
Hilang. Semua kebahagiaan fana yang dulu pernah Mauren miliki kini menguap begitu saja. Tak ada yang tersisa selain caci maki dari orang-orang disekitarnya. Kasus perselingkuhannya dengan suami seorang Aktris terkenal benar-benar menyudutkan Mauren ke mulut jurang. Bahkan, Gretha dengan sengaja mendorongnya hingga Mauren kini tak sanggup lagi untuk sekedar mengangkat wajah.
Dia malu. Bukan hanya karena wajahnya terus terpampang di media televisi ataupun portal berita online. Akan tetapi, hampir setiap orang yang melihatnya akan meneriaki Mauren tanpa ragu sebagai pelakor yang tidak tahu diri. Ditambah lagi, kini induk semangnya turut mengusir dia dari kost-kostan yang saat ini dia tempati. Pulang ke rumah pun, kedua orangtuanya enggan membuka pintu karena malu pada tetangga akibat kelakuan putri mereka.
Masa lalu Mauren perlahan mulai dikuliti hingga ke akar-akar. Berkat satu kalimat dari mulut Gretha, kini semua awak media mulai menggali masa lalu Mauren. Bersyukur, identitas Erik masih dapat disamarkan. Pun, dengan Varissa. Semua itu tentu saja berkat campur tangan Dikta. Biar bagaimanapun, lelaki itu tak ingin Varissa menjadi bulan-bulanan wartawan meski hanya sekedar untuk wawancara mengkonfirmasi kebenaran.
"Untuk apa kemari lagi?" tanya Erik dingin.
Meski begitu malas harus bertemu wanita yang sebentar lagi akan dia ceraikan secara resmi, namun Erik tak punya pilihan. Wanita itu mendadak muncul didepan rumah tepat ketika dia akan berangkat kerja di sebuah cafe sebagai seorang pelayan.
"Aku perlu bicara, Mas!" tegas Mauren menguatkan diri. Koper besar miliknya ia pegang erat-erat. Sesekali, ia tampak bernafas dalam. Perut yang semakin membesar memang menjadi beban lain yang semakin menambah stres dirinya.
Erik menggeleng. Sudut bibirnya terangkat dengan pandangan mata yang sinis. Baginya, urusan dengan perempuan itu sudah selesai. Hanya tinggal pembuktian mengenai siapa Ayah kandung dari bayi yang tengah berada dalam perut Mauren dan semua kisah mereka akan berakhir. Jika itu benar anaknya, maka Erik akan mengambil bayi itu dari Mauren. Namun, jika ternyata bukan, maka hal itu akan semakin memudahkan Erik terlepas dari perempuan itu.
"Lebih baik kamu pergi, Mauren! Aku harus berangkat kerja. Nggak ada waktu yang bisa aku gunakan untuk mendengar ocehan omong kosong mu," ujar Erik menolak.
"Aku ingin tinggal disini lagi," sergah Mauren cepat. Tak ingin kehilangan momen untuk menyampaikan tujuannya kembali ke rumah itu.
Erik yang sudah menaiki sepeda motornya hanya tertawa kecil. Jelas di matanya tampak begitu banyak kebencian yang tersisa untuk perempuan yang dulu pernah dia pilih dibanding mantan istrinya.
"Apa aku nggak salah dengar? Ingin tinggal disini lagi?" Erik mendengus. "Kenapa? Diusir sama lelaki pilihan kamu itu? Atau karena dipermalukan sama istri sahnya?"
Mauren membuang muka. Hatinya mencelos mendengar tudingan Erik yang semua memang ada benarnya. Dia sudah diusir Cipto. Dipermalukan Gretha. Bahkan, sampai diusir induk semangnya akibat pemberitaan buruk dirinya di banyak media.
"Aku nggak perlu jawab, Mas! Yang jelas, aku mau tinggal disini lagi," tukas Mauren seolah tak peduli.
Koper besar berisi pakaiannya ia geret masuk ke dalam rumah. Meski suara Erik terdengar meneriakinya dari belakang, namun telinga Mauren sengaja dia tulikan. Butuh sikap bebal jika ingin punya tempat berlindung.
"Jangan pernah berani masuk ke rumahku lagi, Mauren!" ancam Erik usai dia menarik paksa tangan Mauren dan menyeretnya kembali keluar dari rumah.
"Ini juga masih rumah aku, Mas! Aku yang bayar sewanya!" tutur Mauren dengan nafas memburu.
"Sewanya sudah berakhir Minggu lalu. Dan, aku yang perpanjang biaya sewanya mulai bulan ini. Jadi, kamu sama sekali sudah tidak berhak untuk menginjakkan kaki lagi di rumah ini." Erik setengah berteriak. Mempertegas ucapannya agar telinga Mauren bisa mendengar dengan lebih baik.
Keributan itu akhirnya terdengar juga sampai kebagian dalam rumah. Retno, Harun dan Tika yang masih sarapan bersama, mau tak mau harus keluar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat sosok Mauren ternyata kembali lagi ke rumah mereka usai memilih meninggalkan Erik demi lelaki kaya yang baru dia temui.
__ADS_1
"Masih berani kamu kemari?" geram Retno penuh amarah. Jika tahu bahwa kelakuan menantu idamannya ternyata serendah ini, tentu dia tak akan pernah mengizinkan perselingkuhan antara Erik dan Mauren terjadi.
"Aku malas berdebat. Aku mau istirahat aja didalam," tutur Mauren sembari berusaha menyibak keluarga Erik yang berkerumun didepan pintu masuk.
"Siapa yang mengizinkan kamu untuk masuk ke dalam rumah kami, hah?" ucap Retno sambil mendorong Mauren.
Mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari ibu mertuanya, Mauren hanya bisa mendengus kesal. Kesabarannya sudah hampir habis. Sebisa mungkin dia berusaha untuk menghindari pertengkaran namun keluarga Erik yang tampaknya akan terus memulai duluan.
"Memangnya, kenapa aku nggak boleh masuk, Ma? Aku ini masih menantu Mama. Apa pantas, Mama memperlakukan aku seperti ini setelah semua yang sudah aku lakukan untuk Mama di masa lalu?"
Retno mulai salah tingkah. Meski kemarahannya begitu besar, namun perkataan Mauren juga sedikit menyudutkan dirinya.
"Jangan lupa, gara-gara siapa ,Mama nggak jadi di penjara waktu itu," seloroh Mauren mengingatkan tentang kejadian saat Retno dengan sengaja melempar gelas dan membuat Dikta celaka.
Wanita paruh baya itu membuang nafas kasar. Mauren memang orang yang menyelamatkan dirinya waktu itu. Tapi, jika dipikir-pikir lagi, bukankah itu belum seberapa dibanding rumah dan asetnya yang harus disita pihak Bank karena hutang biaya pernikahan mewah Mauren?
"Mama memang tidak lupa, Mauren! Sama seperti Mama juga tidak lupa, gara-gara siapa, Mama dan keluarga Mama harus hidup ditempat seperti ini!"
Merasa tak memiliki celah untuk dapat tinggal dirumah itu, Mauren akhirnya memilih mengeluarkan kartu As yang dia miliki. Masa bodoh jika ibu mertuanya harus kena serangan jantung hari ini karena dia.
"Kalau Mama memang tidak mau menerimaku dirumah ini, fine!" Mauren menepuk tangannya pelan. Senyum yang sengaja dipaksakan tampak menghias wajah yang memang sudah penuh tekanan itu. "Tapi, bukannya semua itu adalah keputusan Papa sebagai kepala rumah tangga?" Tatapan Mauren beralih pada pria paruh baya yang sedari tadi terus bersembunyi dibelakang punggung istrinya.
Harun yang kini menjadi pusat perhatian langsung gugup tak karuan. Mulutnya hanya menganga tanpa mengeluarkan suara. Segala hal yang ingin dia sampaikan tercekat diujung tenggorokan.
"Pa?" panggil Mauren. "Apa Papa mau mengusirku?"
Lelaki paruh baya itu tampak meneguk salivanya dengan gelisah. Keringat dingin mulai membanjiri kedua telapak tangannya. Demi Tuhan! Dia tak siap berada didalam situasi harus memihak kepada siapa untuk saat ini.
"M-Menurut Papa... Lebih baik Mauren tetap tinggal bersama kita, Ma. Setidaknya, sampai bayi yang dikandungnya lahir." Harun terdengar begitu gelisah sampai suaranya saja bergetar seperti itu.
"Pa...," Erik dan Tika dengan cepat melayangkan protes.
Sementara, Mauren sudah menyeringai puas.
"Apa-apaan sih kamu, Pa?" Retno ikut protes pada keputusan sang suami.
__ADS_1
"Udahlah, Ma! Kamu nggak lihat kalau Mauren lagi hamil?" tegas Harun sedikit terbata.
Retno menatap sinis Mauren. Setelahnya, dia kembali menatap suaminya dengan tatapan tak suka.
"Aku nggak setuju! Biar bagaimanapun, aku dan anak-anak akan tetap mengusir dia!" tegas Retno kepada suaminya.
"Ya, Erik setuju! Belum tentu juga, anak itu adalah anak kandung Erik!" imbuh Erik yang jelas mendukung keputusan sang Ibu.
Kesabaran Mauren benar-benar sudah habis. Dia tak punya alasan lagi untuk menyembunyikan segalanya dari Erik dan keluarganya. Semua ini demi hidupnya yang kini sudah di ujung tanduk.
"Kamu benar, Mas! Anak ini memang bukan milik kamu!" sergah Mauren yang sontak menyita semua perhatian kembali kepadanya.
Erik tertawa sinis. Sudah dia duga!
"Akhirnya, kamu mengaku juga! Dasar perempuan licik!" hardik Erik penuh amarah.
"Tapi, tetap saja kamu tidak bisa mengusirku dari sini, Mas! Tahu, kenapa?" tantang Mauren dengan seringai tipis.
Kening Erik mengkerut heran. Terus terang, dia bingung akan maksud ucapan Mauren. Padahal, tadi dia sudah berniat menyeret wanita itu untuk pergi dari rumahnya. Namun, sayang! Ucapan Mauren juga mengundang rasa penasaran yang luar biasa dalam benaknya sehingga dia masih bisa menahan diri untuk tidak melakukan niatnya itu.
"Kenapa?" tanya Erik ingin tahu.
Mauren mendengus. "Karena, bayi ini milik Papa kamu!" ujarnya berterus terang sambil melirik Harun yang sudah ketar-ketir hendak menyembunyikan diri kemana lagi.
Bak disambar petir, airmata Retno langsung mengembun dikedua pelupuk matanya. Seluruh persendian ditubuhnya terasa lepas. Berbalik menghadap suaminya saja, terasa begitu berat.
"Apa maksud ucapan Mauren itu, Pa?" desaknya meminta penjelasan.
Harun tertunduk. Gegas, dia menjatuhkan diri dihadapan istrinya. Berlutut sambil mencium kedua tangan Retno.
"Waktu itu Papa khilaf, Ma! Maaf!"
"Papa...," pekik Tika tak terima. Tas ransel miliknya ia lemparkan dengan keras ke kepala Ayahnya sebelum berlari pergi meninggalkan rumah mereka. "Keluarga apa ini?" umpatnya sambil menangis.
Erik masih mematung. Ia jatuh terduduk di depan pintu. Pun, dengan Retno. Roh wanita itu seperti meninggalkan raganya untuk beberapa saat. Sinar matanya kosong. Kalimat yang dia dengar barusan masih terlalu sulit untuk dia cerna.
__ADS_1
"Puas kalian?" tanya Mauren penuh kemenangan sambil menggeret kopernya memasuki kamar dan melewati ketiga orang itu tak peduli.