Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Keluarga Dikta pamit pulang


__ADS_3

Pukul 10 pagi, akhirnya adik Wildan datang menjemput mereka dari Bandung. Keluarga Dikta kemudian berpamitan kepada Dikta dan Varissa. Tampak, Nenek Widya meneteskan kembali air matanya ketika mengucap salam perpisahan kepada kedua cucu kesayangannya.


"Nenek bisa tinggal disini kalau mau," kata Dikta begitu dia melepas pelukan sang Nenek.


"Maunya juga begitu. Tapi, mana bisa Nenek tinggal jauh-jauh dari rumah? Kamu tahu kan, seberapa besar arti rumah itu bagi Nenek? Lagian, perkebunan juga bagaimana? Siapa yang akan mengawasi jika bukan Nenek?" tukas Nenek Widya memberi penjelasan.


Dikta mengangguk mengerti. Neneknya memang bukan tipikal orang yang sanggup jauh-jauh dari kota kelahirannya. Apalagi, jika harus meninggalkan rumah yang selama puluhan tahun ia tinggali, Neneknya merasa terlalu berat. Hanya itu satu-satunya tempat dimana kenangan mendiang suaminya masih terasa sangat jelas dalam ingatannya. Dan, sejak dulu Neneknya juga selalu berkata akan meninggal di tempat yang sama dan di ranjang yang sama, tempat di mana Kakek Dikta dulu mengembuskan nafas terakhirnya.


Begitu besarnya cinta sang Nenek kepada Sang Kakek. Hingga rumah yang seharusnya sudah bisa direnovasi berkali-kali untuk mengikuti perkembangan zaman juga tak pernah di rombak. Kalaupun diperbaharui, paling cuma cat temboknya saja. Selebihnya, semua sama sejak dulu. Itu membuat Nenek Widya merasa bahwa suaminya selalu ada bersamanya.


"Kalau sudah ada waktu, kalian harus berkunjung ke rumah, ya!" ucap Nenek Widya kepada Varissa dan Dikta.


"Sekalian, Nenek juga akan menyerahkan semua hak-hak Dikta yang selama ini belum pernah sempat Nenek beri."


"Dikta nggak butuh itu, Nek!" ucap Dikta seraya menghela nafas.


"Jangan begitu!" ucap Nenek Widya. "Mungkin, sekarang kamu punya harta. Tapi, tetap saja warisan yang Nenek dan Papa kamu tinggalkan tentu juga tetap milik kamu. Hak kamu. Dan, itu semua nggak bisa kamu tolak."


"Tapi, Nek...,"


"Va, tolong bujuk suamimu,", ujar Nenek Widya memotong ucapan Dikta. Pasti cucunya itu akan tetap menolak. "Biar bagaimanapun, satu-satunya pewaris yang tersisa dari keturunan keluarga kami hanya dia. Jadi, tolong beri suamimu pengertian."


"Iya, Nek. Nanti biar Va yang bicara," angguk Varissa dengan senyuman.


"Mentang-mentang, warisan Nenek sedikit, makanya di tolak." Raut wajah wanita tua itu terlihat kecewa.


"Eh, bu-bukan begitu," kata Dikta menyela.


"Sudahlah. Mobilnya sudah mau berangkat. Kalian jaga diri, ya. Jangan lupa, selalu beri kabar."


"Iya, Nek!" ucap Varissa mengangguk.


Ia kemudian mengantar Nenek Widya menuju ke mobil sementara Dikta menyusul mereka dengan membawakan koper Neneknya.


"Jaga kesehatan ya, Nek!" Varissa mencium punggung tangan Nenek Widya penuh hormat.

__ADS_1


"Kamu juga, Nak! Nenek doakan, semoga cita-cita yang kalian inginkan lekas tercapai. Jangan takut. Doa Nenek akan selalu menyertai kalian sampai kapan pun."


Hati Varissa dipenuhi haru yang begitu dalam. Seperti inikah rasanya di cintai oleh mertua dengan tulus? Jelas, Varissa merasakan perbedaan antara Nenek Widya dan Retno dahulu. Ketulusan Nenek Widya mampu tersampaikan hingga menyentuh lubuk hati terdalam Varissa. Sementara, cinta kasih Retno dahulu hanya mampu ia rasa ketika dia menukarnya dengan uang dan materi.


Varissa dan Dikta melambaikan tangan mereka saat mobil milik adik Wildan sudah bergerak menjauh dari halaman. Perlahan, mobil itu menghilang setelah melewati gerbang rumah mereka. Ada rasa sedih yang tertinggal karena pertemuan terasa begitu singkat. Namun, meski begitu, perpisahan ini juga hanya akan berlangsung sementara.


Tak berselang lama, ponsel Dikta terasa bergetar di saku celana. Lelaki itu kemudian mengangkat telepon yang ternyata berasal dari Bang Rambo. Raut wajahnya terlihat sangat serius setelah panggilan itu terputus.


"Siapa?" tanya Varissa penasaran.


"Bang Rambo."


"Maksud kamu, Om-om kekar yang dulu ngaku kakak kamu dinikahan kita?" tanya Varissa lagi. Masih dia ingat bagaimana lelaki bertubuh tinggi besar dengan tampang seram itu begitu sumringah memperkenalkan diri kepada Varissa sebagai kakak Dikta.


"Halo adek ipar. Kakak namanya Rambo. Kakak ini, abangnya suami kau. Lihat! Rambut gondrong kami mirip! Jangan tanya muka kami. Macam pinang dibelah tiga, hahahaha."


Jika mengingat ucapan lelaki itu di pesta pernikahan mereka, Varissa rasanya ingin tertawa sendiri. Apalagi, tampak Dikta tak memberi penyangkalan apapun terhadap yang Bang Rambo katakan.


"Bang Rambo bilang apa? Kok, muka kamu kayak serius gitu?"


"Oh ya? Jadi, maksud kamu dia udah ditangkap?" tanya Varissa dengan mata melebar.


"Iya. Dan, katanya Mauren sudah melahirkan."


"Terus, nasib bayinya gimana? Kasihan banget kalau mesti tinggal dipenjara bareng ibunya."


"Bayinya dibuang. Warga sekitar menemukan bayi itu dalam keadaan udah nggak bernyawa dua hari kemudian di tempat pembuangan sampah."


"A-Apa?" Varissa terlihat begitu syok mendengarkan ucapan suaminya. Air matanya bahkan berlinang mendengar nasib tragis bayi tak berdosa itu. "Kok ada ibu sejahat Mauren di dunia ini? Itu bayinya sendiri loh, Ta! Kok dia bisa setega itu?"


"Dia mungkin udah bukan manusia lagi," jawab Dikta seraya memeluk istrinya yang terlihat begitu syok.


"Lalu, gimana sama Mas Erik dan keluarganya? Mereka sudah tahu?"


Dikta menganggukkan kepala. "Tapi, sekarang Erik dan keluarganya sudah pergi dari kota ini."

__ADS_1


"Kenapa?"


Dikta menghela nafas dalam. "Aku yang meminta Erik melakukan itu."


"Dan dia mau aja?"


Dikta mengangguk. Peristiwa dirinya yang membebaskan Tika dari kantor polisi memang belum pernah dia ceritakan kepada Varissa karena menurutnya itu bukan masalah penting.


"Itu syarat yang harus dia penuhi demi membebaskan adiknya dari kantor polisi."


"Tika dipenjara, Ta? Kenapa?" tanya Varissa yang jelas terkejut mendengar hal ini.


"Ingat, waktuk Erik datang terakhir kali kemari?"


Varissa menggangguk. Tentu saja dia ingat. Kejadian itu baru berlangsung beberapa hari yang lalu.


"Saat itu, dia minta tolong agar aku membebaskan adiknya dari penjara."


"Tapi, kenapa, Ta? Kenapa Tika bisa dipenjara?"


"Dia dengan sengaja menyerang Mauren pakai senjata tajam."


"A-Apa?" Varissa makin tercengang. Rumit sekali permasalahan yang menimpa keluarga mantan suaminya.


"Maaf karena aku baru cerita." Dikta tertunduk merasa bersalah.


"Kamu nggak salah, kok. Lagipula, aku dan mereka memang sudah putus hubungan. Tapi, apa kamu bisa antar aku ketemu dengan Mauren?"


"Untuk apa?" tanya Dikta yang merasa mereka sudah benar-benar tak memiliki urusan dengan Mauren ataupun keluarga Erik.


"Nggak kenapa-kenapa. Cuma ingin sekedar menyapa. Boleh, kan?"


Entah kenapa, mendengar kematian anak Mauren karena perbuatan wanita bejat itu sendiri, membuat darah Varissa mendidih. Entah apa dosa bayi yang baru dilahirkan itu sehingga harus berakhir setragis itu. Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita-wanita seperti Mauren diluaran sana. Tak pernahkah wanita-wanita seperti mereka yang dengan mudahnya diberi anak mensyukuri dan menjalani takdir yang ada dengan legowo? Toh, meski anak itu tidak mereka kehendaki, tapi bukannya mereka hadir karena perbuatan ibunya juga? Kenapa justru bayi-bayi tak berdosa itu yang jadi sasaran dan korban?


Padahal, tak sedikit pula wanita yang seperti Varissa. Begitu mendambakan kehadiran seorang anak namun sayangnya kepercayaan itu belum kunjung mereka dapatkan dari Tuhan. Atau, mungkin saja mereka masih diminta untuk lebih berusaha lagi.

__ADS_1


"Aku harus bikin perhitungan dengan Mauren, Ta. Bisa kamu atur itu untuk aku?" Varissa menyeringai. Akan dia beri pelajaran kepada wanita tak tahu bersyukur itu dengan caranya sendiri.


__ADS_2