Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Hasutan Dikta


__ADS_3

Gretha Indira, Aktris cantik berusia 39 tahun yang masih terlihat begitu seksi diusianya yang terbilang tak lagi muda. Penampilannya mempesona. Dengan tubuh langsing dan juga kulit putih bersih khas wanita keturunan Tionghoa. Dia adalah magnet dari perhatian orang-orang di jaman sekarang berkat kehidupan karir dan rumah tangganya yang sejalan beriringan nyaris sempurna.


Dan kini, wanita anggun itu sedang duduk berhadapan dengan seorang pria irit bicara didalam kantor agensinya. Pria yang dua hari lalu menghubunginya untuk memberitahu sesuatu yang sangat penting, katanya.


"Jadi, kenapa Anda ingin menemui saya?" tanya Gretha tanpa basa-basi. Pasalnya, setengah jam dari sekarang, dia harus sudah berangkat menuju lokasi syuting film terbarunya.


Pria dihadapannya tak berbicara. Hanya sebuah amplop besar berwarna cokelat yang ia sodorkan diatas meja untuk Gretha. Sontak, wanita cantik itu mengerutkan alis. Mengambil amplop tersebut dengan pikiran bingung.


"Apa ini?" tanyanya.


Pria itu masih belum mengeluarkan suara. Tangannya hanya memberi isyarat agar Gretha mau membuka amplop tersebut.


Nafas Gretha tercekat saat dia melihat apa isi amplop cokelat itu. Di hempaskannya amplop itu beserta isinya diatas meja dengan nafas yang memburu. Matanya mulai memerah melihat foto-foto yang ternyata adalah isi amplop itu. Menelisik satu persatu dengan tatapan marah dan terlihat enggan.


"Dasar lelaki buaya!" geram Gretha marah.


Pria yang duduk dihadapannya masih terdiam. Hanya ada seringai tipis yang menghias wajahnya saat melihat ekspresi marah Gretha. Dengan santai,dia meminum teh yang disuguhkan untuknya.


"Darimana Anda mendapatkan semua foto-foto ini, Pak Dikta?" tanya Gretha dengan suara bergetar.


Dikta meletakkan cangkir tehnya kembali diatas meja. Tatapan dingin menusuk yang ia miliki masih terus memperhatikan ekspresi amarah bercampur luka milik Gretha. Ya, ini yang dia inginkan. Melihat aktris terkenal itu murka dan membuat kekacauan yang merupakan kesenangan bagi Dikta.


"Anda cukup memanggilku Dikta saja," ucapnya santai. "Dan, Anda tidak perlu tahu darimana saya mendapatkan foto-foto itu. Yang terpenting, Anda tahu kalau suami Anda diam-diam kembali bermain serong dibelakang Anda."


Mata indah Gretha menyorot tajam lelaki tampan berambut panjang itu. Wajahnya mulai terlihat gelisah. Beberapa kali, ia tampak menjambak rambutnya sendiri.


"Jadi,kamu tahu kalau suamiku sebelumnya juga pernah selingkuh?" tanya Gretha yang tidak lagi merasa perlu berbicara formal.


Dikta kembali tak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil menyesap tehnya kembali.


"Saya rasa, kali ini Anda harus mengambil tindakan. Jika tidak, maka bisa jadi suami Anda akan melakukannya lagi dan lagi jika tidak diberi efek jera."

__ADS_1


Gretha memejamkan mata frustasi. Beberapa tetes air mata berhasil lolos dari netranya. Meski begitu, dia sebisa mungkin berusaha menguasai diri. Dia tak boleh terlihat lemah atau semua akan semakin memburuk.


"Jika media tahu, aku takut karirku akan hancur, Dikta!" lirih Gretha sambil mengusap hidungnya yang memerah. "Aku sangat mencintai pekerjaanku. Aku belum siap mundur dari industri ini hanya karena perselingkuhan suamiku. Lagipula, aku sangat mencintainya."


"Bukannya, hal ini malah akan semakin membuat karir Anda melejit?" Dikta mengangkat sebelah alisnya.


"Maksudnya?" tanya Gretha tak mengerti.


"Jaman sekarang, orang-orang suka dengan pertunjukan yang dramatis. Apalagi, topik perselingkuhan adalah hal yang paling dibenci hampir semua wanita di negara ini. Kenapa, tidak sekalian saja Anda memanfaatkan kesalahan suami Anda untuk menaikkan karir Anda? Dengan begitu, bukan hanya suami Anda saja yang akan jera. Tapi, dengan Anda memaafkan dia di depan banyak orang serta memberi hukuman pada wanita selingkuhannya, nama Anda akan semakin dikenal sebagai wanita yang punya hati yang baik sekaligus wanita yang kuat disaat bersamaan." Seorang pria lain yang berdiri dibelakang Dikta menyahut memberitahu. Ia tahu. Lelaki dihadapannya itu, tak akan pernah berbicara panjang lebar seperti itu dengan siapapun. Lagipula, dia sudah tahu. Tugasnya kemari memang untuk mewakili lelaki itu berbicara panjang lebar.


Gretha terdiam sejenak. Ucapan pria dibelakang Dikta memang ada benarnya. Mungkin, dengan cara itu akan membuat suaminya benar-benar berhenti berselingkuh.


"Tapi, bagaimana caranya?" tanyanya yang mulai tergiur dengan usulan Dikta.


"Buat dia dilihat banyak orang!" ucap Dikta dengan seringai yang jauh lebih lebar.


*********


"Dasar pelakor!" teriak Gretha sembari menyiram segelas air ke wajah salah satu staf administrasi dikantor suaminya.


"Apa-apaan sih?" teriak wanita yang di siram sambil berdiri dari kursinya. Wanita yang tengah hamil besar itu tampak sangat marah.


"Kamu yang menggoda suamiku, kan? Ayo, ngaku!" ujar Gretha sembari mengusap matanya yang sembap.


Para wartawan yang sengaja ia bawa mulai mengabadikan momen itu. Tak sedikit pun, dari momen itu yang ingin mereka lewatkan.


"Kok bawa kamera segala? Matiin, nggak?" Wanita hamil itu bergerak hendak merebut salah satu kamera yang menyorotnya.


"Kenapa kamu tega, hah? Kenapa kamu menggoda suamiku?" tanya Gretha seraya mendorong keras Mauren hingga jatuh.


"Sa-Sayang!" Cipto terlihat terkejut saat melihat sang istri datang bersama banyak wartawan. Lelaki itu bergegas menghampiri sang istri yang saat ini sedang menjambak rambut Mauren.

__ADS_1


"Jangan halangi aku, Pa!" teriak Gretha pada suaminya. Namun, lelaki itu tak mengindahkan peringatannya. Dia masih terus memeluk tubuh sang istri dan berusaha menjauhkannya dari Mauren yang sudah tersudut.


"Banyak orang, Ma! Kamu jangan bikin malu!" ujar Cipto setengah berbisik.


Gretha melerai pelukan sang suami. Wanita cantik itu masih mengeluarkan air mata. Ditatapnya Cipto dengan netra bergetar menahan luka. Ini sudah yang ke sekian kali, lelaki itu menyakiti hatinya.


"Apa kurangnya aku dibanding wanita ini, Pa?" Menunjuk Mauren yang masih terduduk seraya menutupi wajahnya karena malu.


"Maksud kamu apa?"


"Perempuan ini! Apa dia hamil anak kamu? Tega sekali kamu selingkuh dengan perempuan ini, Mas!" ucap Gretha sambil terisak.


"Tidak. Itu bukan anakku!" geleng Cipto cepat. "Demi Tuhan! Aku tidak menghamilinya, Sayang!"


"Bagaimana bisa aku percaya, Mas? Sementara, bukti perselingkuhan kalian ada ditanganku!"


Mata Cipto terbelalak kaget. Sekali lagi, jejak perselingkuhannya diketahui oleh sang istri. Gegas, ia segera berlutut. Memeluk kaki sang istri untuk memohon ampun seperti biasa. Demi apapun. Dia berani bersumpah bahwa dia berselingkuh hanya demi kesenangan semata. Bukan karena dia tak mencintai istrinya lagi. Apalagi, mereka sudah dikaruniai dua orang anak yang cantik dan tampan. Mana mungkin dia rela meninggalkan istrinya yang sudah menemaninya dari titik nol hingga berhasil meraih mimpi mereka masing-masing di masa sekarang.


"Maaf, Sayang! Aku bersalah! Tolong, maafkan aku sekali ini saja. Aku janji, ini akan jadi yang terakhir. Dan juga, perempuan rendah itu hamil, benar-benar bukan anakku." Cipto mulai gelisah. Menilik dari wajah sang istri, sepertinya dia menemui sesuatu yang janggal tak seperti biasanya.


"Sudahlah, Pa! Aku lelah! Lebih baik, kita bercerai! Dan, untuk kamu dan selingkuhanmu ini, aku akan mengajukan tuntutan untuk kalian berdua!"


Para wartawan terus menyorot wajah Mauren. Meski seperti apapun wanita itu berusaha untuk menutupi wajahnya, namun kamera wartawan tetap dapat menangkap wajahnya dengan baik.


"Ini semua gara-gara kamu, perempuan sampah!" umpat Cipto marah kepada Mauren. "Keluar dari sini! Kamu dipecat!" teriaknya sambil menyeret Mauren untuk pergi dari sana.


Mauren tak mampu berbuat apa-apa. Dia kalah. Menghadapi orang besar seperti Cipto apalagi Gretha, bukanlah sesuatu yang mudah tanpa bekingan dari pihak manapun. Mau tak mau. Suka atau tidak suka, Mauren harus tetap pergi. Bertahan disana malah akan semakin mempermalukan dirinya. Cibiran demi cibiran kini memenuhi telinganya. Sakit memang. Namun, melawan balik juga tak akan memberi dampak apapun selain rasa malu yang akan bertambah semakin besar dan besar.


"Aku sudah melakukan semua sesuai saranmu!" ucap Gretha melalui panggilan telepon.


Lelaki yang menerima panggilan itu hanya menyeringai. Senang mendengar kabar baik itu. "Katakan saja, kapan Anda butuh pengacara! Saya punya pengacara terbaik yang bisa memenangkan kasus ini untuk Anda. Saya jamin, hampir keseluruhan dari harta gono-gini akan jatuh ditangan Anda dan anak-anak Anda!"

__ADS_1


Gretha balas tersenyum. Yang dikatakan lelaki itu beberapa waktu lalu mungkin memang ada benarnya. Bertahan diatas luka malah akan menjadi racun yang perlahan bisa menghancurkannya dari dalam. Sebaliknya, melepas mungkin akan menjadi obat paling mujarab. Toh, dia hanya kehilangan suami yang bisa diganti dengan yang lebih baik jika dia mau. Ditambah lagi, anak-anak yang dicintainya masih terus berdiri disampingnya. Selalu memberi semangat bahkan mendukung keinginan sang Ibu untuk bercerai dari Ayah mereka.


__ADS_2