
Tak ada yang mampu Mauren lakukan ketika seluruh barang-barang miliknya yang dikirim Erik melalui jasa pengiriman, telah dilemparkan kembali ke halaman oleh lelaki selingkuhannya. Dengan mata sembap, dia menatap nanar pada pria tinggi berkulit sawo matang dihadapannya. Tak sedikit pun rasa kasihan yang tersirat di mata Cipto. Sebaliknya, lelaki itu tampak menyeringai puas melihat betapa naasnya nasib Mauren kini.
"Kamu tega mengusirku setelah semua yang kita lalui, Mas?" tanya Mauren penuh rasa putus asa.
"Memangnya, apa yang sudah kita lalui, Mauren?" Cipto semakin menyeringai lebar. "Kau tahu sendiri kalau kita ini hanya saling berbagi kesenangan, kan? Dan sekarang, kesenangan itu sudah berakhir!"
"Mas...," Mauren menggeram. Tega sekali pria itu membuangnya setelah dia mati-matian berjuang membelanya didepan Erik.
"Kau pikir, aku benar-benar akan menaruh hati pada perempuan rendah sepertimu?" Lelaki itu bersedekap. Tatapannya memandang Mauren seperti sedang menatap kotoran. Jijik.
"Setidaknya, kasihani aku, Mas! Aku harus tinggal dimana lagi kalau kamu juga mengusirku?" Wanita yang sedang hamil itu merangkak mendekati pria yang berdiri dengan congkak di hadapannya. Ia bersujud di kaki lelaki itu. Memohon demi kelangsungan hidupnya yang sudah berada diujung tanduk.
"Aku sudah mengasihani kamu dengan masih mempekerjakan kami di kantorku. Bukannya itu sudah lebih dari cukup?"
"Tapi, Mas...," Mauren mendongak. "Aku nggak mau kerja sebagai staf admin biasa."
Cipto mendengus. Tiba-tiba, dia mendadak emosi mendengar ucapan Mauren. Ia kemudian memaksakan senyum. Menekuk kedua lututnya lalu menjambak rambut panjang Mauren secara tiba-tiba.
"Dengar perempuan murah! Aku tidak suka tawar menawar dalam hal apapun. Terlebih lagi, dengan perempuan sampah sepertimu. Memangnya, aku ini lelaki bodoh seperti suamimu itu?" Cipto tertawa. "Jangan mimpi!" Semakin menguatkan jambakannya di rambut panjang Mauren.
"Siapa yang berminat dengan perempuan hamil sepertimu, hah? Siapa?" Ia melepaskan jambakannya dari rambut Mauren seraya berdiri kembali.
Mauren meringis menahan sakit. Wanita itu tersenyum getir seraya menggeram menahan amarah.
__ADS_1
"Kalau tidak minat, kenapa masih mau meniduriku berulang-ulang, Mas? Bukannya karena kamu suka?" tanya Mauren dengan seringai tipis.
Tanpa disangka, Cipto justru tertawa lebar. "Kau yang selalu menggodaku, Mauren! Yang namanya kucing, tentu akan dengan senang hati memakan ikan asin jika terus disodorkan dengan sengaja. Apa kau lupa, seperti apa trikmu dalam menggodaku?" Lelaki itu menghela nafas seraya menatap kasihan pada Mauren. "Jujur saja! Aku sebenarnya tidak berminat pada wanita hamil sepertimu. Tapi, aku juga penasaran, seperti apa rasanya berselingkuh dengan istri orang. Dan, rasa penasaran itu sudah terpenuhi. Jadi, untuk apa lagi aku harus terus bermain denganmu?" Dia mengangkat kedua tangannya seraya mengendikkan bahu.
"Jahat kamu, Mas!" geram Mauren dengan suara tertahan.
"Aku? Jahat?" Alis pria berkulit sawo matang itu terangkat. "Ayolah, Mauren! Kau dan aku tidak ada bedanya. Kenapa kau harus men-judge aku seperti itu? Ngaca woy!" ucapnya membentak di akhir kalimat.
Mauren tersenyum sinis. Dengan tatapan penuh amarah dia hanya terus memandangi lelaki itu.
"Berani kau menatapku seangkuh itu?" tanya Cipto tak senang. Ia kembali menekuk kedua lututnya lalu mencengkram dagu Mauren dengan keras.
"Jangan terlalu banyak tingkah, J*l*ng! Seorang wanita yang hanya mengandalkan tubuhnya untuk mendapatkan seorang lelaki sepertimu tidak akan pernah dipandang terhormat! Sadarlah! Hanya Erik satu-satunya pria bodoh yang bisa kau perdaya. Sementara aku? Aku tidak sebodoh dia yang akan dengan rela meninggalkan istri artisku demi perempuan murahan sepertimu! Berapa sih, harga diri yang kamu miliki sehingga harus aku pilih?"
Mauren berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjungkal kebelakang ketika Cipto melepas cengkeramannya dengan kasar. Wanita itu kembali meneteskan airmata. Penghinaan dari Cipto sudah lebih dari cukup untuk membuat kupingnya serasa berdengung hebat.
Usai mobil Cipto meninggalkan halaman rumah itu, Mauren berusaha untuk berdiri. Lututnya yang gemetar berusaha dia paksa untuk bekerjasama. Dia harus bisa meninggalkan tempat itu dan mencari tempat berteduh yang baru sebelum matahari terbenam.
Tak mudah berjalan sambil membawa satu koper besar dalam keadaan yang hamil besar pula. Ingin naik angkot, rasanya terlalu gengsi. Ingin naik taksi, takut uang yang dimilikinya tak akan cukup untuk menyewa tempat yang layak. Hingga, sebelum sang cakrawala benar-benar tergelincir diufuk barat, akhirnya Mauren menemukan tempat berteduh. Kondisinya memang sedikit pengap dan sempit. Hanya ada satu kasur, satu kipas angin serta satu lemari kecil untuk menyimpan pakaian yang tersedia dikamar itu. Letaknya juga berada didalam gang sempit. Namun, Mauren tak punya pilihan banyak. Uangnya hanya cukup menyewa tempat itu dan mau tak mau dia harus bisa menyesuaikan diri.
"Lihat saja kamu, Cipto! Aku tidak akan menyerah secepat ini! Aku akan membalas dendam untuk semua yang sudah kamu lakukan padaku!" ucap Mauren penuh sakit hati.
Keesokan harinya, Mauren masuk kerja dengan wajah tertunduk menahan malu. Beberapa bisik-bisik karyawan yang menyumpahi serta menertawakan dirinya masih dapat dia dengar. Bahkan, dua-tiga orang ada yang sengaja mengikutinya dan menyindir secara terang-terangan.
__ADS_1
"Lihat nih! Si perempuan penggoda akhirnya dibuang juga."
"Yo'i! Udah kehilangan taring tuh, dia sekarang. Langsung jadi anak kucing deh!" imbuh yang lain sambil diiringi tawa serempak.
Merasa panas dengan sindiran itu, Mauren lekas berbalik dan menghadap ketiga orang yang membicarakannya.
"Apa kalian bilang?" tanyanya penuh amarah.
"UPS! Si perempuan penggoda marah tuh!" ejek salah satu diantara mereka.
"Siapa yang lu bilang perempuan penggoda?" Mauren sudah bersiap menjambak rambut karyawati itu.
"Ya elu lah!" sungut yang lain sambil berusaha melindungi temannya. "Lagian, udah melendung kayak bola, masih aja kegatelan! Gak tahu diri!"
"Kalian...,"
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Cipto datang dan membuat kegaduhan itu berakhir dengan cepat. Tiga karyawan yang mengejek Mauren tadi tampak tertunduk takut melihat atasan mereka tiba-tiba muncul.
"Mereka yang mulai!" ucap Mauren sambil menunjuk ketiga lawannya.
"M-Maaf, Pak!" ucap salah satu diantara pegawai itu mewakili teman-temannya.
"Lebih baik kalian kembali bekerja saja! Jangan bikin keributan di kantor ini kalau masih ingin tetap bekerja. Terutama kamu!" tunjuk Cipto pada Mauren. "Ini peringatan terakhir dari saya. Sekali lagi kamu buat kesalahan, maka karir kamu dikantor saya akan selesai! Ingat itu!" imbuhnya seraya berlalu dengan angkuh bersama seorang sekretaris baru yang tampak jauh lebih seksi dan menggoda dari Mauren. Sekretaris barunya bahkan tampak menyeringai sinis ketika bersitatap dengan Mauren.
__ADS_1
"Cih! Kasihannya yang dibuang!"
Mauren menggeram marah. Cipto dan ketiga karyawan itu benar-benar merusak paginya.