Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Who?


__ADS_3

Hari perceraian itu akhirnya datang juga. Segera, setelah putusan pengadilan Agama sah menyatakan Varissa dan Erik resmi berpisah, tampak binar kelegaan memenuhi wajah Varissa. Erik tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan, penyangkalan atas segala bukti perselingkuhannya pun tak ada yang dia keluarkan. Lelaki itu diam selama proses persidangan berlangsung selama beberapa hari terakhir. Dia bahkan dengan penuh percaya diri mengatakan alasannya berselingkuh justru karena Varissa tak mampu memberinya rasa nyaman sekaligus keturunan.


Meski mendapat sedikit sangkaan yang membuat Varissa melongo tak percaya, namun wanita itu hanya bisa tersenyum kecil. Tak mengapa. Biarkan Erik memfitnah sesuka hati asal mereka kini sudah kembali menjadi orang asing.


"Kamu senang dengan semua ini, Va?" tanya Erik tepat setelah mereka keluar dari gedung pengadilan.


Malas. Satu kata itu yang terlintas dibenak Varissa saat lelaki yang sudah resmi berstatus mantan suaminya itu datang menyapa.


"Sampai kapan kamu akan terus semarah ini, Va?" Erik menghela nafas saat wanita yang berdiri dihadapannya itu tampak bergeming. Tak ada tanda-tanda hendak merespon Erik.


"Udahlah, Rik! Ngapain juga kamu harus berbaik hati sama perempuan nggak tahu di untung itu," celetuk Retno yang baru saja datang bersama calon menantu idamannya.


"Mas!" sapa Mauren sambil melingkarkan tangannya di lengan Erik. Sekilas, nampak dia tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil menyingkirkan Varissa si istri sah dari kehidupan kekasihnya.


"Gimana pemeriksaannya? Anak kita baik-baik aja, kan?" Erik mengecup pelan pipi Mauren seraya tangannya mengelus perut sang kekasih yang masih terlihat rata.


Telinga Varissa yang mendengar ucapan Erik mau tak mau mengirim sinyal ke otaknya agar memerintahkan sepasang mata indah wanita itu untuk melirik mantan suami dan kekasih idamannya itu. Apa Mauren hamil? Varissa penasaran.


"Anak kita sehat, Mas! Udah mau jalan dua bulan," jawab Mauren.


"Tuh, lihat! Mauren aja sekarang udah bisa hamil. Sementara, mantan istri kamu itu selama hampir tiga tahun nggak bisa-bisa. Memang, dasar perempuan mandul!" sindir Retno jumawa.


Varissa mendengus. Dibukanya kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya lalu tersenyum ke arah Erik dan Mauren. Tak ada rona sakit hati apalagi penyesalan di wajah cantik yang ia miliki. Malah, justru kini Erik yang terpesona. Wajah Varissa entah sejak kapan berubah menjadi semakin cerah dan kian bertambah elok dari sebelumnya.


"Selamat ya, Mas! Akhirnya, kamu akan dapat anak dari wanita idaman kamu!" ucap Varissa.


"Jangan sedih ya! Meski kamu sudah dicampakkan Erik, kamu jangan sampai putus asa dan mau bunuh diri! Oke?" Retno menghampiri Varissa. Menepuk pundak mantan istri putranya itu sambil tersenyum meremehkan.


"Tenang aja, Tante! Aku nggak seputus-asa itu kok!" Varissa melepaskan tangan Retno dari pundaknya. "Justru, Tante yang jangan sampai bunuh diri kalau ternyata anak yang dikandung Mauren itu bukan anak Erik, ya!"

__ADS_1


Retno mendelik. Matanya melotot kesal sembari tangannya terangkat hendak memberi tamparan keras ke pipi Varissa.


"Ngomong apa kamu, hah?"


"Tante nggak berhak untuk menampar aku!" ucap Varissa sambil menghempas tangan Retno dengan keras.


"Va! Jangan kurang ajar sama Mamaku!" peringat Erik dengan suara tajam.


"Kamu nggak bisa lihat, Mas? Aku cuma membela diri," jawab Varissa tanpa rasa bersalah.


"Va! Kamu jangan banyak tingkah! Apa kamu mau hubungan kita ini semakin bertambah buruk?" Erik menatap mantan istrinya dengan tatapan memohon. Entah apa maksudnya.


"Memang hubungan kita sudah terlanjur buruk, Mas! Sekarang, kita udah jadi orang asing. Jadi, suruh Mama kamu ini untuk berhenti mengganggu aku atau aku akan laporkan dia dengan tuntutan perbuatan tidak menyenangkan," ancam Varissa tegas.


Erik tak percaya dengan segala hal yang diucapkan Varissa. Apa benar wanita ini adalah wanita yang dulu pernah mencintainya? Kenapa terasa sangat berbeda?


Tanpa sadar, Erik melepas pegangan Mauren dari lengannya kemudian melangkah maju menghampiri sang mantan istri. Mencengkram kedua bahu Varissa dengan kuat sambil menatap mata wanita itu dengan tajam.


"Lepas, Mas!" Varissa memberontak hendak melepaskan diri. Rasanya jijik disentuh kembali oleh lelaki itu.


Tiba-tiba, sebuah mobil Maybach hitam keluaran terbaru datang dan berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Sosok pria tampan dengan tinggi sekitar 187 cm keluar dari dalam sana dengan tatapan mata tajam meski ekspresi wajahnya terlihat datar.


Lelaki itu menghampiri mereka. Mendorong tubuh Erik secara spontan hingga mantan suami Varissa itu terpundur dan nyaris terduduk di tanah andai Mauren tidak menahannya.


"Jangan berani mengganggunya!" Suara itu begitu rendah namun sarat akan ancaman. Dan, sebagai sesama laki-laki, Erik tahu betul bahwa lelaki yang tengah menatapnya sengit itu sedang mempertahankan sesuatu yang menurutnya sudah menjadi miliknya. Tanggung jawabnya.


"Dia nyakitin kamu?" Kali ini, lelaki asing itu beralih ke mantan istrinya. Menatap wanita itu penuh kelembutan seraya mengusap lembut puncak kepala Varissa.


Erik tertegun. Sesuatu mendadak memanas didalam dirinya ketika dia melihat Varissa hanya diam saja disentuh oleh lelaki asing itu. Bahkan, mantan istrinya tersenyum sangat manis dan terlihat begitu nyaman diperlakukan seperti itu oleh sang pria asing.

__ADS_1


"Dia siapa, Va?" tanya Erik penasaran.


"Bukan urusan kamu," jawab Varissa datar.


"Pulang, yuk!" Varissa menggandeng tangan Dikta. Menggenggam jemari kokoh lelaki itu tanpa adanya batasan lagi yang menghalangi mereka.


Rasanya hangat. Jemari kokoh itu melindungi seluruh jemari mungil miliknya. Terasa aman dan menenangkan. Tepat, seperti yang selama ini dia khayalkan sebelum menjemput mimpi di setiap malam.


Dikta diam saja. Menuruti ingin Varissa tanpa keberatan sama sekali. Awalnya dia sempat berpikir bahwa hubungan mereka mungkin akan terasa kaku diawal permulaan. Namun, ternyata dugaannya salah. Semuanya berjalan baik-baik saja dan justru jauh dari kecemasan yang selama ini dia pikirkan.


"Dia siapa, Va?" teriak Erik keras. Masih belum menyerah sebelum memperoleh jawaban yang memuaskan hatinya.


Varissa menghentikan langkahnya. Menoleh sejenak pada Dikta lalu menatap Erik dengan tatapan dingin.


"Pradikta Ananta," jawab Varissa singkat sebelum menarik kembali Dikta menuju mobil.


Setelah Maybach hitam itu melesat pergi meninggalkan halaman pengadilan Agama, Erik masih berusaha mengingat-ingat nama itu. Dia yakin pernah mendengarnya di suatu tempat. Tapi, dimana?


"Laki-laki itu siapa, Mas?" tanya Mauren begitu melihat ekspresi Erik tampak tidak senang.


"Pradikta Ananta, Pradikta Ananta...," Erik terus menggumamkan nama itu sambil berusaha mengingat-ingat.


"Anak angkatnya Papa Hadi?" imbuhnya kala ingatan itu akhirnya berhasil tergali.


"Siapa, Mas?" ujar Mauren mengulang pertanyaannya. Suara Erik terlalu kecil. Dia tak bisa mendengar apa-apa.


"Dia anak angkatnya Papa Hadi. Ya, aku yakin!" jawab Erik. "Tapi, kenapa lelaki itu baru muncul sekarang?" gumam Erik penasaran.


__ADS_1




__ADS_2