
Retno yang sedang mencuci piring hampir menjatuhkan piring yang ia pegang ketika Erik datang dan meninju permukaan meja makan dengan keras. Wanita paruh baya itu kemudian berbalik. Meletakkan piring yang belum sempat dibilas kembali ke wastafel lalu tergopoh-gopoh mendatangi putranya.
"Kenapa, Rik? Pulang-pulang kok marah begitu?" tanya Retno cemas.
"Mauren, Ma!" geram Erik dengan gigi bergemelatuk.
"Mauren kenapa?"
"Dia selingkuh sama atasannya di kantor."
"A-Apa?" Retno rasanya hampir pingsan mendengar ucapan Erik. "Kamu jangan ngawur, Rik! Mana mungkin Mauren berbuat seperti itu."
"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Ma!" tutur Erik dengan mata memerah. "Dia bohong sama kita selama ini, Ma! Dia nggak ada dinas ke luar kota. Dia cuma mau pergi sama selingkuhannya dan berbuat mesum berdua tanpa mau diganggu orang lain."
Retno mengusap punggung Erik menenangkan. Tak ada kata yang sanggup keluar dari mulutnya lagi. Penyesalan itu baru terasa sekarang. Karma memang tidak pernah ingkar. Janjinya untuk datang selalu tepat. Tak peduli memakan waktu lama atau malah lebih cepat, dia akan tetap datang.
"Jadi, sekarang gimana?" lirih wanita tua itu.
Erik menggeleng. Wajahnya ia tutup dengan kedua telapak tangannya. Rasa perih itu benar-benar menghancurkan hatinya. Apa sesakit ini perasaan Varissa ketika tahu bahwa dia juga selingkuh waktu itu? Jika iya, maka Varissa memang benar-benar wanita yang kuat. Dia rela bersandiwara sedemikian lama demi membalas Erik yang memang pantas mendapatkan semua itu.
"Apa ini balasan untuk aku yang sudah melukai Varissa, Ma?"
Retno tak menjawab. Dia memilih diam sambil menahan tangis yang hampir pecah diujung tanduk. Tak bisa dipungkiri, yang membawa putranya jatuh ke lubang jurang ini adalah dirinya. Dia yang telah memberi pengaruh buruk kepada putranya untuk mengkhianati Varissa hanya karena satu alasan bodoh. Varissa bukan menantu dari suku dan keturunan yang dia mau. Padahal, akhlak yang merupakan akar dari segala kebaikan tak dapat dinilai dari kedua aspek itu. Sama sekali tidak.
******
"Ciyeeee yang udah tunangan!" Nessa menabrak bahu Varissa dengan sengaja. Gadis itu tampak tersenyum lebar usai acara penyematan cincin tunangan selesai.
"Jangan jahil, Cha!" dengus Varissa dengan wajah yang tampak begitu sumringah. Ditatapnya sang calon suami yang sedang terjebak ditengah-tengah pembicaraan bapak-bapak yang mengerubunginya. Wajah Dikta yang terlihat bosan namun tak bisa kabur mau tak mau membuat dia tersenyum lebar.
"Jangan dilihatin terus! Sebulan lagi kan udah resmi jadi suami. Nanti, Kak Icha bisa puas-puasin deh, lihatin Kak Tata tiap bangun tidur." Nessa menangkup kedua pipinya dengan tatapan yang menjelajah ngawur entah kemana. "Ahhhh... Pasti romantis banget!"
__ADS_1
"Hus!" Varissa memberi peringatan pada Nessa yang memekik keras tanpa sadar. "Jangan kencang-kencang ngomongnya, Cha! Malu didengar orang."
Sambil nyengir, Nessa menutup mulutnya dengan rasa bersalah. Terlebih lagi, ketika sang ibu melotot dengan tajam ke arahnya.
"Tapi Kak Icha," bisik Nessa yang makin merapatkan duduknya ke dekat Varissa. "Jodoh memang nggak bisa ditebak, ya! Kakak udah jauh-jauh nyari, eh.. ujung-ujungnya, nemu di tempat terdekat. Bahkan, bisa dibilang, dulu Kakak serumah sama jodoh Kakak sendiri. Echa jadi mikir. Apa jangan-jangan, jodoh Echi malah tukang cilok yang sering mangkal di depan komplek ya?"
"Enak aja!" Suara itu mengagetkan keduanya. Varissa bahkan harus mengusap dadanya karena ulah Nessi yang entah muncul darimana.
"Mang Dadi udah punya istri tau! Mana mau Echi jadi istri kedua," ucap kembaran Nessa.
"Kalau belum punya istri, kamu mau?" goda Nessa.
Bibir Nessi manyun sambil berpikir keras. "Kalau memang cinta, kenapa nggak? Lagian, nikah sama tukang cilok, apa salahnya? Toh, dia punya pekerjaan. Yang penting, pekerja keras dan bertanggung jawab, kenapa nggak? Lagian, cilok Mang Dadi, enak kok! Echi suka."
Nessa menepuk dahinya mendengar jawaban saudarinya yang terdengar bersungguh-sungguh. Sementara, Varissa sudah tertawa terbahak-bahak mendengar kepolosan yang terdengar penuh kesungguhan dari mulut Nessi.
"Loh, kok kayak nggak percaya gitu?" tanya Nessi dengan polosnya.
"Kasihan kenapa? Kan, Echi bisa kerja buat memenuhi kebutuhan Echi sendiri. Jadi, Echa nggak usah khawatirin Echi."
"Aku nggak kasihan sama kamu," sergah Nessa. "Aku kasihan sama suami kamu. Mana sanggup dia memenuhi kebutuhan si anak manja? Paling kamu kerja, seminggu dua Minggu juga udah minta resign. Terus, ujung-ujungnya, yang susah malah suami kamu. Jangankan tukang cilok, pengusaha besar aja, belum tentu sanggup menuhin kebutuhan kamu, Chi!"
"Siapa bilang kebutuhan Echi banyak?" dengus gadis yang terkenal manja itu.
Nessa menghela nafas panjang. "Apa perlu aku rinciin berapa banyak biaya yang harus Papa keluarkan setiap bulannya cuma buat kamu? Kebutuhan aku aja, bahkan belum sampai sepertiga dari kebutuhan kamu."
"Udah, ya!" Varissa menengahi. "Ini acara bahagia Kakak loh, Adik-adik! Apa bisa, kalian akur dulu demi Kakak? Setidaknya, hanya untuk hari ini aja. Gimana?" pinta Varissa penuh harap.Kepalanya terasa pusing mendengar perdebatan dari kedua putri kembar Dokter Imran itu.
"Iya deh, iya. Demi Kak Icha, Echi sama Echa nggak akan berantem lagi."
"Janji?" Varissa menyerahkan dua kelingkingnya ke arah Nessa dan Nessi.
__ADS_1
"Janji," jawab dua gadis itu dengan kompak sambil meraih masing-masing jari kelingking Varissa.
Di tempat yang tak jauh dari mereka, Dikta tampak tersenyum kecil melihat tawa lebar Varissa yang sedang asyik bercengkrama bersama Nessa dan Nessi. Cukup melihat Varissa sebahagia itu saja, sudah memberi perasaan senang yang luar biasa untuk Dikta. Seolah-olah, dia tak butuh apapun lagi didunia ini. Cukup dia. Cukup wanita itu saja.
"Ngelihatin apa, Ta?" tegur Dokter Imran.
Dikta menggeleng. Sedikit tertunduk sambil tersenyum tanggung.
"Lihatin Varissa ya?" goda Dokter Imran.
"Bukan kok, Om!" sangkal Dikta dengan pipi yang terasa memanas. Tapi, yang namanya mata selalu
tak bisa bohong. Bibir boleh menyangkal, tapi mata seolah tak bisa lepas dari sosok wanita cantik yang sedang duduk diantara dua gadis manis nan menggemaskan yang letaknya tak terlalu jauh dari tempatnya sekarang.
"Dijaga ya, Ta!" Dokter Imran menepuk bahu Dikta sembari ikut menatap lekat sosok Varissa.
"Maksud Om?" tanya Dikta tak mengerti.
"Varissa," lirih Dokter Imran. Sepasang matanya yang dibingkai kacamata bening tampak berkaca-kaca. "Tolong jaga dia baik-baik." Dokter Imran kembali menatap Varissa. "Dia sudah pernah terluka sekali. Tolong jangan buat dia merasakan luka yang sama untuk kedua kali."
Dikta terdiam sesaat. Menatap lamat-lamat sosok Dokter Imran yang tampak menyeka sudut matanya yang basah. Rasanya seperti sedang melihat seorang Ayah yang akan melepaskan putrinya untuk lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Kok nggak dijawab?" Dokter Imran menepuk bahu Dikta dengan keras.
"I-iya, Om!" angguk Dikta cepat.
"Sampai kamu bikin Varissa menangis, ku sunat dua kali, kamu!" ancam Dokter Imran serius.
Dikta sontak meneguk ludahnya kasar. Ancaman itu tidak main-main.
Dokter Imran lalu menaikkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Mengarahkan ke matanya lalu ke mata Dikta.
__ADS_1
"Ingat! Mata ini selalu mengawasi kamu!" ancam pria paruh baya itu lagi.