
"Aku tuh sebenernya belum puas kasih pelajaran ke perempuan durjana itu. Hah... Mauren memang benar-benar manusia terkutuk," umpat Varissa dengan tangan yang terkepal erat didepan dadanya.
"Kamu hajar sampai mati pun, belum tentu dia merasa salah, Sayang. Jadi, sudahlah. Jangan buang-buang tenaga," ucap Dikta sambil mengelus punggung istrinya naik turun.
"Tapi, aku benar-benar nggak tega dengar nasib anaknya jadi seperti itu. Tega banget Mauren," lirih Varissa dengan netra yang berembun.
"Mungkin itu jalan yang terbaik untuk bayi mungil itu. Tuhan jauh lebih sayang dia dan memilih untuk memanggilnya kembali daripada harus di rawat oleh Ibu yang nggak punya akhlak seperti Mauren."
Varissa menganggukkan kepala. Membenarkan kata-kata Dikta yang memang terkesan masuk akal. Bayi tak berdosa itu mungkin memang jauh lebih di sayang Tuhan jadi diminta kembali ke pangkuan-Nya saat dosa belum sempat terukir dalam jiwa raganya.
"Mau pulang atau cari makan dulu?" tanya Dikta mengalihkan pembahasan.
"Terserah kamu aja," jawab Varissa masih dengan tampang di tekuk.
"Atau, mau jalan-jalan?" ujar Dikta menawarkan. Dari mimik muka istrinya, tampaknya wanita itu memang butuh hiburan.
"Kamu memangnya nggak ada kegiatan penting hari ini?"
"Ada," jawab Dikta singkat.
Seketika Varissa mencebik. Dilanjutkannya langkah yang beberapa saat lalu terhenti hendak keluar dari kantor polisi tempat dimana Mauren ditahan sementara. Rasa kecewa menyeruak. Jika memang sibuk, kenapa harus ngajak jalan? Toh, percuma jalan-jalan kalau harus di buru waktu, pikir Varissa.
"Kalau memang ada kegiatan penting, kenapa harus ngajak aku jalan? Mending nggak usah aja, Ta," tanya Varissa dengan bibir mengerucut.
Dikta tersenyum kecil sembari terus mengikuti langkah Varissa yang berjalan mendahuluinya.
"Kan kegiatan penting aku bikin mood istriku balik happy lagi. Jadi, jalan-jalan berdua, nggak apa-apa, dong?"
Varissa menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Dikta yang juga otomatis berhenti. Satu senyum manis terbit diwajah wanita yang beberapa saat lalu hanya diliputi kemarahan bercampur kesedihan itu.
"Jadi, maksud kamu, kamu nggak lagi ada janji sama orang lain?"
Suaminya menggeleng.
"Yeyyy... Makasih, Ayang!" ungkap Varissa senang sambil menghambur memeluk suaminya dan mengecup rahang lelaki itu bertubi-tubi.
"Udah, Sayang! Malu dilihat petugas," kata Dikta yang berusaha melerai pelukan Varissa dari tubuhnya. Matanya menatap tak enak pada beberapa petugas yang berkumpul di depan kantor.
"Ih, kenapa? Tumben-tumbenan malu?" ledek Varissa.
"Nggak gitu maksudnya, Va!" sanggah Dikta sambil mengatur wibawa didepan beberapa polisi yang ia kenali. Bisa hancur citra misteriusnya jika para polisi itu tahu betapa berbanding terbaliknya sikap Dikta kepada orang lain dan kepada istrinya.
"Nggak usah sok cool!" ucap Varissa seraya mencubit hidung sang suami. "Kamu nggak cocok sok-sok'an cool didepan aku."
Dikta tersenyum. Ditariknya tangan sang istri menuju parkiran sebelum wanita cantik itu semakin membongkar sifat aslinya.
__ADS_1
"Apa sih, Ta?" gerutu Varissa yang pura-pura tak tahu bahwa sang suami sedang berusaha mempertahankan sifat dinginnya dihadapan orang-orang yang mengenalnya.
Dikta tak menjawab. Sebaliknya, yang dia lakukan justru menyandarkan tubuh Varissa di badan mobil lalu mengurung tubuh mungil itu dengan kedua lengannya.
"Kamu mulai jahil, ya!" ucap Dikta seraya menyeringai nakal.
Sang istri mendadak gugup. Saliva terasa susah payah tertelan. Belum lagi, degup jantung tak tahu malu itu kembali bertalu-talu dengan hebatnya.
"Ka-kamu yang mulai. Siapa suruh kemarin kamu ngerjain aku di hadapan keluarga kamu." Varissa berusaha memberi pembelaan meski dengan cara yang tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.
"Jadi, ceritanya balas dendam, nih?"
Meski keringat dingin terasa mulai membasahi dahi dan telapak tangan, Varissa memberanikan diri menantang sepasang netra tajam milik suaminya. Toh, sedingin-dinginnya tatapan itu, selalu ada rasa cinta yang terselip disana hanya untuk dirinya.
"Kalau iya, kenapa?" jawabnya menantang.
Dikta tertawa kecil. Tak lama, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Varissa lalu membisikkan kalimat yang sontak membuat kedua bola mata Varissa membulat sempurna.
"Serius nantangin aku? Kalau gitu, mau besok pagi ku buat nggak sanggup jalan?"
Semakin merembes keringat dingin itu dari dahi dan telapak tangan Varissa. Aih! Kenapa ancamannya harus seperti itu sih?
"Kamu mau patahin kaki aku?" tanya Varissa sok polos yang kembali mengundang tawa dari bibir Dikta.
Wanita itu meringis sakit. Meski tak terlalu keras, namun tetap saja rasanya lumayan nyeri. Dan, lihatlah! Bukannya minta maaf, Dikta malah dengan santainya melenggang menuju kursi pengemudi tanpa berniat membukakan pintu untuk dirinya.
"Ngapain bengong? Masuk!" perintah Dikta saat menjumpai sang istri masih berdiri ditempat dengan tampang cemberut.
"Iya, iya," jawab Varissa ketus.
Lagi-lagi Dikta tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Astaga! Ngambekan sekali istrinya itu.
*********
Setelah mendapatkan perawatan kembali pada lukanya, Mauren lalu digiring menuju sel tahanan. Sepanjang jalan, wanita itu tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah untuk Varissa. Argghhh! Dan, tahu apa yang lebih membuatnya marah? Para petugas merekayasa bahwa lukanya kembali terkoyak itu karena ulah Mauren sendiri. Bukan orang lain.
"Awas kamu perempuan mandul! Akan ku buat kamu menyesal!" umpat Mauren dengan gigi bergemelatuk.
"Diam!" seru petugas yang membawanya.
Mauren tersentak mendengar bentakan keras itu. Dalam sekejap, nyali yang tadi terkumpul setinggi gunung kini menciut tersapu ketakutan.
"M-Ma-af!" ucap Mauren sedikit takut.
"Makanya, jadi orang yang bener. Jangan bisanya cuma menebar permusuhan dan justru bikin hidup kamu makin sial. Sukur-sukur, Pak Ryan nggak bikin kamu dibunuh diam-diam," cerocos petugas itu sembari mendorong tubuh Mauren dengan kasar masuk ke dalam jeruji besi.
__ADS_1
"Cih!" Mauren berdecih. "Awas kamu, Varissa!" teriaknya selepas petugas yang membawanya tadi sudah pergi.
"Jangan berisik!" bentak seseorang tiba-tiba.
Mauren menoleh dan mendapati dua orang penghuni baru di sel tahanannya.
"Kalian siapa? Kenapa berada di ruanganku?" tanya Mauren dengan ketus.
Satu dari dua orang penghuni baru itu berdiri dan langsung menghampiri Mauren. Ditariknya rambut Mauren hingga kepala wanita mendongak menatap tubuhnya yang jauh lebih tinggi dan berisi dibandingkan Mauren.
"Kau pikir, sel ini hotel khusus untukmu, hah?" tanya wanita berambut cepak tersebut.
"Lepaskan atau ku buat kau menyesal!" ancam Mauren yang belum sadar bahwa bahaya dan penderitaan mulai mendekatinya.
"Hei, Becky!" panggil wanita berambut cepak itu kepada temannya yang sedari tadi diam memperhatikan. "Kau dengar apa kata perempuan sundal ini?"
Wanita berambut sebahu berwarna pirang yang dipanggil Becky tertawa sinis. Dia pun memberi isyarat kepada temannya agar dia mau mendekatkan Mauren ke arahnya.
BRUK!!!
Mauren jatuh mencium lantai tepat dibawah kaki Becky. Lalu, belum sempat dia mengangkat kepala, wajahnya sudah di injak Becky hingga luka yang tertekan dan menempel di lantai kembali terasa sangat sakit.
"Jauhkan kakimu dari wajahku, br*ngsek!" kata Mauren dengan tangan yang berusaha mengangkat kaki Becky. Namun, sekuat apapun tenaganya, kaki wanita bertubuh sixpack itu tak juga kunjung berpindah. Malah, si empunya justru tertawa melihat usaha Mauren yang tak membuahkan hasil.
"Angkat kakimu perempuan setan! Jauhkan dari wajahku!" teriak Mauren kesal. "Kalian tidak tahu siapa aku, hah? Akan ku buat kalian menyesal nantinya. Tunggu saja!"
"Masih belum sadar juga rupanya dia, Nis!" ucap Becky kepada temannya yang bernama Janis.
"Injak aja terus, Bec! Biar wanita itu tahu rasa!" balas Janis dengan tawa puas.
"Tolong.... Tolong....," teriak Mauren pada akhirnya. Dia menyerah. Dia butuh bantuan.
"Petugas! Petugas!" teriaknya lebih kencang lagi.
Janis segera mendekat. Mulut Mauren ia bekap dan memaksa wanita itu berdiri. Lalu, dengan kencang ia memukul rahang wanita itu. Sekali, dua kali, hingga tiga kali baru dia melepaskan Mauren dan membiarkannya terkapar begitu saja dalam keadaan bibir robek yang terus mengeluarkan darah.
"Masih berani teriak, hah? Ayo teriak lagi kalau mau seluruh gigimu aku rontokkan!"
Tak lama Becky ikut mendekat. Disibaknya rambut Mauren yang menutupi sebagian wajahnya. Lalu, wanita itu meludahi wajah Mauren yang tak lagi berdaya. Rahang Mauren kemudian dia cengkeram dengan erat hingga sang empunya meringis.
"Jangan berpikir bahwa akan ada orang yang berpihak dan menolongmu di hutan belantara ini. Kami berdua akan menjadi mimpi buruk untukmu selama disini! Jadi, nikmati saja!" ucap Becky seraya melepaskan rahang Mauren dan kembali duduk dengan tenang ditempat semula.
__ADS_1