
"Ma, baju aku kok belum di cuciin, sih?" teriak Mauren sambil berkacak pinggang.
Dari arah dapur, Retno tergopoh-gopoh datang menghampiri menantunya yang sedang berdiri didepan tumpukan cucian kotor. Wajah wanita paruh baya itu tampak lelah. Lingkaran hitam memenuhi sekitaran matanya dengan rambut yang masih belum sempat di sisir rapi.
"Mesin cucinya rusak, Nak! Kamu bawa ke laundry aja, ya! Sekalian, Mama titip pakaian Papa dan Tika. Gimana?" jawab Retno sedikit merayu.
Wajah Mauren tampak tidak suka dengan usulan ibu mertuanya. Dia menarik sepasang setelan kantor dari keranjang cucian kotor kemudian melipatnya dengan rapi.
"Kalau rusak, ya di perbaiki," ketus Mauren.
"Uang darimana, Ren? Atau, kamu yang mau bayar biaya servisnya?"
Mata Mauren terbelalak mendengar ucapan Retno. Seketika, wanita yang usia kandungannya sudah hampir menginjak usia 7 bulan itu mendengus kasar.
"Apa Mama bilang?" tanya Mauren sembari meletakkan telapak tangannya ditepi daun telinganya. "Mama suruh aku untuk bayar biaya servis mesin cuci ini?" Dia menunjuk mesin cuci yang teronggok di samping pintu masuk kamar mandi.
Retno mengangguk penuh harap.
"Memangnya, aku ini ATM berjalan kalian?" maki Mauren marah. "Sudah untung aku kasih jatah buat kalian makan tiap bulannya. Belum cukup juga, hah? Sekarang, Mama mau minta aku untuk bayar servis mesin cuci butut ini lagi? Iya?" Mauren memukul-mukul permukaan mesin cuci usang yang memang sudah waktunya di ganti itu.
Wajah wanita paruh baya itu tertunduk dalam. Kedua tangannya saling meremas kuat. Airmatanya berusaha ia tahan untuk tidak tumpah.
"Mama ini juga Mama kamu, Ren! Kok kamu tega sekali bicara kasar ke Mama?"
"Memangnya, kenapa? Mama tersinggung? Iya?"
Retno menatap nyalang ke arah menantu perempuannya. Kedua rahangnya bergemelatuk menahan emosi yang sudah hampir mencapai ubun-ubun.
"Kalau memang tersinggung, mulai besok nggak usah minta uang dari aku untuk belanja kebutuhan makanan keluarga kalian."
"Ren...," Retno langsung melunak demi putrinya. Ya, demi Tika yang semakin hari semakin bertambah kurus dan cenderung mengurung diri di dalam kamar, dia harus rela mengorbankan harga dirinya didepan sang menantu.
"Mama nggak tersinggung, kok! Kalau kamu nggak mau, nanti Mama minta sama Papa buat benerin sendiri. Ya?" tuturnya menahan rasa perih didalam dada.
"Nah, gitu dong! Jangan bisanya cuma jadi beban hidup! Dasar keluarga benalu!" hina Mauren sambil berlalu meninggalkan ibu mertuanya yang masih tergugu menahan sesak.
__ADS_1
Mauren bergerak memasuki kamarnya dan menjumpai Erik yang rupanya masih terlelap ditempat tidur. Dalam sekejap, emosinya kembali meledak dan langsung menuju keluar lagi untuk mengambil air dan menyiramkannya ke wajah Erik.
Lelaki yang diguyur air langsung bangun dalam keadaan panik. Dia berdiri diatas kasur dengan kesal sambil mengusap wajahnya yang basah kuyup.
"Kamu apa-apaan, sih?" tanya Erik sambil turun dari tempat tidur.
"Kamu masih tanya, kenapa?" Mauren memelotot kesal. "Ini udah jam berapa, Mas? Enak aja, kamu masih enak-enakan molor!"
Erik meraih ponsel yang tergeletak diatas meja rias dengan wajah yang masih terlihat marah. Sementara, Mauren mengikuti pergerakannya sambil bersedekap.
"Baru jam 7 pagi, Ren!" dengus Erik. Lelaki itu kembali naik ke tempat tidur. Membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut dan tidur membelakangi Mauren.
"Mas!" pekik Mauren seraya menarik paksa selimut Erik.
"Apa sih?" teriak Erik marah. Dia kembali bangun.
"Mandi, Mas! Kamu harus cari kerja!"
Erik mendengus. "Cari kerja dimana lagi, Ren? Kamu tahu, kan? Kalau aku udah di black-list sama hampir seluruh perusahaan besar di negara ini?" tanyanya putus asa.
"Cari ditempat lebih kecil, kan bisa!"
Mauren berbalik. Berjalan menuju meja riasnya lalu memoles skincare rutin sebelum memakai make-up tebal khas dirinya.
"Ya, apa aja. Asal bisa menghasilkan duit dan nggak bikin aku jadi tulang punggung di keluarga benalu ini, nggak masalah!"
"Keluarga benalu, kamu bilang?" Merasa tersinggung, Erik menghampiri Mauren. Menatap penuh amarah pada wanita yang dulu begitu dia gilai sampai-sampai rela meninggalkan Varissa yang punya segalanya demi dirinya.
"Iya," angguk Mauren tanpa rasa bersalah.
"Kamu lupa, siapa yang udah bikin keluarga aku sampai bangkrut kayak gini?"
Wanita itu meletakkan lagi krim wajah yang sudah hendak ia poles di wajah. Matanya menatap malas pada suami yang saat ini sedang diliputi murka luar biasa.
"Kamu mau bahas hal itu lagi? Nggak bosan, Mas?" tanya Mauren tak bersemangat.
__ADS_1
Erik menarik nafas dalam. Sebisa mungkin dia mengembalikan pikirannya yang sudah hampir kehilangan kendali. Biar bagaimanapun, untuk saat ini dia harus banyak mengalah. Bukan hanya karena Mauren sedang hamil, namun karena wanita itu juga lah yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga yang paling mereka andalkan saat ini. Andai tak ada Mauren, mungkin dia dan keluarganya sudah jadi gembel di pinggir jalan karena seluruh aset mereka sudah di sita sebagai pelunas hutang biaya pernikahan megahnya.
Memilih tak melanjutkan pertengkaran, Erik segera mengambil handuk dari dalam lemari dan memutuskan untuk ke kamar mandi yang letaknya menyatu dengan dapur. Memang, sejak rumah yang dihadiahkan Varissa untuk kedua orangtuanya terpaksa di sita dua bulan lalu, Erik mau tak mau harus pindah ke rumah kontrakan yang kecil. Beruntung, ada 3 kamar didalam rumah itu meski letak kamar mandi satu-satunya berada didekat dapur.
Selepas mandi dan bersiap, Erik sarapan terlebih dulu bersama Tika. Mauren sudah pergi bekerja ketika dia sedang memakai baju. Begitu pula dengan sang Ayah yang berangkat jauh lebih pagi karena bekerja sebagai kuli bangunan.
"Sarapan nasi goreng lagi, Ma?" Terdengar helaan nafas dari hidungnya saat ia menjumpai menu yang sama selama hampir dua minggu terhidang di meja makan.
"Papa belum gajian, Rik! Istri kamu juga cuma kasih jatah dua puluh ribu perhari." Retno menjawab lemas.
"Kok dikit banget, Ma?" protes Erik dengan alis berkerut.
Retno mengendikkan bahunya sembari tangannya dengan lincah mengisi piring lalu memberikannya kepada Erik.
"Ya, mau gimana lagi? Istri kamu 'kan bukan Varissa lagi. Wajar kalau jatahnya cuma segitu."
Hati Erik mencelos perih. Rasanya tersindir sekaligus miris. Jelas memang perbedaannya antara beristrikan Varissa dan Mauren. Dulu, saat bersama Varissa, berapapun uang belanja yang di minta Mamanya, Varissa selalu menurutkan. Dan sekarang, saat dia bersama Mauren, segala sesuatu diberi seolah mereka pengemis yang sebatas dikasihani.
"Bang, motor Tika kapan diganti?" tanya Tika disela sarapan pagi mereka.
Erik meletakkan kembali sendoknya diatas piring begitu mendengar suara lemah adiknya bertanya dengan nada penuh harap.
"Secepatnya, ya! Tunggu Abang dapat kerja dulu!" jawab Erik lembut. Merasa kasihan karena Tika juga harus ikut terkena imbas dari hutang besar yang sudah dia ambil demi menaikkan gengsi. Motor matic seharga 34 juta milik adiknya juga termasuk dalam aset yang disita oleh penagih hutang. Padahal, lagi-lagi itu pemberian Varissa sebelum kecelakaan naas yang mantan istrinya itu alami.
"Kenapa, sih?" Airmata Tika berlinang. Dengan kasar, gadis itu meletakkan sendok di piring hingga dentingan keras terdengar.
"Kenapa Tika harus ikut-ikutan menanggung karma dari perbuatan Abang? Kalau seandainya dulu, Abang nggak selingkuh, mungkin Tika sekarang masih baik-baik aja," ujar Tika terisak.
"Tik...,"
Tika mengusap airmatanya. Sarapan yang baru sesendok mengisi perutnya ia abaikan. Gadis itu berdiri. Meraih tas ransel miliknya dengan kasar lalu beranjak pergi.
"Abang egois!" teriak Tika marah.
Sembari memejamkan mata, Erik menekuri segala kesulitan hidup yang kini tengah di hadapinya. Tak pernah sekalipun dia memimpikan akan sejatuh ini dalam hidupnya. Dia pikir, Mauren adalah pilihan terbaik yang pernah dia ambil dalam hidup. Namun, ternyata dia salah. Semua pilihan yang sudah dia ambil selama ini adalah salah.
__ADS_1
Ponsel yang berada didalam saku celana dia keluarkan. Dinyalakannya benda persegi panjang itu lalu mengecek pesan dan panggilan masuk. Kecewa. Orang yang dia tunggu-tunggu sejak hari pertama perceraian untuk menghubungi dan meminta rujuk kembali tak pernah melakukan hal itu.
"Apa kamu udah lupa sama aku, Va?" lirih Erik pelan.