
"Urut buat apa, Oma?" tanya Varissa tak mengerti. Jika urut pegal-pegal, maka lebih baik Varissa menolak. Tentu tidak enak jika dia membiarkan Bu Ami yang notabenenya tamu malah melakukan hal seperti itu.
"Mau cepat hamil, nggak?"
"Eh?" Varissa bertambah bingung. Diliriknya Nenek Widya, Wildan dan Sani bergantian. "M-mau," jawabnya terbata.
"Bingung, ya?" Nenek Widya terkekeh melihat ekspresi lucu Varissa. "Jadi, Bu Ami ini pintar ngurut biar bikin orang cepat hamil. Istilahnya, pijat kesuburan gitu loh!"
"Bukannya pintar, cuma membantu saja, Bu Widya. Perkara hamil atau tidaknya, ya itu takdir yang di atas." Bu Ami mengoreksi ucapan Nenek Widya.
"Tapi, yang Bu Ami urut, rata-rata langsung hamil, kan?"
"Iya sih, Alhamdulillah," jawab Bu Ami sedikit nyengir.
Seketika, bola mata Varissa dipenuhi binar. "Varissa mau, Oma!" ucapnya bersemangat. Apapun akan dia lakukan agar bisa cepat hamil.
"Waduh, nggak sabar sekali anak cantik ini," kata Bu Ami seraya mencubit pipi Varissa gemas.
********
"Jangan lupa, makan makanan yang sehat ya, Nak! Jangan capek sama jangan terlalu banyak pikiran. Oma yakin, dalam waktu dekat pasti kamu bisa hamil," kata Bu Ami usai mengurut Varissa.
Perempuan berkulit putih dengan dress selutut berwarna peach itu tersenyum. Dalam hatinya terselip ribuan doa yang meng-aminkan ucapan Bu Ami barusan.
"Ini Dikta, ya?" Bu Ami tergopoh-gopoh menghampiri pria berambut panjang dengan kulit putih yang baru ia lihat sejak kedatangannya dua jam yang lalu. "Benar Dikta, kan?" imbuhnya seraya menangkup kedua pipi lelaki tampan itu.
Sedikit canggung, Dikta mengangguk. Lalu, pelukan hangat ia terima dari Bu Ami yang terlihat begitu senang berjumpa dengannya.
"Ya Allah, Nak! Sudah sebesar ini kamu sekarang. Mana gagah pula," puji Bu Ami seraya menggelengkan kepala. Ditariknya Dikta menuju ke ruang tamu. Bergabung bersama keluarga yang lain yang sedari tadi setia menunggunya melakukan pijat khusus untuk Varissa.
Kagok sudah pasti Dikta rasakan saat dia harus duduk bersebelahan dengan sang Nenek. Pandangan mereka sempat bertemu lalu lekas ia beralih ke arah lain. Dan, Nenek Widya hanya tersenyum maklum. Wanita tua itu hanya bisa menghirup nafas dalam. Mencoba membesarkan hati dan mengumpulkan kembali tenaga demi mendapatkan kembali cucunya dengan utuh dalam pelukan.
"Sudah makan, Nak?" tanya Nenek Widya. Tangannya sengaja menggamit lengan sang cucu.
"Sudah," jawab Dikta datar.
Nenek Widya kembali tersenyum. Ah! Beku sekali sifat cucunya. Persis dengan sifat Almarhum putranya dulu. Tapi, Dikta terasa jauh lebih dingin dua kali lipat.
"Mumpung Bu Ami disini, kamu mau dibikinin Coto Makassar? Dulu, waktu kamu kecil, kamu kan suka sekali Coto buatan Bu Ami," ucap Nenek Widya antusias.
__ADS_1
Dikta menoleh ke arahnya sebentar. Lalu menoleh pada Bu Ami meminta persetujuan.
"Kamu mau? Oma bisa bikinin. Lagipula, besok baru Om Wilsyan datang jemput Oma dari Bandung."
Berpikir sejenak, akhirnya Dikta mengangguk malu-malu. Neneknya ternyata masih saja memegang senjata ampuh untuk meluluhkan kemarahannya. Dulu, jika sedang ngambek atau tak setuju dengan sesuatu, Coto Makassar buatan Bu Ami adalah sogokan paling ajib untuk membuatnya luluh. Dan, sepertinya hal itu masih berlaku hingga sekarang.
"Kamu mau sampai kapan diemin Nenek, Tante sama Om kamu, Ta?" tanya Varissa ketika mereka kini hanya berduaan saja sambil menonton televisi.
Wildan dan Sani sedang keluar untuk membeli beberapa keperluan. Sementara, Nenek Widya dan Bu Ami sedang sibuk berkutat di dapur membuat masakan kesukaan Dikta. Varissa sebenarnya ingin ikut membantu. Namun, dua orangtua itu melarang keras dan meminta Varissa bekerja di bagian mencicipi saja.
"Aku nggak diemin mereka," jawab Dikta. Dia yang sedang tiduran dipangkuan sang istri terdengar seperti orang yang tengah mengantuk berat.
"Terus, apa dong namanya? Daritadi mereka datang, aku belum pernah dengar kamu bicara sama mereka."
"Mereka 'kan nggak negur aku. Ngapain bicara kalau nggak ditegur," ucap Dikta seraya mengendikkan bahunya.
"Jadi, kamu nunggu ditanyain dulu? Kamu 'kan anak, Ta. Harusnya lebih mengalah."
"Kenapa anak harus selalu disuruh mengalah, Va?"
Pertanyaan Dikta sukses membuat Varissa mengerutkan kedua alisnya.
"Jadi, kamu menolak dekat dengan mereka?"
"Bukan menolak," geleng Dikta pelan. "Aku menunggu mereka mendekat ke arahku kembali seperti saat aku masih kecil."
Varissa menarik nafas dalam. Ini masalah baru bagi mereka. Namun, kasusnya tidak separah itu. Ada waktu yang berperan penting mendekatkan Dikta dan keluarganya kembali. Dan, Varissa percaya suatu hari kehangatan keluarga itu pasti akan kembali hadir disela-sela kehidupan sang suami.
"Tadi, ngapain kamu sama Oma Ami di kamar?" tanya Dikta mengalihkan pembicaraan.
"Urut kandungan. Katanya, biar cepat bisa isi," jawab Varissa sumringah.
"Kamu benar-benar udah nggak sabar pengen punya anak, Va?" tanya Dikta. Ia merubah posisinya menjadi telentang hingga bisa menatap wajah cantik Varissa dengan leluasa.
"Salah, kalau aku berharap?"
Dikta bungkam. Sepertinya, sang istri memang benar-benar menginginkan seorang anak.
"Nggak, kamu nggak salah. Dan, aku yakin kalau harapan kamu itu pasti akan segera terwujud secepatnya," ucap Dikta penuh keyakinan sambil mengusap pelan pipi Varissa.
__ADS_1
"Kok malah kamu yang seyakin itu?"
"Karena aku Dikta. Bukan si Erik letoy mantan kamu," jawab Dikta penuh percaya diri.
"Ish!" Varissa menyentil kening Dikta gemas. "Jangan sembarangan ngatain orang," tegur Varissa.
"Kenapa? Nggak terima?"
"Bukan." Varissa menggeleng. "Erik nggak letoy, tapi emang dasarnya banci. Pengecut nggak tahu diri, lelaki kardus."
Tiba-tiba Dikta bangkit dari pangkuan Varissa. Lelaki tampan itu mengangkat kedua alisnya dengan telapak tangan yang menutup mulutnya sendiri. Matanya memicing ke arah Varissa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa sih?" tanya Varissa yang mulai tak enak diperhatikan seperti itu.
"Aku nggak nyangka, mulut kamu ternyata jauh lebih jahat dari aku, Va. Benar ya kata orang. Mulut perempuan yang punya dendam memang yang paling tajam," kata Dikta.
"Enak aja," delik Varissa tak terima. Dicubitnya pinggang sang suami yang sontak menjerit karena kesakitan.
"Jangan teriak, Ta!" Varissa berusaha membekap mulut suaminya.
"Orang kalau dicubit ya pasti sakit, Va! Wajar kalau aku teriak," ujar Dikta membela diri.
"Tapi, teriaknya nggak usah selebay itu, bisa nggak? Malu didengar sama keluarga besar kamu."
Tiba-tiba Dikta memiliki ide jahil untuk mengerjai istrinya. Laki-laki itu kembali sengaja berteriak keras agar seisi rumah bisa mendengar.
"Aakkhh....Aakkkhhh."
"Dikta," ringis Varissa semakin kesal. Sekuat tenaga dia berusaha membekap mulut Dikta namun selalu gagal.
"Kamu ngapain aku, Sayang? Sabar, ini masih sore," teriak Dikta yang semakin menambah kalut Varissa.
"Diem, Ta! Ngeselin banget, sih!" Bekapan Varissa masih juga gagal. Bahkan, dalam posisi diatas pangkuan Dikta sekali pun, tangannya selalu saja gagal menutup mulut jahil suaminya.
"Aku capek, Sayang. Nanti, ya! Aku lemas!" ucap Dikta lagi. Tentu saja dengan suara yang semakin keras.
"Kalian ngapain sore-sore sudah naik kuda-kudaan?"
Dan, teguran itu sontak membuat Varissa ternganga. Hancur sudah reputasinya didepan Nenek mertua.
__ADS_1