
Selepas kepergian Gisam, Dikta buru-buru berlari ke kamar mandi untuk membasuh pipi bekas dicium lelaki berpenampilan klimis itu. Varissa yang menyaksikan berusaha mengatupkan kedua bibirnya. Sejenak, wanita itu mengalihkan perhatian ke layar gawai. Susah payah dia mengatur ekspresi agar tidak ketahuan sedang menertawakan tingkah sang suami.
"Kamu jahat!" tuding Dikta begitu keluar dari kamar mandi. Tangan panjangnya masih berusaha menggosok pipinya dengan handuk kecil berwarna abu-abu yang ia pegang.
"Aku? Jahat?" tanya Varissa bingung.
Dikta mendengus sambil mendaratkan bokong tepat disebelah sang istri. Wajahnya kusut macam pakaian belum disetrika meski sudah dibasuh berkali-kali.
"Aku daritadi teriak minta tolong, loh! Masa' nggak dibantuin sama sekali?" ocehnya seraya melempar handuk kecil bekas pakainya ke atas tempat tidur.
Mata Varissa langsung memicing. Menatap seonggok handuk basah ditempat tidur dengan ekspresi wajah tak suka. Lalu, tanpa aba-aba, dia menepuk paha suaminya dengan keras.
"Itu handuk basah, pinggirin nggak?" ucap Varissa seraya menunjuk handuk basah diatas tempat tidur.
"Biarin aja disitu," jawab Dikta malas.
Varissa menarik nafas panjang. Masih menjadi misteri, kenapa lelaki sangat suka meletakkan handuk basah diatas tempat tidur. Entah apa maksudnya.
"Itu basah, Ta!" ujar Varissa yang masih mencoba untuk berlaku lembut.
"Ya, memang basah. Namanya juga baru dipakai," jawab lelaki itu tanpa rasa bersalah.
"Kan bisa dijemur didalam kamar mandi, Ta!"
"Disitu aja. Nanti juga kering sendiri kena AC." Lagi, lelaki itu menjawab tanpa merasa ada yang salah sedikit pun dengan sikapnya.
"Pradikta Anantavirya!" teriak Varissa sekencang mungkin. Sontak saja, Dikta yang sedang berkirim pesan dengan Dokter Imran langsung terlonjak kaget. Ponselnya bahkan hampir terjatuh dari tangannya.
"Aku nggak budeg, Va!"
"Handuknya di pinggirin, nggak?" Sekarang, mata Varissa berkilat amarah.
Dikta menelan ludahnya kasar. Lelaki itu mengangguk patuh tanpa pembelaan lagi. Astaga! Baru sehari menikah, istrinya sudah berubah jadi singa betina. Apa kabar dengan setahun, dua tahun, bahkan sepuluh tahun? Istrinya tidak akan berubah jadi T-Rex, kan?
__ADS_1
"Udah dijemur?" tanya Varissa usai suaminya keluar dari dalam kamar mandi.
Tak menjawab, Dikta memilih menganggukkan kepala. Ragu untuk mendekat kembali pada sang istri, dia memilih duduk ditepi tempat tidur ketimbang harus duduk di sofa dekat istrinya lagi.
"Ngapain duduk disitu?" tegur Varissa seraya bersedekap. Kakinya bersilang anggun dengan punggung yang bersandar nyaman di sofa.
"Pengen aja," jawab Dikta asal. Digaruknya kepala yang mendadak terasa gatal.
"Sini!" Varissa menepuk tempat disebelahnya yang dengan cepat dituruti Dikta dalam hitungan beberapa detik saja.
"Tadi kenapa? Pipinya di cium Pak Gisam?" tanya Varissa sembari mengelus pipi sang suami. Nada suaranya mendadak manja. Seperti sedang berbicara kepada balita.
"He'em," angguk Dikta dengan bibir manyun. "Jijik banget. Pipiku jadi ternoda," imbuhnya.
"Kasihan! Bekasnya masih ada?"
Dikta mengangguk. "Nggak bisa hilang meski sudah dibasuh air."
Dikta memutar sedikit tubuhnya hingga berhadapan dengan wajah sang istri. Lalu, pipi kirinya ia dekatkan ke arah Varissa. Sejenak, wanita itu mematung. Nafasnya tercekat kala mendapati wajah Dikta yang begitu dekat dengannya.
CUP!
Sambil menangkup wajah Dikta, Varissa melabuhkan ciuman di tempat yang Dikta tunjuk sebagai bekas ciuman Gisam.
"Nah, udah hilang. Sekarang, tinggal bekas ciuman aku," ucap Varissa tersenyum.
Dikta mematung. Terasa ada yang menyengat hatinya saat ciuman itu berlabuh di pipinya. Sambil mengulum senyum, lelaki itu menatap wajah Varissa yang hanya berjarak beberapa inci saja dari wajahnya. Dan... HUP! Dia berhasil mengangkat tubuh Varissa hingga duduk diatas pangkuannya.
Sepasang mata indah itu membulat sempurna. Mulutnya bahkan mengeluarkan pekikan kecil ketika sang suami mengangkat tubuh mungilnya begitu saja tanpa aba-aba. Lagi-lagi, jantungnya kembali berulah. Berdetak tak karuan hingga menimbulkan gelisah dan rasa gugup yang luar biasa.
"Kamu apa-apaan sih?" Varissa mencoba mencairkan suasana yang mendadak hening. Tatapan mata Dikta yang tajam benar-benar meluluhlantakkan pertahanan terakhir Varissa. Wanita itu tak berkutik. Tak mampu berpaling dari pesona mata tajam yang begitu mendominasi.
Beberapa kali, Varissa hendak turun dari pangkuan Dikta. Namun, lelaki itu tak membiarkan. Malah, pelukannya di pinggang Varissa kian mengerat hingga Varissa pada akhirnya benar-benar menyerah. Dia pasrah. Menuruti hati yang tak mampu melawan gejolak cinta yang semakin membakar sanubari.
__ADS_1
"Jangan selalu memancing aku, Va!" ucap Dikta serak dengan jemari yang memainkan anak rambut Varissa.
"Memancing apa?" tanya Varissa yang berpura-pura tidak tahu.
Dikta tersenyum. Kepalanya ia tenggelamkan didada Varissa dengan tangan yang kini mengelus paha mulus milik sang istri.
"Astaga, Va! Andai nggak takut kamu nantinya bakal sakit gara-gara kelelahan, sudah aku lempar tubuh kamu ke atas tempat tidur lagi saat ini juga," ucap lelaki itu terdengar frustasi.
Varissa tertawa kecil. Dielusnya rambut panjang sang suami yang masih betah menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.
"Aku nggak bakal kelelahan kok!"
Mendengar jawaban sang istri, Dikta sontak mengangkat kembali kepalanya. Sepasang netra legam itu tampak berbinar cerah. Bibirnya menarik secarik senyum yang begitu sangat mendebarkan jiwa Varissa. Tanpa sadar, Varissa mendaratkan satu kecupan dibibir kemerahan milik suaminya sebagai hadiah.
"Kamu lelaki paling tampan yang pernah aku temuin seumur hidup, Ta!" bisik Varissa lirih. Tanpa rasa malu, dia mengekspresikan apa yang selama ini telah dia pendam tentang lelaki itu. Begitu banyak pujian yang dulu ia tahan untuk tidak ia ungkapkan. Begitu banyak kekaguman yang hanya mampu dia sembunyikan rapat-rapat agar tak membuang harga dirinya sebagai seorang perempuan. Dan kini, gengsi itu tak perlu dipertahankan lagi. Bahkan, jika perlu dia akan terus menerus memuji lelakinya sampai dia merasa bosan sendiri.
"Maka dari itu, tetaplah bersamaku sampai kita menua. Nggak peduli seberapa besar kita bertengkar nanti, nggak peduli seberapa kasar kata-kata yang mungkin akan aku ucapkan tanpa sadar ketika kita bertengkar kelak, aku hanya minta satu hal saja sama kamu, Va! Jangan pernah meminta pergi. Jangan pernah tinggalkan lelaki yang hanya bermodal tampang ini. Sekalipun, kamu merasa bosan, akan kutemukan cara kembali agar kamu bisa mencintaiku lagi seperti saat ini."
Meski Dikta mengucapkan kalimat panjang itu sambil tersenyum, namun matanya tak mampu berbohong. Embun yang mendadak menyelimuti sepasang netra legamnya membuat hati Varissa menghangat. Cinta yang meluap-luap dapat dia lihat di sepasang mata yang penuh ketulusan itu. Tanpa sadar, Varissa turut menetaskan air mata. Terharu pada kata-kata lelaki yang selama ini telah mencintainya dalam diam. Menyebut namanya dalam setiap doa, serta menjaganya dari kejauhan.
"Tapi, kalau misalnya kamu yang bosan, gimana?"
Dikta menangkap jemari Varissa yang menelusuri tiap lekuk wajahnya. Diciumnya punggung tangan sang istri agak lama.
"Belasan tahun aku lalui dengan memendam cinta sepihak, Va! Tuhan yang menjadi saksi bagaimana sulitnya aku bernafas dibelahan dunia lain tanpa kamu. Kita bernaung di bawah langit yang sama. Tapi, tidak sekalipun, aku merasa terlihat di mata kamu selama belasan tahun itu. Dan, sekarang Tuhan memberiku kesempatan agar bisa terlihat oleh kamu. Apa menurut kamu, aku sebodoh itu untuk melepaskan kesempatan yang mungkin nggak akan pernah datang dua kali dalam hidupku yang nggak berharga ini?"
Airmata Varissa kembali menetes. Teringat beberapa tahun silam yang sudah ia lalui bersama Erik. Ketika matanya masih tertutup kabut cinta buta hingga tak mampu membedakan warna. Mana yang baik dan mana yang buruk, wanita itu sama sekali tidak sadar. Hingga, didetik kematian sang Ayah sekalipun, kesadaran itu tak juga nampak.
Betapa bodohnya Varissa yang dulu. Seorang wanita yang hanya mampu mengemis cinta pada seorang lelaki dan keluarga yang sama sekali tak mencintainya dengan tulus. Sementara, di tempat yang sama, yang luput dari pandangan, ada cinta tulus yang setia menanti. Menunggu dengan sabar serta melindungi tanpa pamrih meski hanya sakit yang mampu Varissa berikan.
"Ta! Maaf karena aku baru menyadarinya sekarang. I love you. Please! Jangan tinggalkan aku sampai kapanpun," lirih Varissa berderai air mata.
Dengan kedua tangannya, Dikta menghapus airmata istrinya. Lalu, dia perlahan menarik tengkuk Varissa. Melabuhkan bibirnya pada bibir mungil sang istri lalu memagutnya penuh kelembutan. Mata keduanya terpejam rapat. Menikmati cecapan rasa yang bercampur airmata tanpa suara. Hingga, entah sejak kapan mereka sudah berpindah ke atas tempat tidur. Masih saling berpagut. Mereguk manis dari rasa masing-masing di tengah rasa cinta yang menggunung. Lagi, rasa yang semalam kembali mereka nikmati.
__ADS_1