
Sampai di apartemen, Dikta bergegas menuju ke dalam kamar. Buru-buru, dia menghampiri nakas dan membuka laci kecil di bawahnya secara serampangan. Sebotol obat yang sudah lama tidak dia sentuh berusaha dia cari dengan sisa tenaga. Tubuh yang gemetar serta nafas yang kian sesak benar-benar menyiksanya dan memaksa dia harus meninggalkan Varissa sendirian di rumah sakit beberapa saat yang lalu.
Berhasil menemukan benda yang dia cari, Dikta segera membuka botol obat berwarna putih itu. Dia lalu mengeluarkan sedikitnya tiga pil berbentuk bulat dari dalam botol tersebut kemudian memasukkannya ke dalam mulut sebelum meraih segelas air putih yang memang selalu tersedia di atas nakas. Setelah sekian lama, penyakit itu akhirnya kembali kambuh karena ingatan masa lalu yang juga perlahan mulai kembali.
"Kenapa bukan kau saja yang mati, hah? Kenapa hanya kau yang selamat sementara anak-anakku tidak?"
"Pembunuh! Kamu yang membunuh Kakakku, kan? Ayo, ngaku! Dasar anak psikopat!"
Bisikan-bisikan itu membuat telinga Dikta terasa sakit. Dengan kedua tangannya, dia berusaha menutup telinga agar suara-suara itu tak lagi bisa terdengar.
"Aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh!" Dikta menggeleng keras dalam posisi meringkuk di sudut kamar sambil terus menutup telinganya. Dia menangis dalam keheningan. Tak satu pun yang pernah tahu seperti apa lukanya. Seperti apa sakitnya dan seperti apa traumanya.
Semua itu dia simpan sendiri semenjak Hadi Ananta meninggal. Hanya pria itu yang tahu serapuh apa dirinya selama ini. Hanya pria itu yang tahu sebesar apa lubang yang tercipta di dalam hatinya akibat trauma dibuang oleh keluarganya sendiri di masa lalu.
Dia yang berharap untuk mendapatkan tempat bersandar pada keluarga besarnya usai kehilangan kedua orangtua beserta saudara dalam musibah yang tidak pernah dia inginkan, malah dihujat dan disalahkan atas tragedi naas itu. Tak satu pun keluarga yang berada disisinya saat itu. Semua memandang Dikta seperti seekor predator yang harus dijauhi bahkan di musnahkan.
"Jangan tatap Dikta begitu, Nek! Aku bukan pembunuh!" teriaknya sambil terus menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut yang dia tekuk.
Wajah Neneknya kala itu. Juga wajah Paman dan Bibinya masih Dikta ingat sampai sekarang. Pandangan mata yang menghakimi itu terus menerornya setiap malam. Meski telah menghilang beberapa waktu belakangan, teror itu kembali menghantuinya.
Dikta sudah pernah dibuang dan sangat tahu bagaimana sakitnya perasaan itu. Dan, Varissa juga mengalami hal yang sama dari keluarga Erik. Apa salah jika Dikta hanya ingin membela Varissa dari orang-orang seperti itu?
*****
"Loh, Va? Belum pulang? Diktanya mana?" tanya Dokter Indi, dokter kandungan yang ditemui Varissa dan Dikta untuk berkonsultasi mengenai program hamil yang tengah mereka rencanakan.
Memang, keduanya berniat ingin cepat-cepat memiliki bayi setelah menikah. Mereka tak ingin menunda lama karena Varissa sendiri sudah sangat lama menginginkan kehadiran seorang anak. Tak ingin berakhir dengan kasus serupa seperti Erik, dia akhirnya memutuskan untuk berkonsultasi kepada Dokter Indi yang merupakan teman akrab berbeda jurusan saat kuliah dulu.
"Udah pulang duluan," jawab Varissa seraya menghapus jejak air mata yang masih tersisa.
__ADS_1
"Kok kamu di tinggal?"
Varissa tersenyum getir. Wanita itu tertunduk seraya menggeleng lemah. Berusaha menahan tangis yang sepertinya akan kembali pecah.
"Va?" Dokter Indi menyentuh pelan bahu Varissa. "Cerita, kenapa? Berantem, ya?" tanyanya sambil memutar tubuh Varissa agar berhadapan dengannya.
Varissa lagi-lagi mengangguk. Dan, benar saja! Tangis itu kembali pecah didalam pelukan teman baiknya itu.
"Aku yang salah, Ndi!" ucap Varissa di sela isakan tangisnya.
"Udah, Va! Kamu jangan nangis, ya! Cerita ke aku! Ada apa? Kenapa kalian bisa berantem?" tanya Dokter Indi prihatin.
Dokter spesialis kandungan itu benar-benar tidak mengerti dengan situasi yang saat ini terjadi. Pasalnya, beberapa saat yang lalu, Varissa dan Dikta tampak baik-baik saja. Keduanya bahkan terlihat begitu kompak dan mesra.
"Saran aku, mending kamu biarin dia tenang dulu. Kamunya juga harus tenang. Biar, kalau nantinya kalian ketemu dan ingin menyelesaikan masalah, nggak pakai berantem-berantem lagi!" kata Dokter Indi usai mendengar keseluruhan cerita.
"Mungkin, akunya yang memang nggak peka, Ndi! Aku kurang bisa ngertiin perasaan Dikta padahal dia sendiri sudah berusaha bikin aku bahagia selama ini," tutur Varissa.
Pertanyaan itu sontak membuat kepala Varissa terangkat.
"Maksud kamu?"
Dokter Indi mengendikkan bahunya. "Ini cuma perasaan aku aja, sih! Cuma, berdasarkan dari cerita kamu tentang dia yang nggak terlalu terbuka sama masa lalunya, mungkin aja dia lagi berusaha menutupi sesuatu."
"Tapi, selama ini dia kelihatan baik-baik aja, kok!"
"Permukaan yang tenang nggak selamanya aman, Va! Buktinya, tadi dia meledak 'kan? Siapa tahu aja, meledaknya dia dan masa lalu dia saling berkaitan," ucap Dokter Indi penuh keyakinan.
"Tapi, gimana nyari tahunya, Ndi? Dikta aja selalu ngeles saat aku tanyain!"
__ADS_1
Kedua alis Dokter Indi tampak mengernyit. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan ponsel yang berada dalam genggaman tangannya sambil berpikir keras.
"Coba tanya ke Dokter Imran. Siapa tahu aja, beliau sedikit tahu cerita tentang masa lalu Dikta dari mendiang Papa kamu!"
Varissa mengangguk penuh semangat. Iya juga, ya? Kenapa dia tidak sampai kepikiran ke arah situ? Padahal, Varissa yang paling tahu bahwa Papanya semasa hidup tidak pernah menyembunyikan apapun kepada Dokter Imran. Dan, mungkin saja, Papanya juga pernah bercerita tentang masa lalu Dikta.
"Ya udah, yuk! Aku anter kamu pulang aja!" ucap Dokter Indi usai melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Nggak usah, Ndi! Aku nanti ngerepotin kamu!" tolak Varissa tak enak.
"Udah! Selow lah, Va! Kita kan, teman! Nggak ada istilah saling merepotkan dalam hal pertemanan," jawab Dokter Indi yang menanggapi dengan ringan.
Mau tak mau, Varissa akhirnya pulang dengan diantar oleh Dokter Indi. Namun, tidak kerumahnya, melainkan ke rumah Dokter Imran. Permasalahan ini harus cepat selesai mengingat pernikahan dia dan Dikta yang akan berlangsung sekitar seminggu lagi
"Va? Kok larut malam gini, datangnya?" tanya Tante Hesti sedikit bingung.
"Om Imran ada, Tan?" tanya Varissa.
"Ada tuh, diatas! Kamu langsung ke ruang kerjanya aja. Nanti Tante nyusul sekalian bawain kamu minum, ya!"
"Makasih, Tante!" jawab Varissa tersenyum seraya melangkahkan kaki sedikit terburu-buru menuju lantai dua tempat dimana ruang kerja Dokter Imran berada.
"Varissa?" Dokter Imran menyapa sambil mempersilahkan wanita muda itu untuk masuk.
"Om, Va boleh tanya sesuatu ke Om?"
Dokter Imran menyipitkan kedua matanya. Sepertinya ada sesuatu yang janggal mengenai kedatangan Varissa malam ini kerumahnya.
"Mau tanya apa, Va?" tanya Dokter Imran sambil memperbaiki letak kacamatanya.
__ADS_1
"Ini tentang masa lalu Dikta, Om!"