Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Bom waktu


__ADS_3

Tak banyak kisah yang bisa Varissa ingat tentang masa lalu Dikta. Kini, dia baru menyadari hal itu. Tentang bagaimana dulu Dikta di masa kecilnya. Tentang bagaimana pribadi dia dulu ketika masih hidup bersama keluarganya, Varissa sama sekali tidak tahu apa-apa.


Segala tentang masa lalu calon suaminya mendadak abu-abu. Seperti ada sebuah tembok pertahanan yang selalu Dikta bangun setiap kali seseorang hendak bertanya lebih jauh. Bahkan, Varissa sekalipun tidak pernah mendapatkan cerita yang lengkap tentang masa kecil Dikta dan bagaimana keluarganya sampai sekarang. Yang diberikan Dikta setiap kali Varissa bertanya hanya senyuman. Mengatakan masa kecilnya biasa-biasa saja dan tak ada hal yang berkesan yang mesti di ingat.


Kejadian barusan juga menyentak pikiran Varissa. Tentang bagaimana membaranya amarah di mata Dikta ketika Erik mencoba memprovokasinya. Sisi yang tidak pernah Varissa lihat dari Dikta kemudian keluar. Membuat wanita itu seketika mematung dan seolah tak percaya bahwa lelaki yang melemparkan uang serta menghina mantan suaminya itu adalah lelaki yang sama yang selalu memandang dan bertutur kata terhadapnya begitu lemah lembut.


Hingga saat ini, tangan Dikta masih terkepal keras. Tatapan matanya masih sama seperti tadi dan seolah tengah merencanakan sesuatu. Terlebih lagi, nafas yang biasanya mengembus secara teratur darinya, kini memburu penuh amarah.


"Ta...," Varissa berusaha menyentuh kepalan tangan Dikta.


Namun, wanita itu lantas terkesiap saat Dikta ternyata merespon sedikit agresif. Dia menyentak tangannya kasar namun mendadak melemah saat melihat ternyata yang berada disampingnya adalah Varissa. Orang yang dia cintai.


"Maaf, aku nggak bermaksud," kata Dikta pelan. Terbersit rasa bersalah di sepasang matanya.


Varissa tersenyum maklum. Wajar jika Dikta masih marah. Apalagi, tadi dirinya terkesan membela Erik dan cenderung menyalahkan Dikta yang jelas-jelas bereaksi seperti itu demi menjaga harga dirinya.


"Nggak seharusnya kamu menghina Mas Erik sampai segitunya, Ta!" Varissa memberanikan diri membahas permasalahan tadi. Meskipun, tak bisa dia pungkiri bahwa berbicara dengan sosok Dikta yang semarah ini, jelas memberi tekanan luar biasa pada batin Varissa. Akan tetapi, permasalahan ini harus selesai malam ini juga. Dia tak ingin berkelanjutan dan malah akan menjadi pokok pemancing masalah untuk hubungan mereka di masa depan.

__ADS_1


Lelaki itu mendengus marah. Dia tak berbicara namun matanya cukup memberitahu Varissa bahwa dia sedang memprotes keras ucapan Varissa.


"Mas Erik baru saja kehilangan Papanya. Mungkin, dia cuma sedang butuh pelampiasan amarah. Biar bagaimanapun, pelaku pembunuhan Papa Harun adalah Mauren. Istrinya Mas Erik," terang Varissa dengan sedikit bergetar.


Dikta masih bergeming. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat terkejut. Sebaliknya, bibir kemerahan miliknya malah menyunggingkan senyum sinis. Seolah, sudah memperkirakan semua itu akan terjadi.


"Ta?" Varissa menyentuh pelan bahu lelaki itu. "Kenapa ekspresi kamu kayak gitu? Kamu senang, Mas Erik kena musibah kayak gini?"


Takut-takut, Varissa menunggu jawaban dengan perasaan gugup. Mustahil kan, calon suaminya tidak punya hati? Sekalipun, Erik sudah berbuat hal melewati batas terhadap dirinya, namun Dikta seharusnya masih menghargai kedudukan Erik sebagai manusia. Toh, dia dan Erik kini sudah tak memiliki ikatan apa-apa. Mereka sudah berubah menjadi orang lain meski tak bisa dikatakan asing satu sama lain.


"Itu karma untuk keluarga dia." Dikta menjawab tanpa ragu.


"Apa bedanya aku dan mereka?" Mata tajam itu menantang Varissa untuk pertama kali. "Ketika mereka semua bersekongkol untuk merebut harta peninggalan Papa Hadi dan berencana membuang kamu, apa mereka bersimpati? Apa mereka pernah berpikir bahwa anak yatim piatu seperti kamu harusnya di sayang dan bukannya malah ditusuk dari belakang seperti itu?" Sepasang mata Dikta mulai memerah.


"Nggak, Va!" geleng Dikta penuh emosi. "Seandainya di malam kecelakaan itu kamu benar-benar meninggal, apa menurut kamu mereka akan menangis?"


Varissa menelan ludahnya dengan payah. Apa-apaan ini? Emosi apa yang sebenarnya Dikta pendam didalam dada yang naik-turun itu? Kenapa luka yang tergambar dimatanya semakin menjadi?

__ADS_1


"Itu semua udah lewat, Ta!" bentak Varissa sembari menahan air mata. Dia tahu bahwa Dikta mencemaskannya. Namun, bukan berarti hal itu harus merubah Dikta menjadi batu. Bukan berarti lelaki itu harus mati rasa terhadap sekitarnya. TIDAK! Varissa ingin Dikta hidup sebagai manusia dengan emosi yang sempurna. Tidak melulu hanya dendam yang terkumpul didalam dirinya.


"Ya, itu semua udah lewat!" angguk Dikta membenarkan. Kali ini, air matanya benar-benar telah luruh. "Kamu boleh memaafkan mereka secepat ini. Itu hak kamu. Tapi, apa salah jika aku tetap menyimpan dendam itu? Gara-gara lelaki sialan itu, aku hampir nggak bisa ngelihat kamu lagi seumur hidup!" Rahang Dikta mengetat menahan luka yang kembali harus menganga lebar saat mengingat kecelakaan yang dulu nyaris merenggut Varissa. Kata-kata Dokter Imran yang mengatakan bahwa jika terlambat sedikit saja Varissa di bawa ke rumah sakit, maka nyawanya akan melayang, masih terus membayang di benak lelaki berparas tampan itu.


"Selama ini, aku selalu berpikir bahwa cukup dengan menjaga kamu dari jauh dan membiarkan kamu bahagia dengan lelaki pilihan kamu sendiri, itu udah bikin aku bahagia, Va! Dan, memang benar. Aku sudah sangat bahagia saat orang yang aku minta untuk mengawasi kamu mengirim foto kamu setiap hari ke aku. Aku tertawa saat aku lihat kamu juga tertawa meski dengan Erik dan bukannya sama aku. Aku sangat mensyukuri itu, Va! Tapi...," Air mata lelaki itu kian deras mengalir. "Ketika orangku mengabarkan bahwa kamu kecelakaan, kamu pikir aku sanggup untuk berdiri lagi, Va? Nggak!"


Dikta menggelengkan kepala. Dan, Varissa hanya bisa mematung tanpa bisa melakukan apa-apa. Pertemuan tak sengaja mereka dengan Erik di rumah sakit benar-benar meledakkan bom waktu yang ada di diri Dikta.


"Susah payah kaki ini aku seret kemari. Susah payah nafas ini aku sambung untuk tetap bertahan hidup. Setidaknya, sampai aku tahu kalau kamu baik-baik aja. Dan..., saat aku semenderita itu. Saat kamu juga semenderita itu, Erik dan keluarganya malah bahagia. Mereka berpesta merayakan penderitaan kamu. Tidak satu pun dari mereka yang datang menjenguk atau bahkan menanyakan kabar kamu. Lalu, kamu tetap meminta aku memaafkan dan melupakan kesalahan mereka? Nggak semudah itu!"


"Ta... Aku...,"


Varissa kini tersedu-sedu. Baru kali ini, Dikta menolak untuk dia sentuh. Bahkan, lelaki itu malah memutar tubuhnya. Pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi kepada Varissa.


"Jahat! Kalau kamu sesakit itu selama ini, kenapa di pendam sendiri?" gumam Varissa sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


Kini dia menyadari satu hal dalam hubungan mereka. Hanya Dikta yang selama ini selalu bergerak untuk membahagiakannya. Sementara, Varissa sendiri belum pernah melakukan apa-apa untuk Dikta. Dia bahkan tidak tahu jika lelaki itu memendam luka yang begitu besar didalam hatinya. Lalu, dengan mudahnya dia menunjukkan senyum mempesona tanpa beban pada Varissa dan berhasil menyamarkan luka itu dengan sempurna.

__ADS_1


"Aku yang bodoh! Maaf!" tutur Varissa menyesal sambil terus tertunduk meratapi kebodohannya yang tidak pernah peka pada perasaan Dikta yang sebenarnya. Satu pertanyaan lagi muncul di benak Varissa. Sudahkah dia melakukan sesuatu yang benar untuk Dikta selama ini?9


__ADS_2