangnya, nggak kasihan lihat Mama di penjara?"
Erik mendengus. Kembali membuang muka ke arah lain ketika jawaban untuk pertanyaan itu sama sekali tidak terlintas di benaknya.
"Oke! Kasus ini nggak akan saya perpanjang!" Suara bariton milik pria berambut panjang yang tengah menatap Erik dengan tajam itu seketika membuat kepala Tika mendongak. Gadis itu buru-buru mengusap air matanya dan bergegas berdiri.
"Kakak serius?" tanya Tika dengan riang.
__ADS_1
Retno dan Harun saling berpandangan kemudian kompak mengembuskan nafas lega. Sementara, Mauren dan Erik tampak mendengus dan masih mempertahankan tatapan sinis mereka.
"Ta?" pekik Varissa tertahan. Bukan ini maunya. Dia tak berniat melepaskan Retno begitu saja setelah semua hal yang sudah mantan ibu mertuanya lakukan. Setidaknya, untuk kasus terakhir ini. Kejadian yang telah membuat jerapah tampannya terluka.
Dikta mengedipkan mata perlahan. Memberi kode agar sebaiknya Varissa diam saja dan mengikuti alur yang sedang dia mainkan. Berdamai demi Tika, boleh! Tapi, tentu ada syaratnya.
"Tapi, saya punya syarat!" lanjut Dikta yang membuat senyum kemenangan di bibir Erik dan Mauren mendadak sirna.
"Saya minta ganti rugi," imbuh pria bertubuh tinggi itu.
Retno menelan salivanya susah payah ketika sorot mata pria muda bertampang datar itu menatapnya dengan tajam. Tanpa sadar, dia menundukkan pandangan saking segannya. Andai waktu bisa diulang, tentu saja dia tak akan berbuat sekonyol itu dengan mencari gara-gara pada pria aneh dengan aura misterius itu.
Usai menandatangani perjanjian damai beserta memberi ganti rugi, Retno dan keluarga besarnya buru-buru pergi dari sana. Hanya Tika yang menoleh sebentar. Berbisik terimakasih kepada Varissa dan Dikta sebelum diseret paksa oleh Ibunya untuk mempercepat langkah.
"Kamu ngapain mau damai, sih?" protes Varissa kesal. Matanya sesekali menatap iba pada ujung pelipis Dikta yang kini terbalut perban usai mendapatkan lima jahitan.
"Lumayan, kan! Dapat 10 juta," ujar Dikta sambil memamerkan uang 10 juta yang tadi diserahkan Mauren secara tidak rela.
"Itu uang yang nggak seberapa, Ta!"
"Bagi pengangguran kayak aku, ini nilainya banyak, Va!" debat Dikta meski dengan nada suara yang sangat lembut.
"Ck, mestinya kamu penjarain Mama Erik aja. Kenapa harus dikasih ampun?"
"Kamu nggak kasihan sama anak gadisnya? Biar bagaimanapun, aku laki-laki, Va! Mana tega lihat perempuan nangis terus berlutut kayak tadi!"
Tatapan Varissa mendadak sengit. Raut wajahnya tampak kesal mendengar pernyataan Dikta.
"Kamu naksir Tika?"
Giliran Dikta yang menatap Varissa sengit. "Kamu pikir, aku lelaki apaan? Masa' suka sama anak yang baru gede?"
"Terus, maksud ucapan kamu apa? Ngapain pakai acara kasihan segala?"
Dikta meluruhkan kedua bahunya. Uang 10 juta tadi ia selipkan ke dalam saku jas yang dikenakannya.
__ADS_1
"Aku tahu kalau kamu sebenarnya memang mau memaafkan Mama Erik demi anak perempuannya. Iya, kan?" Ia mengangkat alis. Menunggu jawaban dari perempuan cantik yang saat ini sedang menyetir.
"Aku belum pernah lihat Tika seperti itu." Varissa akhirnya mengaku. Memang benar. Dia sebenarnya ingin mengabulkan permintaan Tika namun terlalu berat mengiyakan mengingat betapa tak adanya rasa penyesalan di wajah Retno, Harun, Erik bahkan Mauren.
"Yang namanya anak, apapun pasti akan dia lakukan demi orangtuanya. Terutama, ibunya."
Varissa mengangguk. Itu benar. Seorang anak memang harusnya seperti itu. Meski, terkadang tak jarang kita menemukan seorang anak yang malah durhaka dan meninggalkan orangtuanya ketika tersandung masalah. Namun, kembali lagi. Pribadi orang memang berbeda-beda.
"Nggak mau singgah dulu?" tanya Varissa saat mobil berhenti tepat didepan halaman rumahnya.
"Nggak usah. Udah malam!" Lelaki itu tersenyum.
"Yakin, bisa nyetir dalam keadaan sakit kayak gitu? Perlu aku pesenin taksi online?"
Dikta memutar bola matanya malas. Ayolah! Lukanya tidak separah itu sampai-sampai kemampuan menyetirnya harus diragukan. Varissa bahkan mengomel panjang lebar dan akhirnya mengambil alih kemudi usai perdebatan singkat saat hendak pulang dari kantor polisi tadi.
"Yang luka cuma ujung pelipis aku aja, Va! Kedua tanganku baik-baik aja kok. Lagipula, lukanya juga masih jauh dari jantung. Aku nggak bakalan mati tiba-tiba ditengah perjalanan kok!"
CK!! Varissa berdecak kesal mendengar jawaban Dikta. Memang dasar, lelaki satu ini. Apa dia tak tahu kalau Varissa sedang cemas? Memangnya, salah kalau mengkhawatirkan pria idaman meski lukanya tak seberapa?
"Nggak mau nginep di rumahku aja?" Tawaran itu tiba-tiba saja tercetus dari mulut Varissa.
Lelaki yang sudah masuk kedalam mobil itu kembali keluar. Senyum manis jelas tercetak di bibirnya. Dalam sepersekian detik, Varissa mulai menyesal kembali. Kenapa mulutnya selalu saja lebih cepat bertindak ketimbang otaknya?
"Serius, kamu nawarin aku buat nginep?" bisik Dikta pelan di telinga Varissa. Tatapannya mulai tampak mengesalkan. Macam om-om mesum yang sering berkeliaran ditengah malam.
"Mungkin sebaiknya nggak usah." Dia melanjutkan kalimatnya.
"Soalnya, kalau aku nginep, maunya tidur sekamar sama kamu. Kamu siap?" goda Dikta setengah berbisik ditelinga Varissa.
Wanita itu sontak membulatkan kedua matanya. Kepalanya menggeleng cepat dengan bahu yang terangkat tegang. Sementara, Dikta tampak berusaha menahan senyum melihat betapa menggemaskannya wajah gugup Varissa.
"Aku pulang. Good night!" pamit Dikta. Tak lupa, satu kecupan dia hadiahkan di puncak kepala Varissa sebelum pergi.
"Curang!" gumam Varissa. Dicengkeramnya dengan erat gaun malam yang ia kenakan. Dirabanya pipi yang mendadak panas. Akh!!! Menggelikan. Sepertinya, Varissa kembali muda 10 tahun dari usianya.
__ADS_1