Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Permintaan maaf keluarga


__ADS_3

Tak mengapa sesekali seorang lelaki menangis. Karena, jika lelehan bening itu benar tumpah, maka itu keluar tulus dari hatinya.


Tak mengapa sesekali seorang lelaki menangis. Karena, dipundaknya tersimpan beban tanggungjawab terhadap keluarga yang begitu besar.


Tak mengapa sesekali lelaki menangis. Karena, jika itu benar terjadi, hanya karena satu alasan. Dia benar-benar terluka oleh orang-orang yang dia sayang.


Menangis tidak menunjukkan dia lemah. Menangis hanyalah cara untuk meluruhkan beban dan menandakan bahwa dia masih manusia biasa.


****


Butuh keberanian besar bagi Dikta agar mampu memijakkan kaki kembali di kota kelahirannya. Kondisi sudah banyak berubah. Gedung-gedung pencakar langit sudah banyak mendominasi kota yang dulunya terkesan masih sedikit tertinggal itu. Kini, Dikta bahkan merasa asing dengan kota kelahirannya sendiri usai kembali setelah sekian lama.


"Kamu nggak apa-apa kan?" Varissa menyentuh pelan punggung tangan lelaki yang duduk disebelahnya. Tersenyum hangat memberi kekuatan.


Hari ini, segala dari masa lalu Dikta harus selesai. Mereka kembali untuk memperjelas semua kesalahpahaman yang dulu mendarah daging dalam pikiran keluarga besar Dikta. Mereka kembali untuk menyelesaikan pertumpahan terakhir agar tak ada lagi yang mengganjal di hati.


Sekitar satu jam berkendara dari bandara, mereka tiba disebuah rumah besar dengan nuansa khas bangunan Belanda. Kondisi rumah itu sudah cukup usang dimakan usia. Tak banyak yang berubah selain cat yang sudah diperbaharui.


"Ta?" panggil Varissa saat menjumpai lelaki itu hanya tertegun dan enggan melangkahkan kaki. Kedua tangannya terkepal erat seolah menahan ledakan yang siap memporak-porandakan segala yang ada disekitarnya. Dengan cepat, Varissa segera meraih kedua kepalan tangan itu. Mengurainya lalu menyelipkan jari-jari mungilnya disela-sela jari-jari besar lelaki itu.


"Kita sekarang berdua. Nggak ada hal yang nggak bisa kita lalui bersama," ucap Varissa dengan keyakinan penuh di sepasang matanya.


Sebisa mungkin Dikta berusaha menarik nafas. Menenangkan kecemasan yang mulai berkecamuk hebat dalam dirinya.


"Cari siapa, ya?" Seorang tukang kebun yang kebetulan sedang merawat bunga-bunga dihalaman depan menegur mereka. Mata lelaki tua itu sedikit menyipit. Merasa tidak asing dengan wajah pria tinggi berambut panjang yang seolah tengah membuang muka saat dia datang.


"Kami mau ketemu Ibu Widya. Apa beliau ada?" tanya Varissa mewakili. Ia tahu, kondisi Dikta tidak dalam keadaan sepenuhnya mampu bertarung sendiri.


"Ibu sedang ke rumah Pak Wildan. Paling, sejam lagi baru pulang," jawab bapak tukang kebun sambil terus menatap Dikta dengan mengira-ngira. Ia yakin, mengenal pemuda itu disuatu tempat.


"Bapak bisa tolong telfon Ibu untuk pulang? Sekalian, minta tolong dipanggilkan Pak Wildan dan Ibu Sani sekalian."


Dikta tampak terperanjat. Matanya melayangkan protes kepada Varissa karena ucapan wanita itu.

__ADS_1


"Memangnya, kalian ini siapa, ya?"


"Tolong katakan, Pradikta Galuh ingin bertemu," ucap Varissa.


Diliriknya ekspresi Dikta yang matanya mulai memerah. Ada banyak emosi yang tergambar diwajah lelaki itu. Yang bisa Varissa lakukan hanya mendampingi lelaki itu. Berusaha membuatnya tetap kuat meski yang dia mampu lakukan hanya berdiri di samping Dikta memberi semangat.


Memang tak mudah bagi orang yang mengalaminya langsung. Sementara, kita yang sekadar memberi support tentu hanya mengatakan 'kamu bisa' tanpa berpikir bahwa tidak semua orang memiliki mental yang sama dalam menghadapi kasus serupa. Semua orang punya reaksi berbeda dalam menanggapi satu kasus. Namun, tetap berdiri disamping mereka dan terus menggaungkan kata 'kamu tidak sendiri' tentu akan memberi dampak meski sekecil butir beras.


"Den Dikta?" Bapak tukang kebun berjalan mendekat. Memegang lengan serta tangan Dikta dengan mata memerah.


"Ini benar Den Dikta?" tanyanya memastikan. Dipegangnya kedua tangan pemuda itu. Matanya berkaca-kaca melihat kembali bocah malang yang dulu dibuang oleh keluarganya sendiri.


"Ya Allah, Den! Kemana aja selama ini? Den Dikta sehat, kan? Luka bakarnya, gimana? Sudah sembuh?"


Mata Varissa langsung terbelalak. Luka bakar? Memangnya ada? Sementara, Dikta hanya menatapnya dengan tatapan penuh luka.


"Mang Dodi sehat?" Dikta memberanikan diri untuk mengeluarkan suara.


"Sehat, Den! Alhamdulillah! Aden gimana? Sehat juga, kan? Ya Allah, sudah jadi pemuda tampan rupanya. Mamang benar-benar bersyukur bisa ketemu Aden lagi!" Mang Dodi mengusap sudut mata yang berair.


"Varissa. Dia calon istri saya," ucap Dikta tersenyum.


Senyum pertama ketika dia tiba di kota kelahirannya itu.


"Aden udah mau nikah? Ya Allah, Mamang benar-benar nggak nyangka. Mana calon istrinya cantik begini." Mang Dodi menggelengkan kepala takjub.


"Masuk yuk! Mamang akan telfon Ibu segera!" ucap Mang Dodi menggebu-gebu.


Kini, mereka tiba di pertarungan yang sesungguhnya. Tepat ketika derap kaki yang terburu-buru terdengar memasuki ruang tamu, tangan Dikta sudah meremas kuat jemari Varissa. Dan, saat wajah tua yang sudah sangat lama tidak ia lihat itu muncul, Dikta sekejap mematung. Pun, dengan wanita tua itu. Ia menjatuhkan tas jinjing yang dipegangnya. Sementara, sepasang suami istri yang berdiri dibelakangnya hanya bisa saling berpegangan tangan. Saling berbagi kekuatan.


"Nenek!" Dikta berdiri. Segala badai telah berkecamuk dalam dadanya. Gemuruh hebat itu bercampur menjadi satu. Bersiap menjadi petaka yang kapan pun mampu menghancurkan Dikta.


Berbekal semangat dari Varissa dan sisa tenaga yang ia punya, Dikta melangkah mendekati Neneknya. Berniat mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkan Ayahnya itu.

__ADS_1


PLAK!!


Satu tamparan keras Dikta dapatkan di pipi kirinya. Varissa yang menyaksikan terpekik tertahan. Menutup mulut karena terkejut melihat adegan yang sama sekali tidak pernah ia prediksi. Sementara, Dikta hanya tertunduk. Mengangkat lagi wajahnya yang kembali dihadiahi tamparan keras di pipi sebelah kanan.


"Apa aku segitu tidak berharganya di mata Nenek?" Suara lelaki itu keluar seiring airmata yang juga mulai meluncur bebas.


"Andai bisa memilih...," Sesak berusaha Dikta singkirkan dari dadanya. "Lebih baik aku juga mati dalam kebakaran itu ketimbang harus hidup dengan kebencian menggunung dari kalian semua." Ditatapnya nyalang, sang Nenek, Paman dan Bibinya.


"Apa salah jika aku hanya mengikuti insting untuk bertahan hidup dengan melompat dari jendela waktu itu?" Tangisnya benar-benar seperti anak kecil. "Aku juga tidak tahu kenapa kebakaran itu bisa terjadi. Aku juga tidak tahu kalau orangtuaku dan Abangku tidak bisa menyelamatkan diri mereka. Apa itu semua salahku? Apa aku bersalah karena hanya aku yang hidup?"


"Apa kalian pikir, hanya kalian yang berduka karena kehilangan mereka? Apa kalian pikir, aku tidak?" Dikta memegang dadanya yang kian terasa sesak. "Aku sama terlukanya dengan kalian. Tapi kenapa? Kenapa kalian hanya bisa menyalahkan aku? Kenapa?" jerit lelaki itu putus asa.


"Bodoh!" Satu kata itu keluar dari mulut Widya, Nenek yang Dikta tahu begitu sangat membencinya.


"Aku? Bodoh?" tunjuk Dikta pada dirinya sendiri.


"Ya. Kamu anak bodoh! Kenapa kamu memilih pergi waktu itu, hah? Kenapa kamu tidak bisa menunggu sampai emosi Nenek mereda? Kamu seenaknya menghilang tanpa jejak. Apa kamu pikir, Nenek selama ini tidak mencarimu?" Gantian,kini Widya yang menumpahkan isi hatinya.


"Hanya karena Nenek marah sehari, bukan berarti Nenek benar-benar membencimu! Dasar, cucu bodoh!" tangis Widya sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Maaf!" ucapan itu Widya lontarkan dengan tulus. "Nenek akui, Nenek memang bukan orangtua yang bijak. Seenaknya,Nenek menuduh kamu. Melontarkan bahasa yang tidak sepatutnya kamu dengar diusia kamu waktu itu. Nenek benar-benar menyesal, Dikta! Maafkan, Nenek!" Tiba-tiba, Widya sudah bersimpuh dihadapan Dikta. Memohon ampun pada cucu yang dulu telah ia sakiti hatinya begitu dalam.


"Om dan Tante juga minta maaf!" Wildan dan Sani turut bersimpuh di kaki Dikta.


Dikta tak mampu berkata-kata lagi. Ia terisak sambil menggigit lengannya demi meredam suara tangis yang terdengar pilu. Sebuah khilaf sesaat yang dilakukan Nenek beserta paman dan Bibinya telah menyisakan luka yang mendalam. Namun, ternyata mereka sudah menyesali itu sedari lama. Sementara, mereka tak tahu bahwa dampak perbuatan mereka telah menyisakan perih yang begitu dalam selama bertahun-tahun dihati Dikta.


"Pasti berat kan, berjuang sendiri?" tanya Sani sambil mengusap puncak kepala keponakannya. Dia terlalu lambat menyadari bahwa hanya keponakannya itu, kenangan yang tersisa dari saudarinya yang telah meninggal. Bocah yang dulu harusnya dia jaga, malah tumbuh jauh dari rumah tanpa didampingi mereka.


"Aku pikir, aku benar-benar dibuang," lirih Dikta yang masih terisak dalam.


"Maaf! Kami yang sudah dewasa tapi tidak berpikiran dewasa kala itu. Kami benar-benar minta maaf!"


Varissa menyeka sudut matanya. Ia tersenyum sekaligus bersyukur. Kisah perih itu ternyata tidak selamanya berakhir perih. Sebaliknya, kini semua nampak indah. Benar kata pepatah. Selalu ada pelangi setelah hujan.

__ADS_1




__ADS_2