Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Hati wanita


__ADS_3

Pernah nonton Alice in Wonderland? Ada sebuah adegan disalah satu filmnya dimana Alice tak sengaja jatuh dan terperosok ke dalam lubang kelinci. Andai hal itu benar nyata, maka Varissa juga mengharapkan kejadian seperti itu terjadi sekarang juga kepadanya.


Ia ingin ikut masuk kedalam lubang kelinci bersama Alice. Bersembunyi didalam sana selama mungkin demi menyelamatkan wajah yang kini hanya bisa tertunduk menahan malu karena kepergok Nenek Widya dan menimbulkan kesalahpahaman diantara semua orang.


Dan sekarang, tatapan mata mereka seolah menghakimi Varissa. Dapat Varissa lihat, mereka semua bahkan berusaha menyembunyikan tawa geli mereka dihadapan Varissa.


"Jangan ngelamun aja, Va! Dimakan Coto-nya. Mana kuat lanjut main kuda-kudaan kalau nggak makan yang banyak," celetuk Nenek Widya menggoda.


Hah!! Tambah memerah pipi Varissa. Rasanya ingin menangis saja.


"Jangan digodain terus dong, Bu! Kasihan Varissa-nya," sela Sani yang mengerti betul bahwa Varissa pasti sangat malu.


"Tapi, yang namanya pengantin baru memang harus keluar tenaga ekstra, Ni! Mau pagi, siang, malam bahkan subuh, kalau suami minta ya harus siaga." Bu Ami mencoba membela Nenek Widya.


"Betul itu," angguk Dikta setuju. Meski sedari tadi hanya berfokus pada makanan, namun rupanya lelaki itu menyimak semua pembahasan yang terjadi di meja makan.


"Uhuuukkk!" Wildan tiba-tiba tersedak. Sementara, Nenek Widya dan Sani mendadak terpaku. Sejak kapan Dikta bersedia nimbrung dalam percakapan mereka? Sementara, Varissa yang duduk disamping sang suami hanya menyikut lengan Dikta yang tak ditanggapi apa-apa oleh lelaki itu.


"Apa?" tanya Dikta yang baru selesai menyeruput kuah coto-nya. Ditatapnya orang-orang itu yang seketika kembali ke aktifitas masing-masing.


"Dikta juga nggak sabar punya anak, ya?" tanya Bu Ami. Hanya dia yang paling berani bercakap-cakap dengan Dikta tanpa takut tak ditanggapi. Mungkin, karena beliau bukan keluarga inti. Apalagi, beliau juga tidak terlibat dalam insiden pengasingan Dikta ke panti Asuhan yang berakibat dengan menghilangnya jejak Dikta karena diadopsi oleh Hadi Ananta.


"Iya, Oma. Tapi, kalau memang belum dikasih cepat, Dikta juga bisa sabar kok." Lelaki itu melirik istrinya sambil tersenyum kecil. Terus terang, Dikta tak ingin terlalu membebani Varissa perihal anak. Itu semua kehendak Sang pemilik kehidupan. Kapan diberi, itu sepenuhnya hak Tuhan. Namun, sebagai manusia, tidak ada salahnya untuk terus berusaha yang terbaik.


Nenek Widya mendadak murung. Ada rasa iri dalam hatinya saat melihat cucunya jauh lebih terbuka berbicara dengan Bu Ami dibanding dirinya. Ada rasa perih saat dia yang merupakan Nenek kandung dari Dikta justru terasa seperti orang asing dimata cucunya sendiri.


"Lagian, Nenek juga pasti nggak akan menuntut terlalu lebih ke cucu menantunya sendiri. Iya kan, Nek?"


"Eh?" Nenek Widya kembali mengangkat kepalanya. Rasa senang seperti memenuhi rongga dadanya dalam sekejap. Dia tidak tuli kan? Barusan itu benar cucunya yang bicara, kan?


Sani dan Wildan menatap Nenek Widya sambil tersenyum. Mereka menganggukkan kepala. Memberi isyarat agar Nenek tua itu lekas membalas ucapan Dikta.


"I-iya, Bu Ami. Saya nggak masalah kapan pun anugerah itu datang. Asal kedua cucuku hidup bahagia, itu sudah lebih dari cukup untuk nenek tua ini," ucap Nenek Widya dengan mata berkaca-kaca.


Dikta tersenyum kecil saat Nenek Widya menatapnya penuh arti. Dia pun kembali melanjutkan makan meski ada rasa kasihan kepada sang Nenek yang terus ia diamkan.


Selesai makan, Dikta meminta waktu untuk berbicara dengan Neneknya. Tentu saja, wanita tua itu mengabulkan dengan senang hati. Dan, disinilah mereka sekarang. Duduk berdua dalam hening di gazebo belakang rumah sambil menikmati udara malam yang menyejukkan.


"Kapan Nenek pulang?" tanya Dikta membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Besok pagi. Nenek rencananya akan ikut mampir ke rumah adiknya Om kamu sebelum langsung ke rumah."


Dikta mengangguk. Kedua tangannya saling meremas kuat dengan perasaan yang sulit digambarkan. Jujur, perasaan dibuang itu sudah hilang. Namun, entah kenapa sulit sekali baginya untuk mengakrabkan diri kembali dengan keluarganya.


"Nek, apa perbuatan Dikta menyakiti Nenek?" tanya Dikta lagi.


"Maksudnya bagaimana, Ta?" tanya Nenek Widya bingung.


"Maaf kalau Dikta terlalu abai dan jarang bicara. Hanya saja, terkadang Dikta bingung harus memulai pembicaraan dengan cara seperti apa."


Nenek Widya menggeleng. Sedikit memberanikan diri, ia meraih kedua tangan cucunya. Tangan yang dulu bisa ia genggam sepenuhnya itu kini terasa sangat besar dan tak muat dalam genggamannya. Seketika, luruh kembali air mata dari sepasang netra tua itu.


"Kenapa, Nek?" lirih Dikta.


Nenek Widya kembali menggeleng. "Nggak apa-apa. Hanya saja, Nenek benar-benar tersadar kalau waktu yang berlalu sungguh sudah sangat lama. Lihat!" Ia mengangkat kedua telapak tangan Dikta. "Dulu, tangan ini muat dalam genggaman Nenek. Tapi sekarang? Perbedaannya sudah sangat jauh!"


"Kalau begitu, tinggal dibalik saja." Dikta kemudian bergantian menggenggam kedua tangan Neneknya yang sudah keriput itu. "Sekarang, giliran Dikta yang menggenggam telapak tangan Nenek seperti ini. Bagus, kan?"


Wanita tua itu mengangguk dengan diiringi air mata yang semakin deras mengalir. Dan, melihat itu semua, Dikta memeluk tubuh renta Neneknya. Mengusap air mata wanita tua itu lalu menepuk-nepuk bahunya.


"Maafkan Dikta, Nek! Dikta tahu kalau sikap Dikta sudah menyakiti hati Nenek. Hanya saja, Dikta juga butuh waktu untuk bisa seperti dulu. Tolong, jangan berpikir kalau masih ada amarah dan dendam dalam hati Dikta. Karena semua itu, sungguh sudah tidak ada. Dikta menyayangi Nenek. Begitu juga dengan Tante Sani dan Om Wildan. Dikta mencintai kalian semua."


Dari kejauhan, Varissa turut menyeka air matanya. Sani dan Wildan yang berdiri disebelahnya juga turut tak bisa membendung rasa haru. Ini melegakan. Setidaknya, mereka sudah tahu apa isi hati Dikta yang sebenarnya.


*********


"Darimana?" tanya Varissa yang berpura-pura tidak tahu kejadian tadi.


"Bicara sama Nenek," jawab lelaki itu seraya menutup pintu kamar. Setelah itu, dia mulai berjalan menuju ke tempat tidur kemudian melompat ke atasnya sambil meraih guling untuk dia peluk.


"Ngobrolin apa?" cecar Varissa lagi. Padahal, dia mendengar semua percakapan antara Dikta dan Nenek Widya tadi.


"Kepo," ucap Dikta sambil mencubit hidung Varissa.


Varissa mendengus. "Salah kalau aku pengen tahu?" tanyanya sedikit kesal.


"Salah kalau aku nggak mau kasih tahu?" balas Dikta sembari menjulurkan lidahnya. Sengaja betul memancing kekesalan istrinya.


"Taaa...," geram Varissa. Dipukulinya Dikta dengan bantal yang tadi berada diatas pangkuannya.

__ADS_1


"Ih, main KDRT!" ucap Dikta dengan lengan yang menangkis pukulan bantal Varissa.


"KDRT apanya? Dipukul bantal kayak gini, mana berasa, Ta!" sungut Varissa kesal.


"Tetap aja namanya pemukulan."


"Tapi kan, nggak bikin sakit."


"Siapa bilang?" tanya Dikta yang semakin gencar membuat Varissa kesal.


"Kan, yang dipukul aku. Jadi, yang ngerasain sakit atau nggak, juga aku. Kok malah kamu yang sok tahu?"


Varissa menggeram kesal. Ingin rasanya dia meninju suaminya saat ini juga. Tapi, memikirkan betapa liat tubuh lelaki itu, Varissa mengurungkan niatnya. Alih-alih membuat Dikta kesakitan, mungkin justru jari tangannya yang malah akan patah jika meninju perut kotak-kotak itu.


"Kamu nyebelin." Pada akhirnya, hanya kalimat itu yang bisa Varissa ungkapkan.


"Ih, ngambek. Dasar perempuan!"


"Bodo'," jawab Varissa.


"Mau sampai kapan ngambeknya?" tanya Dikta yang mepet ke dekat Varissa.


"Sana jauh-jauh!" perintah wanita itu dengan muka cemberut.


"Gini?" Bukannya menjauh, tubuh Dikta makin menempel pada Varissa.


"Jauh-jauh, Ta! Bukannya deket-deket," protes Varissa dengan mata mendelik. Tapi, yang dilakukan Dikta justru malah melingkarkan kedua lengannya memeluk tubuh Varissa dengan erat.


"Biasanya, perempuan kalau lagi marah, selalu ngucapin hal yang sebaliknya. Kalau diminta jauh, artinya justru malah minta dideketin, kan?"


"Kamu sok tahu!" ucap Varissa sambil berusaha melepaskan pelukan Dikta. "Lepas, nggak?"


Dikta menggeleng yang membuat Varissa semakin mendelik kesal.


"Lepas!" ucap Varissa lagi.


Dan kembali, Dikta menggeleng.


__ADS_1



__ADS_2