
Pesta pertunangan yang sederhana dengan hanya dihadiri teman-teman serta rekan kerja telah usai. Para tamu sudah berseliweran pergi. Tinggal satu-dua yang tersisa dan tampak sedang mengobrol kan sesuatu yang serius bersama Dokter Imran dan Pengacara Reno.
Dikta yang masih terjebak di lingkaran bapak-bapak perlahan beringsut menjauh. Mencoba untuk kabur dengan memundurkan langkah tanpa menimbulkan suara. Ia tak tahan lagi. Sikap suka menyendirinya memaksa dia untuk segera menyepi.
Berhasil menjauh dari kawanan generasi 1965-an itu, Dikta akhirnya bisa bernafas lega. Rasanya seperti baru saja terbebas dari kawanan serigala yang lapar. Dia melangkah lebar menuju ke kolam renang belakang rumah lalu mengambil tempat duduk disebuah bangku panjang bercat putih seraya menyalakan sebatang rokok.
Lama terpekur sendiri dengan tatapan yang tak luput dari pemandangan langit malam, Dikta dikagetkan dengan kehadiran seseorang yang memeluk lehernya dari belakang. Namun, kaget itu hanya bertahan sebentar usai dia mendeteksi siapa orang yang datang itu melalui harum parfum yang melekat di tubuh wanita tersebut.
"Kok disini?" tanya Dikta seraya ikut memeluk lengan yang melingkar dilehernya. Rokok yang masih tersisa setengah batang itu ia buang. Tak ingin asapnya terhirup oleh wanita itu.
"Bosan. Kupingku lelah dengar si kembar nyerocos terus nggak ada habisnya," jawab Varissa. Pipinya ia tempelkan di pipi pria berambut panjang itu.
Dikta tersenyum tipis. Melerai pelukan Varissa dari lehernya lalu menuntun wanita itu untuk duduk di sampingnya.
"Capek?" Dikta mengelus rambut panjang Varissa yang terurai.
"Nggak," geleng Varissa. Bibirnya tak henti menebar senyum. Apalagi, saat dia memperhatikan cincin pemberian Dikta yang kini telah melingkar manis menghias jari kelingkingnya.
"Ta, kamu yakin dengan pilihan kamu?" Mata wanita itu terlihat sendu. Tiba-tiba saja, rasa cemas dan khawatir datang tanpa di undang. Statusnya sebagai seorang wanita yang sudah pernah membina rumah tangga namun sayangnya gagal, membuat Varissa sedikit canggung. Biar bagaimanapun, Dikta adalah seorang pria lajang yang sebenarnya mampu mencari sosok wanita yang jauh lebih segalanya dari dia.
Tampak, lelaki yang duduk di sebelahnya hanya menanggapi ringan. Dia hanya menyandarkan punggungnya di sandaran bangku besi itu lalu tersenyum tipis mengusap pipi Varissa.
"Aku nggak pernah ragu dalam melakukan hal apapun dalam hidupku, Va! Sejak awal, hati ini yang sudah memilih kamu." Dikta memegang dadanya. "Bukan aku yang memilih. Tapi dia," tuturnya seraya menunjuk-nunjuk dadanya.
"Tapi...," Varissa menggigit bibir bawahnya. Terus terang, dia sedikit terganggu dengan pembicaraan beberapa orang yang hadir di pesta tadi yang mengatakan bahwa seorang janda sepertinya, terlalu beruntung mendapatkan seorang pria seperti Dikta. Ya, meskipun tentu saja Tante Hesti segera bereaksi dan menegur beberapa orang itu secara terang-terangan.
"Jangan didengar!" Dikta menutup kedua telinganya tiba-tiba. Membuat sepasang netra berkaca-kaca itu tampak berkilat di timpa cahaya lampu taman.
"Apapun sangkaan negatif yang dipikirkan orang tentang aku ataupun kamu, jangan didengar! Yang menjalani hubungan ini, kita. Yang berhak menilai apa kita pantas satu sama lain juga kita. Biarkan mereka berkomentar semau mereka. Itu hak mereka. Tapi, jangan lupa! Aku dan kamu bersama, saling jatuh cinta, bahkan sampai pada tahap ini, itu juga hak kita. Memangnya, kenapa kalau status kamu sudah pernah menikah? Aku aja nggak masalah, kenapa harus mereka yang bermasalah?" Alis Dikta terangkat. "Aku yang paling tahu apa yang terbaik buat aku. Bukan orang-orang itu. Bukan orang-orang yang hanya mengenalku sekilas lalu sok-sok'an berlagak seolah sudah melihat dan memperhatikanku sejak bayi."
Varissa tertunduk sambil mengulum senyum. Air mata yang berhasil lolos ia seka dengan ibu jari. Ternyata, lelaki ini juga tahu apa yang orang-orang bicarakan mengenai pertunangan mereka. Tapi, kenapa sikap Dikta di pesta tadi terkesan biasa-biasa saja? Ah! Varissa menepuk jidatnya. Dia lupa bahwa calon suaminya memang selalu seperti itu. Mau marah, senang, ataupun sedih. Dia hanya punya satu ekspresi yang selalu di berikan ke orang-orang. Yaitu, datar. Macam baju yang baru saja kena setrikaan.
" Masih sakit hati dengan omongan mereka? Apa perlu aku labrak?" tanya Dikta yang bersiap bangkit dari kursinya.
__ADS_1
Sigap, Varissa menahan lengan pria itu. Memintanya untuk duduk kembali. "Kamu ternyata bisa pidato panjang lebar juga, ya? Aku pikir, mulut kamu cuma bisa ngomong kalimat panjang sebanyak 5 kata doang."
Lelaki itu mendengus. Tertawa kecil seraya menggulung kedua lengan kemeja hingga sebatas siku.
"Aku bisa berubah menjadi sesuatu yang nggak biasa kamu lihat, selama itu demi membuat kamu merasa lebih baik," aku Dikta.
Varissa mengangguk-angguk. Benar juga, sih. Lelaki ini bisa menjadi apapun demi dirinya. Terkadang benar-benar seperti malaikat. Namun, kadang kala terasa menyeramkan namun tetap bisa didekati jika sudah berurusan dengan sesuatu yang menyimpang dari hukum. Varissa bahkan masih ingat ketika kali terakhir Dikta sengaja membuat Mauren kecelakaan sebagai peringatan. Namun, sayangnya wanita pelakor itu tidak sadar-sadar juga.
"Kamu jangan jahat-jahat lagi, ya!" Tiba-tiba saja, Varissa merasa ngeri jika membayangkan Dikta akan berbuat sesuatu kepada Erik. Tapi, jangan salah sangka! Bukan berarti karena Varissa masih menyimpan rasa atau mencemaskan Erik. Sebaliknya, dia hanya tak ingin calon suaminya menjadi tersangka kejahatan sebelum mereka benar-benar resmi menyandang status sebagai pasangan suami istri.
"Aku nggak pernah jahat," sangkal Dikta santai.
Varissa mencebik. Pendusta.
"Eh, kamu ngapain?" pekik Varissa ketika Dikta tiba-tiba membaringkan kepalanya di pangkuannya.
"Tidur!" jawab lelaki itu santai seraya memejamkan mata.
"Ta...," panggil Varissa. Senyum diwajahnya tak bisa ia tutupi saat melihat kaki panjang lelaki itu sama sekali tidak muat di bangku yang mereka duduki.
"Enak, tidur di posisi kayak gini? Kaki kamu nggak muat di bangku, loh!" ringis Varissa yang merasa kasihan.
"Dari punggung ke atas, enak sih!" Dikta kembali membuka mata. "Tapi, dari pinggang ke bawah...," Lelaki itu menjeda kalimatnya. "Jujur, nggak enak sama sekali!" jawabnya.
Bwahahahaha...
Pecah sudah tawa Varissa. Ya iyalah! Bangku yang sepanjang kurang lebih semeter itu, mana muat dengan badan yang panjangnya hampir dua meter. Kaki Dikta bahkan sampai melewati pembatas bangku meski sudah susah payah ditekuk sedemikian rupa.
"Va! Ketawanya udah?" tanya Dikta dengan mata berkedip jengah. Puas sekali Varissa menertawainya.
"Udah," angguk wanita itu.
"Sekarang, tolong bantu aku bangun! Susah!" ucap lelaki itu jujur.
__ADS_1
Varissa memutar bola matanya malas. Dia berusaha membantu Dikta untuk bangun kembali.
"Ngapain kalian berduaan disini?" teriak Dokter Imran yang selalu saja menjadi perusak suasana.
"Si cerewet datang!" gumam Dikta setengah kesal.
"Huss!" Varissa menyikut perut Dikta meski sebenarnya dia setuju dengan ucapan lelaki itu. Ya, Dokter Imran memang perusak suasana nomor Wahid.
"Ngapain kalian berdua disini? Tahu nggak, kalau Tante kalian nyariin daritadi?" omel Dokter Imran.
"Cuma ngobrol biasa, Om!" Varissa menjawab mewakili usai melirik ke arah lelaki yang duduk di sebelahnya. Ish! Tidak ada inisiatif sama sekali dari Dikta untuk membela diri.
"Ngobrol didalam kan, bisa!"
"Tapi, didalam ribut."
Dokter Imran mendengus. Ia ikut nimbrung. Duduk di tengah kedua orang itu yang memaksa Varissa dan Dikta harus bergeser menjauh demi memberi tempat pada si perusak suasana nomor Wahid.
"Ck!" Dikta berdecak tak terima.
"Sabar! Usahakan, jangan dekat-dekat dulu! Tunggu sampai benar-benar resmi, baru boleh berduaan di tempat sepi begini."
"Ini nggak sepi kok, Om!" sangkal Varissa. "Tuh, buktinya ada nyamuk, ada jangkrik." Ia menunjuk asal.
"Ck!" Dokter Imran mengigit bibir bawahnya dengan mata melotot mengancam. Sontak, Varissa langsung tertunduk takut dengan dua tangan yang meremas gaun putih gading cantiknya.
"Kalian tahu nggak sih? Laki-laki dan perempuan yang belum resmi menikah itu memang dilarang keras berduaan di tempat sepi. Tahu kenapa?" Dokter Imran melirik Varissa dan Dikta bergantian.
"Karena, yang jadi orang ketiganya itu, SETAN!" imbuh Dokter Imran.
"Iya. Nih, setannya udah ada," celetuk Dikta setengah menggumam.
"Kurang ajar!" Tak pelak, satu tamparan keras ia dapatkan dari Dokter Imran di bahunya.
__ADS_1