Aku tahu kau selingkuh

Aku tahu kau selingkuh
Kesepakatan


__ADS_3

Terlihat Dikta dengan santai menyalakan sebatang rokok sambil bersandar disalah satu tiang depan kantor polisi. Pengacaranya bersama Erik sedang mengurus pembebasan Tika didalam. Sementara,dia hanya menunggu dan enggan terlibat terlalu jauh dalam membantu Erik.


Kepulan asap putih pekat itu melayang di udara. Sang empunya tampak menatap langit suram diatas sana. Tak ada bintang yang gemerlap. Hanya gelap yang menandakan mungkin akan turun hujan lebat dalam beberapa jam ke depan.


"Pak Ryan," sapa seorang pria kisaran 40-an tahun dengan sopan terhadap Dikta.


Lelaki itu menoleh. Rokok yang tadi dia hisap lekas ia buang lalu dimatikan dengan cara menginjaknya. Berdirinya yang tadi bersandar kini sudah tegak dengan kedua tangan yang disembunyikan didalam saku celana Chino yang dikenakannya.


"Bagaimana?" tanya Dikta.


"Sudah beres. Semua berjalan sesuai keinginan Bapak," jawab pria itu.


"Terimakasih," ucap Dikta seraya menganggukkan kepala.


"Ya, itu sudah tugas saya sebagai tim pengacara Bapak," sahut lelaki itu lagi sambil membungkuk hormat.


Tak berselang lama, Erik dan Tika ikut keluar. Ada senyum di wajah Erik meski tak sumringah. Sementara, wajah Tika tampak datar-datar saja. Matanya bahkan terlihat kosong.


Tiba di hadapan Dikta, Erik lekas mengucapkan terimakasih dengan tulus.


"Aku tidak butuh terimakasih mu." Dikta berucap datar.


"Akan ku penuhi janjiku untuk meninggalkan kota ini."


"Tahu kan, konsekuensi yang harus kamu terima jika tidak menepati janji?" seringai tipis Dikta terlihat seiring kalimat yang keluar dari mulutnya.


Erik menarik nafas panjang. "Ya, aku tahu."


Tika memandang tak mengerti ke arah kakaknya. Namun, gadis itu juga enggan bertanya. Selain karena masih belum bisa menormalkan diri usai insiden dirinya yang mencelakakan Mauren, dia juga terintimidasi dengan kehadiran suami dari mantan kakak iparnya. Entah kenapa, Tika merasa tak pernah nyaman berdekatan dengan Dikta. Ada perasaan mencekam yang selalu menyengat meski wajah Dikta terlihat begitu tampan dan menarik mata setiap kaum hawa yang melihat.

__ADS_1


Dikta tampak mengulurkan telapak tangannya ke samping. Tepatnya, ke arah Pengacara yang tadi mengurus pembebasan Tika. Lalu, seperti sudah mengerti, sang Pengacara lekas membuka tas kerja yang sedari tadi dia bawa lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat ke tangan Dikta.


"Ambil untuk biaya kuliah adikmu!" tukas Dikta seraya menyerahkan amplop cokelat berisi uang cash sebesar 50 juta itu kepada Erik.


Erik tergagap menangkap amplop tersebut. Dibukanya amplop cokelat itu lalu terbelalak ketika melihat isinya.


"Kenapa kamu memberikan ini, Dikta?"


Pertanyaan itu menahan langkah Dikta yang sudah agak menjauh. Lelaki berkemeja hitam dengan tiga kancing teratas yang terbuka itu kembali berbalik. Tatapannya datar seperti biasa.


"Aku memberikannya bukan untukmu. Tapi untuk adikmu!" ucapnya seraya menatap Tika sekilas.


Tika yang ditatap reflek menundukkan pandangan. Rasa segan menjalar di sekujur tubuhnya kepada suami mantan kakak iparnya itu.


"Kenapa kamu masih berbaik hati pada kami?" tanya Erik dengan mata berkaca-kaca. Dia tak percaya. Saat dirinya terpuruk seperti ini, justru uluran tangan yang ada bukan dari keluarga yang biasa dia senangkan. Bukan juga dari teman-teman yang dulu mengerubungi saat dirinya masih banyak uang. Melainkan, justru dari keluarga mantan istri yang sudah ia khianati. Sungguh! Erik rasanya benar-benar tertampar.


"Kamu pikir, aku mau?" Dikta berdecak. Wajahnya tampak tak suka. "Aku hanya tidak ingin Varissa terus-menerus khawatir tentang masa depan adikmu. Andai bukan karena istriku, mana mungkin aku sudi membantu kalian!"


"Kak, sampaikan terimakasihku untuk Mbak Varissa," ucap Tika tanpa berani menatap lawan bicaranya.


Dikta tak menjawab. Sebaliknya, dia hanya terus menatap tajam Erik yang sedari tadi sudah merasa sangat terintimidasi.


"Ingat janjimu, Erik! Kalau kamu ingkar, kamu akan lihat, seberapa gila aku bertindak! Orangku akan selalu mengawasi di manapun kamu berada."


Dingin menusuk kulit Erik seiring ancaman yang Dikta layangkan. Dengan payah, Erik meneguk ludah. Ancaman itu bukan main-main. Apalagi, kini matanya telah terbuka lebar. Suami Varissa bukan orang sembarangan. Nama Ryan Edgar sudah melalang buana di jagat bisnis luar negeri sebagai seorang investor muda yang ulung. Terlebih lagi, Pengacara yang dibawanya juga bukan dari firma hukum sembarangan. Firma yang membawahi pengacara itu merupakan salah satu firma hukum yang sangat berkelas di negeri ini.


Setelah berhasil membuat Tika agar tidak di tahan, Erik bergegas kembali ke rumah kost-kostan-nya bersama sang adik juga ibunya yang ia jemput dirumah sakit. Retno yang kondisinya masih lemah sehabis pingsan tampak kebingungan melihat Erik yang membenahi pakaian mereka masuk kembali ke dalam tas dan koper. Sementara, Tika hanya diam. Duduk terpekur diatas tempat tidur dengan lutut ditekuk entah sedang memikirkan apa.


"Loh, Rik? Kok pakaian kita dimasukin koper lagi?" tanya Retno penasaran. Sambil bersandar di kepala ranjang, wanita paruh baya itu tampak terengah-engah mengatur nafas sambil memegang dadanya.

__ADS_1


"Kita akan pulang ke Jogja malam ini juga, Ma!" tukas Erik tanpa berbalik. Helai demi helai pakaian didalam lemari ia pindahkan dengan tangkas. Wajahnya yang kusut sangat terlihat sedang menyimpan sakit karena harga diri yang benar-benar sudah tidak ada.


"Loh, ngapain? Mama nggak mau!" tolak Retno tegas.


Erik menghela nafas. Meski mendengar penolakan dari sang ibu yang memang sudah ia tebak akan terjadi, emosi itu tetap saja memuncak di dada Erik. Bukan hanya Retno saja yang tak ingin pindah ke kota kelahiran tempat dimana para keluarga pihak Ayah begitu merendahkan mereka. Erik pun begitu. Terlebih lagi, dia tahu bahwa dengan kondisinya yang sekarang seperti ini, cacian yang akan mereka dapatkan mungkin saja akan jauh lebih menyakitkan.


Namun, Erik bisa apa? Inilah pertukaran yang harus dia lakukan demi mencegah Tika mendekam di penjara. Ditambah lagi, seorang Pradikta Anantavirya telah membuatnya menandatangani sebuah perjanjian yang melarang Erik muncul kembali di ibukota apalagi mendekati Varissa.


Jika hal itu dilanggar, maka Erik harus bersiap menghadapi tuntutan hukum yang selama ini telah ditangguhkan oleh Varissa untuknya.


"Tik, bisa bantu Abang?" Erik menoleh menatap sang adik yang masih duduk melamun di samping ibunya.


Gadis itu sedikit terperanjat. Lalu, mengangguk samar sebelum turun dari tempat tidur dan mendekat ke sisi Erik untuk ikut memasukkan pakaian ke dalam koper besar.


"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Erik lirih seraya mengelus rambut adiknya.


Gadis itu mengangguk lagi tanpa suara.


"Kamu keberatan kita pindah ke Jogja?"


Tika menoleh lagi. Menatap wajah suram Erik beberapa detik kemudian mengangguk untuk ke sekian kalinya.


"Apa-apaan sih kalian? Kalian nggak dengar, Mama bilang apa? Mama nggak mau pindah ke Jogja. Mama nggak sudi!" teriak Retno gusar.


"Ma, sudahlah! Mama pikir, Erik mau? Ini semua juga demi Tika. Demi kita semua," jawab Erik putus asa. Ia hanya bisa berharap agar ibunya mau mengerti.


"Demi kita? Kamu nggak mikir akan seperti apa respon keluarga Papamu disana? Mereka akan mengolok-olok kita yang bangkrut ini, Rik! Mama nggak mau!"


"Terus, kita harus gimana, Ma? Kalau kita nggak menuruti permintaan suami Varissa, yang ada masa depan Tika akan bertambah suram. Mama mau, anak perempuan Mama jadi narapidana?" Air mata mulai mengembun di sepasang mata sipit Erik. Diliriknya ekspresi wajah Tika di sebelahnya. Rasa kasihan menyeruak saat melihat adiknya hanya bisa tertunduk dengan tangan yang terus saja menyusun pakaian dengan rapi didalam koper.

__ADS_1


"Kamu, sih! Ngapain juga pakai acara minta sama suami Varissa. Harusnya, kamu ketemu Varissa langsung. Mama yakin, Varissa pasti akan membebaskan Tika tanpa adanya perjanjian konyol seperti ini."


"Dikta sekarang adalah suami Varissa yang sah, Ma. Wajar, kalau segala keputusan, Dikta yang mengambil alih." Erik menggeleng. Tak habis pikir dengan ibunya yang masih saja mempertahankan ego dan keras kepalanya.


__ADS_2