Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Melabrak istri selingkuh


__ADS_3

"Sial!" umpat Erik kasar sembari menendang ban motornya yang bocor. Pria itu menyugar rambutnya dengan kasar. Menengok kanan-kiri mencari tukang tambal ban terdekat.


Melihat tak ada tempat tambal ban di sekitar sana, Erik memutuskan untuk mendorong motornya. Sekali, dia singgah untuk bertanya pada orang sekitar dimana tempat tambal ban terdekat. Bapak-bapak yang ditanyainya menunjuk ke arah depan. Sekitar 300 meter lagi, katanya.


Erik menghapus peluh yang mengucur diwajahnya. Sang mentari sedang terik-teriknya di jam 12 siang. Lelaki itu harus tetap bertahan. Terus mendorong motor miliknya meski kemeja yang dia kenakan telah basah oleh keringat.


Sampai di tempat tambal ban, Erik akhirnya bisa menghela nafas lega. Satu botol air mineral dingin ia beli diseberang bengkel demi menghapus dahaga yang sejak tadi menyiksa. Mulai sekarang, dia harus berhemat sehingga meski tenggorokan menagih hal yang manis-manis, namun yang dapat dijangkau hanya air putih.


"Sisa 10 ribu," lirih Erik seraya menutup kembali dompetnya usai membayar biaya tambal ban sepeda motor miliknya.


Wajah lelaki itu tampak putus asa. Seumur-umur, inilah momen tersusah dalam hidupnya. Padahal, dulu uang 10 ribu tak berarti apa-apa baginya ketika masih hidup bersama Varissa.


Sepeda motor Erik berhenti ketika lampu merah menyala. Sambil menunggu lampu kembali hijau, Erik melihat-lihat ke sekitar. Berniat mengusir kebosanan dengan memperhatikan tingkah laku pengendara lain yang kadang memberi hiburan tersendiri baginya. Lalu, tiba-tiba saja matanya menangkap pemandangan yang aneh. Istri yang katanya sedang dinas ke luar kota tampak sedang berada didalam mobil BMW hitam mewah sambil memeluk lengan seorang pria dengan begitu mesra.


Tepat ketika lampu berubah hijau, mobil itu melesat cepat membelah jalanan kota. Erik yang sempat tertegun lekas mengembalikan lagi kesadarannya. Mengejar mobil itu dan membuntutinya dari belakang hingga sampai disebuah rumah yang terletak di blok perumahan yang terbilang masih baru dan cukup sepi.


Mata Erik membulat sempurna saat menyaksikan sendiri bahwa wanita yang dilihatnya adalah benar Mauren, istrinya. Wanita itu tampak tertawa senang dan sesekali mencium mesra pipi lelaki yang membawakan beberapa tas belanjaan ke dalam rumah. Tanpa pikir panjang, Erik segera turun dari motor. Melabrak masuk dan memergoki istrinya sedang berciuman panas bersama lelaki yang katanya adalah bos Mauren di kantor.


BRAK!!


Pintu rumah terbuka dengan lebar usai Erik melabraknya dengan emosi yang menggebu-gebu. Wanita yang pakaian atasnya sudah terbuka itu tampak kelabakan. Buru-buru, dia melepaskan diri dari lelaki yang tadi berada diatasnya lalu menyambar baju miliknya dan memakainya dengan cepat.


"M-Mas Erik?" ucap Mauren dengan wajah tegang.


"Pria sialan!" umpat Erik sambil berjalan menghampiri pria selingkuhan istrinya. Di pukulnya wajah lelaki itu hingga sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


"Kamu apa-apaan sih, Mas?" seru Mauren yang mendorong keras tubuh Erik dan malah melindungi pria selingkuhannya.


Erik mendengus. Menatap nanar ke arah Mauren yang sama sekali tak menampakkan wajah penyesalan. Sebaliknya, Mauren terlihat marah pada Erik yang sudah memukuli selingkuhannya.


"Jadi, ini yang kamu bilang dinas ke luar kota?" tanya Erik.


"Memangnya, kenapa? Kamu marah?" ujar Mauren balas membentak.


"Ya, jelas aku marah! Aku suami kamu, Mauren! Bisa-bisanya kamu tega bohongin aku dan malah kumpul kebo sama lelaki berengsek ini!" tunjuk Erik pada lelaki selingkuhan Mauren.


"Jaga ya, bicara kamu!" ucap Mauren dengan suara rendah. "Kamu pikir, gara-gara siapa aku sampai kayak gini, hah? Gara-gara kamu juga, Mas! Kamu sadar nggak, kalau aku bentar lagi akan lahiran? Memangnya, kamu pikir, melahirkan itu biayanya nggak sedikit? Belum kebutuhan bayi nanti, kebutuhan popok, susu. Siapa yang akan menanggung semua itu kalau bukan aku? Ditambah lagi, kebutuhan seluruh keluarga kamu, siapa yang menuhin selama ini? Kamu?" Mauren mendengus. "Bukan, Mas! Aku. Aku yang memenuhi semuanya dengan bantuan Mas Cipto."


Harga diri Erik sebagai seorang lelaki rasanya dicabik habis oleh Mauren. Memang benar. Semuanya selama ini telah ditanggung Mauren. Tapi, bukankah semua ini terjadi juga karena wanita itu? Segala kemalangan yang menimpa mereka terjadi karena hutang biaya pernikahan mewah permintaan Mauren.


"Kita bangkrut, juga gara-gara kamu, Mauren!"


"Siapa yang kamu bilang perempuan bodoh?" desis Erik dengan tatapan tajam.


"Ya, siapa lagi kalau bukan perempuan yang mau-maunya menanggung segala kebutuhan hidup kamu dan keluarga kamu selama bertahun-tahun itu, Mas!"


"Varissa tidak bodoh, Mauren!"


Mendengar ucapan Erik, Mauren tertawa sinis. "Oh, jadi sekarang kamu mulai ngebela mantan istri kamu itu? Kenapa, Mas? Berharap balikan sama dia lagi? Jangan mimpi! Ngapain harus balik sama lelaki kere bin benalu kayak kamu, kalau dia udah dapetin pria yang tanpa harus capek-capek kerja udah bisa menghasilkan uang? Bangun, Mas!" Mauren menjentikkan jarinya didepan wajah Erik. "Jangan mimpi ketinggian. Jatuhnya sakit."


PLAK!!

__ADS_1


Tanpa sadar, Erik melayangkan tamparan keras ke pipi Mauren.


"Jangan asal bicara, Mauren! Varissa bukan perempuan licik kayak kamu."


Mauren mendengus sembari memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras dari Erik. Sementara, pria selingkuhannya hanya duduk santai menyimak pertengkaran mereka tanpa berniat membantu sama sekali.


"Terus aja kamu belain mantan istri kamu itu, Mas! Toh, aku juga udah nggak tahan hidup sama kamu. Segera setelah bayi ini lahir, aku mau cerai dari kamu."


"Nggak perlu nunggu sampai bayi itu lahir, Ren! Aku ceraikan kamu sekarang juga. Jadi, mulai hari ini, nggak usah kembali ke rumahku lagi. Barang-barang kamu, akan ku kirimkan lewat jasa pengiriman ke alamat ini secepatnya."


Jantung Mauren rasanya hampir copot mendengar ucapan Erik. Tidak! Tidak secepat ini dia ingin bercerai. Kemana dia akan bernaung jika Erik mengusirnya dari rumah? Sementara, rumah yang sekarang dia tempati berbuat mesum bersama Cipto, atasannya adalah milik anak dari lelaki itu.


Sigap, Mauren berlari keluar. Menyusul Erik yang sudah hampir melewati pagar depan rumah itu.


"Mas! Kamu nggak bisa menceraikan aku secepat ini!" teriak Mauren panik seraya menahan lengan Erik. "Setidaknya, pikirkan bayi kita."


"Bayi kita?" Erik menghela lengannya keras hingga pegangan Mauren terlepas. "Kamu yakin, kalau itu bayi milikku dan bukan milik pria itu atau pria lain yang nggak aku tahu?"


"Y-Ya iyalah, Mas! Ini jelas bayi kamu." Mauren menjawab gugup.


"Aku bukan lelaki bodoh, Mauren!" bisik Erik dengan suara rendah. "Aku akan ajukan tes DNA untuk membuktikan siapa Ayah kandung dari bayi itu. Apa kamu siap? Karena, kalau terbukti itu bukan bayi aku, maka aku akan tuntut kamu di pengadilan."


Mauren membatu mendengar ancaman Erik. Tidak! Itu tak boleh terjadi. Karena jelas, bayi yang dikandungnya memang bukan milik Erik.


"Kamu dapat uang darimana buat tes DNA, Mas? Kamu pikir, biaya tes DNA itu nggak mahal?" cibir Mauren yang masih berusaha menekan Erik.

__ADS_1


"Kamu nggak perlu khawatir, Mauren!" Suara Erik kembali meninggi. Istrinya yang sekarang benar-benar tak punya sedikitpun penghargaan untuk dirinya. "Kalau perlu, aku akan jual semua barang-barang milikku yang tersisa demi tes DNA itu."


__ADS_2