Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Gelap mata


__ADS_3

Retno masih terisak sambil terus memegang dadanya yang terasa sakit. Tak pernah dia sangka bahwa suami yang selama ini telah mendampinginya dalam suasana suka dan duka selama puluhan tahun bisa sampai hati berbuat serong bersama menantunya sendiri. Yang lebih miris lagi, Mauren dan Harun sudah berhubungan sejak lama. Saat Erik dan wanita itu masih berstatus pacaran diam-diam dibelakang Varissa.


"Bodoh sekali aku ini!" ringisnya menyalahkan diri sendiri.


Kini, dia tahu kemana semua uang yang dihasilkan sang suami raib. Mulai dari omset restoran yang dulu mereka kelola, hingga upah kerjanya sekarang yang menjadi kuli, itu semua mengalir masuk ke dalam kantong menantunya sendiri.


"Kamu benar-benar tidak punya adab, Pa! Binatang! Tega sekali kamu menyakiti kami!" imbuh Retno penuh rasa kecewa.


Harun hanya terus tertunduk diam. Semua memang salahnya yang begitu gampang tergoda dalam bujuk rayu Mauren. Siapa sangka, jika hubungan yang awalnya hanya untuk sekedar bersenang-senang tanpa ada rasa, malah berubah menjadi petaka besar akibat kehamilan Mauren.


"S*Al!" umpat Erik seraya meninju tembok usang dinding rumah mereka. Lelaki itu menyisir rambutnya dengan kedua tangan. Gelisah, marah dan kecewa bercampur menjadi satu dalam dirinya.


"Kenapa harus Mauren, Pa?" tanya Erik kepada Papanya. Andai. Andai ingin berselingkuh pun, apakah harus istrinya yang dipilih oleh sang Papa?


"Dia yang terus-menerus menggoda Papa, Rik! Bukan Papa yang memulai!" terang Harun membela diri.


Erik mengusap wajahnya kasar. Dia tertawa sinis. "Tapi, Papa mau juga, kan?" Ditatapnya Harun dengan nanar. "Kenapa Papa tidak bilang ke Erik atau Mama pada saat itu?"


Harun kembali tertunduk dengan mata terpejam. Hancur sudah rumah tangga yang selama ini ia bina hanya karena nafsu sesaat yang kini telah menyesatkannya. Ingin kembali, mustahil keluarganya masih akan menerima. Apalagi, ada janin miliknya yang kini berada didalam perut menantunya sendiri.


"Aku mau cerai!"


Kalimat yang paling ditakuti Harun akhirnya tercetus juga dari mulut Retno. Wanita paruh baya itu bergegas bangkit dengan bantuan putranya. Ditatapnya nyalang, wajah Harun yang tampak begitu terkejut mendengar keputusannya.


"Kamu boleh tinggal disini dengan perempuan j*l*ng itu! Aku dan anak-anakku akan pergi dari sini!" putus Retno kemudian. Untuk apa mempertahankan lelaki yang sama sekali tidak tahu moral seperti Harun.


"Tidak bisa begitu, Ma! Kamu tidak bisa memisahkan aku dengan anak-anak," tolak Harun panik.


"Setelah semua yang Papa lakukan ke kami, Papa masih ingin berkata kalau Papa menyayangi kami? Begitu?" Erik berucap dengan menggebu-gebu. Dadanya naik-turun menahan sesak yang luar biasa menyiksa. Andai Harun bukan Ayahnya, maka sudah pasti tinju Erik sudah melayang sejak tadi secara membabi-buta.

__ADS_1


"Tolong, Rik! Papa benar-benar menyesal! Maafkan Papa, Nak!" Harun ikut berdiri. Berusaha menyentuh bahu Erik namun ditepis oleh lelaki itu.


"Mulai sekarang, Papa bukan Papaku lagi."


Didalam kamar, Mauren mendengar pertengkaran satu keluarga itu dengan wajah tersenyum puas. Enak saja, Erik dan Retno ingin menyingkirkannya begitu saja. Jika ingin ke neraka, maka Mauren akan menyeret mereka semua bersama-sama.


Dua jam kemudian berlalu, suasana rumah berubah menjadi hening. Bisa Mauren prediksi bahwa ibu mertua serta suaminya pasti sudah pergi. Lalu, perlahan wanita hamil itu keluar dari dalam kamar. Berniat menuju dapur untuk mengambil makanan dan minuman demi mengisi perut yang terasa lapar sedari tadi.


"Gara-gara kamu, keluargaku jadi begini, Mauren!"


Gerakan tangan Mauren yang sedang menyendok nasi ke piring terhenti. Wanita hamil itu menghela nafas panjang. Ia lalu memutar tubuhnya dan menemukan Papa mertua sekaligus ayah kandung dari anaknya itu sudah berdiri disana sambil memegang sebilah pisau dapur.


Mata Mauren sontak membulat. Ketakutan menjalar memenuhi tubuhnya. Untuk menelan saliva saja, rasanya ia sudah tak mampu.


"Pa-Papa ngapain pegang pisau kayak gitu?" tanya Mauren gugup. Piring yang sudah berisi setengah nasi miliknya ia genggam erat. Bersiap untuk kemungkinan terburuk yang terlintas dalam benaknya.


"Istriku, anak-anakku... Semuanya pergi gara-gara kamu, Mauren!" tukas Harun dengan tatapan kosong. Langkahnya semakin lama semakin mendekat pada Mauren.


"Gara-gara kamu! Ini semua gara-gara kamu!" Pisau itu terangkat. Mengayun diudara dan hampir mengenai leher Mauren.


"Pa... Tolong sadar, Pa!" ucap Mauren seraya mencoba kabur.


Sial!


Jalan keluar sudah diblokir Harun. Lelaki paruh baya itu berhasil menyudutkan Mauren disudut dapur.


"Lebih baik kita mati saja, Mauren! Ayo mati bersama!" ucap Harun sembari mengayunkan pisaunya lagi ke arah Mauren.


PRANG!!

__ADS_1


Piring yang tadi dipegang Mauren jauh lebih dulu terbang dan mengenai tangan Harun. Dalam sekejap, pisau yang digenggam pria paruh baya itu terjatuh dari tangan ke lantai.


"Akh!" pekik pria tua itu kesakitan.


Hal tersebut lekas dimanfaatkan oleh Mauren dengan cepat . Wanita yang sedang hamil itu segera menunduk mengambil pisau tersebut dan menodongkannya ke arah Harun.


"Ja-jangan mendekat, Pa!" ujar Mauren memperingatkan dengan suara bergetar.


"Kembalikan pisaunya, Mauren!" pinta Harun yang tak mengindahkan peringatan Mauren. Lelaki itu maju secara membabi-buta mendekati Mauren dan... pisau yang digenggam erat oleh Mauren kini tertancap sempurna ke dalam perutnya.


"Pa...," pekik Mauren tertahan. Seluruh tubuhnya gemetar karena takut. Terlebih lagi, saat dia menyaksikan tubuh Harun perlahan merosot ke lantai dan akhirnya tumbang.


"Apa yang udah aku lakukan?" tangis Mauren syok. Kedua tangannya kini berlumur darah. Sementara, Ayah mertuanya sudah terbaring meregang nyawa diatas lantai dapur yang dingin.


Tangan Harun terangkat hendak memegang Mauren. Mulutnya tampak terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun, Mauren kini seolah tak peduli. Dibenaknya hanya terlintas satu ide yaitu bagaimana caranya melarikan diri.


"Aku harus pergi sebelum ada orang yang kemari!" ucap Mauren sembari berlari menuju kamarnya.


Seluruh barang yang masih bisa dia jual didalam rumah itu ia masukkan ke dalam koper. Mauren harus kabur secepat yang dia bisa.


*****


"Papa...," pekik Tika ketika dia sampai rumah dan malah menemukan Papanya tergeletak bersimbah darah dilantai dapur rumah mereka. Gadis itu bergegas mendekati sang Ayah. Menangis tersedu-sedu sembari memegangi tubuh Ayahnya.


"M-Mauren...," ujar Harun terbata. Tenaga yang tersisa ia kerahkan untuk menyebut nama itu.


"Mbak Mauren yang bikin Papa begini?" tanya Tika.


Harun mengangguk. Tangan putrinya dia genggam dengan erat saat kesakitan itu semakin bertambah kuat terasa.

__ADS_1


"Papa...," tangis Tika histeris.


"M-Ma-af...!" Ada butir air mata yang terjatuh dari sudut mata Harun. Setelahnya, pria tua itu akhirnya melepaskan tangan Tika dan berakhir tak sadarkan diri.


__ADS_2