Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Rapuh


__ADS_3

Sama seperti dulu, tatapan mata itu tak pernah berubah ketika menatap sosok Varissa. Selalu terlihat sendu dan penuh damba meski wanita yang dia tatap hanya akan selalu menjadi sebatas angan. Setidaknya, sampai lebih setengah tahun yang lalu. Dan, kini harapan itu tiba-tiba datang. Kesempatan untuk mencintai wanita pujaannya dengan bebas tanpa batasan kini telah bisa Dikta rasakan.


"Jangan lihat aku kayak gitu," ucap Varissa. Telapak tangannya menutupi sepasang mata tajam yang sedari tadi menatapnya lekat enggan berpindah.


"Aku suka," tutur Dikta singkat. Telapak tangan kecil itu dia singkirkan dari wajahnya. Mengelusnya dengan lembut lalu menggenggamnya dengan jemarinya yang kokoh dan kuat.


Wanita itu tersipu malu. Pria yang saat ini sedang berdiri di sampingnya benar-benar pandai membuat hati wanita melambung tinggi.


"Tangan kamu mungil sekali, Va!" Dikta tersenyum. Mengamati jemari kecil yang berada dalam genggamannya dengan seksama.


Riak bahagia jelas terpancar di wajahnya. Mood-nya meningkat drastis berkat pelukan yang diberikan Varissa beberapa saat yang lalu.


"Tangan kamu aja yang kegedean." Varissa turut tersenyum.


Dikta mengangkat tangan mereka yang saling bertaut ke udara. Mengamatinya jauh lebih lekat seraya berkata, "Tapi, entah kenapa, tangan kamu memang jauh lebih cocok berada dalam genggaman tanganku."


Dia menoleh. Menatap lembut pada wanita yang semakin bertambah salah tingkah akibat ulahnya.


"Katanya mau jauh-jauhan dulu," ujar Varissa mengingatkan. Dia memalingkan wajah, malu.


"Aku udah berusaha. Tapi, kamu yang selalu mancing."


Varissa mendongak. Menatap sengit pada lelaki tinggi berambut panjang yang terus menampakkan senyum indah sedari tadi. Hendak protes pada ucapan Dikta barusan namun yang dikatakan lelaki itu juga ada benarnya.


Memang, dia yang selalu tanpa sadar menempel pada lelaki itu lebih dulu. Entah karena memang sudah kepalang cinta, atau karena adanya faktor lain, Varissa juga tidak paham. Satu yang dia pahami, Dikta hanya bisa menerima masukan ketika Varissa menyampaikan dengan cara seperti tadi. Memeluk.


"Varissa!"


Erik melangkah cepat menghampiri Dikta dan Varissa yang masih berada didalam ruang rapat berdua. Matanya menyipit tajam saat melihat tangan sang mantan istri digenggam erat oleh lelaki lain tepat dihadapannya. Ada sebagian dari diri Erik yang menolak terima pada pemandangan yang tersaji dihadapannya.


"Kalian ngapain berduaan di sini?" tanyanya sedikit sinis.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Apa ada larangan yang melarang aku dan Dikta berada disini?" Varissa balik bertanya. Makin mengeratkan genggaman tangannya dengan Dikta.


Erik mendengus. Memang terdengar bodoh jika dia menanyakan hal seperti itu pada Varissa. Bukankah, lelaki yang bersama dengan mantan istrinya itu juga bukanlah orang asing? Dia saudara angkat Varissa. Setidaknya, itu yang Erik pahami dari kedekatan mereka.


"Aku mau bicara penting sama kamu. Apa kamu ada waktu?" tanya Erik mengalihkan pembicaraan.


Ditilik dari ekspresinya, Varissa sedikit banyak sudah bisa menebak apa yang akan lelaki itu katakan. Namun, saat ini Varissa tidak sedang berada dalam fase untuk memberi kesempatan atau toleransi terhadap perlakuan jahat Erik selama ini terhadapnya dan beberapa orang kantor.


"Jika kamu ke sini untuk meminta kesempatan kedua di perusahaan ini, sebaiknya kamu mundur aja, Mas! Aku nggak akan pernah mempercayai orang selicik kamu untuk memimpin perusahaan peninggalan Papaku lagi."


"Aku nggak kemari untuk hal itu, Va!" Erik tertunduk lesu. Menatap wajah Varissa dengan sendu dan seolah rapuh.


"Apa kita bisa bicara berdua saja?" mohonnya penuh harap. Nada bicaranya terdengar rendah, memelas. Ditatapnya pria yang berdiri tegap disisi mantan istrinya. Menatap penuh iba, meminta pengertian melalui bahasa kalbu sesama laki-laki.


Varissa menatap Dikta meminta persetujuan. Dan, lelaki yang berdiri disampingnya itu mengangguk. Mengurai genggaman tangan mereka secara perlahan, lalu beranjak keluar dari dalam ruangan itu meski kakinya terasa berat untuk diayunkan.


"Kamu mau bicara apa, Mas?" tanya Varissa setelah pintu itu berdecit tertutup.


Erik tiba-tiba berlutut. Menitikkan air mata sambil menatap wajah Varissa dengan netra yang mulai memerah.


"Mas? Kamu ngapain, sih? Ayo berdiri!" Wanita yang berdiri dihadapannya berusaha membuat dia untuk bangun. Namun, Erik menolak.


"Aku benar-benar bodoh sudah meninggalkan kamu demi perempuan lain, Va! Tolong maafkan aku!"


Kepala lelaki itu bersandar di perut datar Varissa. Kedua lengan kokohnya melingkar erat memeluk pinggang ramping mantan istrinya.


Satu hati yang sedang menyaksikan melalui celah pintu seketika hancur. Susah payah, Dikta menelan salivanya yang mendadak kering. Gemuruh hebat menghantam bagian dalam dadanya. Sakit. Sesak ketika menyaksikan wanita yang dia cintai tak berkutik sama sekali saat lelaki yang dulu pernah hidup bersamanya datang meminta maaf dan menawarkan benang baru untuk dirajut kembali dari awal.


Tak perlu menunggu lama, lelaki itu bergegas pergi. Dia tahu, semakin lama berada disana, semakin sakit, hati yang selama ini telah berjuang untuk sembuh.


"Maaf, Mas! Kisah kita sudah selesai. Aku harap, kamu bahagia dengan pilihan yang sudah kamu ambil secara sadar selama ini."

__ADS_1


"Tapi, aku benar-benar merindukan kamu, Va!" lirih, Erik masih memohon. Membuang harga diri demi menggapai cinta yang terlanjur sudah ia buang.


"Rindu?" Varissa tertawa. "Kisah kita sudah berlalu. Seharusnya, tidak ada lagi rasa yang tertinggal setelah kamu yang dengan sangat sadar sudah membuang dan mengabaikan aku terlebih dulu, Mas!"


"Maaf!" Varissa melepas kedua tangan Erik secara perlahan.


"Dulu aku sudah berusaha membuat kamu bahagia dan ternyata itu tidak cukup untuk kamu. Dan, sekarang aku menyerah dan sudah waktunya aku untuk membuat diriku sendiri berbahagia! Aku permisi!"


"Mau kemana, Va?" Erik bertanya bingung.


"Mengejar kebahagiaanku sendiri," jawab wanita itu tersenyum.


Langkah kakinya terayun cepat menyusuri setiap sudut gedung perkantoran seraya terus menghubungi nomor Dikta. Tak ada jawaban. Entah kemana lelaki itu saat ini sedang menyembunyikan diri demi mengatasi lukanya sendiri. Kebiasaan lama yang sudah Varissa hafal meski tidak pernah tertarik untuk mengungkit hal itu dihadapan Dikta.


Tiba di rooftop gedung bertingkat 25 itu, Varissa akhirnya menemukan sosok yang dia cari. Sedang bersembunyi dibalik tembok pembatas sambil menekuk kedua lututnya dan menyembunyikan wajah tampan itu dalam telapak tangan.


Pelan, Varissa mendekat. Sekali lagi, dia yang mendekap lelaki itu pertama kali. Memeluk punggung lebar itu dari belakang sambil menyembunyikan wajahnya di bahu lebar lelaki itu.


Tak perlu berbalik, Dikta tahu siapa yang saat ini sedang memeluknya. Harum aroma tubuh Varissa tak ada duanya. Meski dengan mata tertutup, Dikta mengenali aroma yang hanya dimiliki wanitanya.


Diraihnya jemari tangan kanan wanita itu lalu mengecupnya penuh cinta dan kasih sayang yang mengharu biru.


Dapat Varissa rasakan, cairan hangat yang membasahi tangannya. Lelaki itu sedang menangis.


"Kenapa pergi?" lirih Varissa bertanya. Degup jantung kian bertambah cepat ketika bibir lembap Dikta terus saja melabuhkan kecupan di telapak dan punggung tangannya berulangkali.


"Aku pikir kamu akan kembali pada dia." Suara serak itu nyaris tak terdengar.


"Untuk apa?" tanya Varissa sambil menaruh dagunya di bahu Dikta.


"Aku takut, Va!" Dikta memutar sedikit tubuhnya hingga kini mereka dapat berhadapan.

__ADS_1


Hancur. Di mata pria itu tersirat banyak ketakutan dan rasa putus asa. Dimana pria kuat dan tangguh dengan otak jenius itu sekarang? Varissa nyaris tak mengenali pria yang saat ini sedang menangis dihadapannya.


"Bagaimana kalau aku harus kehilangan kamu untuk kedua kalinya? Apa yang harus aku lakukan?" Rapuh, dia bertanya dalam keputusasaan.


__ADS_2