
Setelah mendapatkan pelepasan nya Rafael melihat Bianca yang seperti nya sangat kelelahan, iya pun memilih membersihkan tubuhnya lebih dulu agar bisa bersikap untuk keluar dari rumah yang telah memberikan banyak kenangan yang tidak akan mungkin terulang.
" bi..ayo bangun, kita harus bersiap sebelum pak Ridwan datang dan malah mengusir kita semua dari sini " ucap Rafael tabg sudah kembali rapih dan wangi.
Bianca pun duduk di atas tempat tidur karena tubuhnya yang terasa sangat remuk di tambah perutnya yang terasa kurang nyaman.
" mas.. Perut bi kayak ngga enak, kenapa ya.." ucap Bianca yang semakin merasakan sakit di perutnya.
" nanti setelah kita kembali ke rumah mu, kamu baru periksa kan perutmu sendiri " ucap Rafael cuek tanpa ada rasa khawatir pada Bianca.
" memang mas ngga bisa temenin ?" tanya Bianca yang melihat Rafael yang memang terasa cuek akhir akhir ini.
" mas ada urusan " ucap Rafael memilih keluar dari kamar tamu untuk melihat Revan.
" ayah .. mama mana ?" tanya Revan yang dari tadi menunggu di depan pintu kamar Rafael dan Bianca.
" mama masih siap-siap, revan di sini aja sama ayah " ucap Rafael sambil menuntun Revan ke ruang tamu.
" ayah bunda ngga papa kan ?" tanya Revan yang khawatir karena tadi sempat mendengar teriakan aneh dari dalam kamar.
" mama ngga papa " ucap Rafael sambil memikirkan bagaimana cara menyampaikan apa yang di putuskan Ayumi padanya.
" mas, mas belum jelaskan bagaimana alhasil pertemuan mas dengan Ayumi tadi " ucap Bianca sambil memegang perutnya yang masih terasa kurang nyaman.
" kita pergi dulu dari rumah ini, mas ngga mau kita sampai di usir dri rumah ini" ucap Rafael berusaha menghindar.
Bianca hanya bisa mengikuti apa yang di ucapkan Rafael karena akan sangat memalukan jika benar diri ya sampai di usir paksa.
Sedangkan Ayumi yang baru saja duduk di kursi yang memang tersedia di pinggir danau, mencoba menikmati suasana tenang karena memang hari sudah semakin sore.
" kita harus kuat sayang, mama tau jika ini sangat berat untuk kita, tapi kita harus bisa melewatinya kita tidak mungkin bisa menghindarinya " ucap Ayumi sambil membelai perutnya sendiri tapi pandangan nya jauh ke tengah danau yang terlihat sangat tenang.
" umi.." Ayumi yang sedang asik melihat danau pun langsung mencari orang yang memanggil nya dengan sebutan umi, siap lagi klo bukan Narendra.
" kak sedang apa di sini " ucap Ayumi yang hanya sekilas menatap Narendra selebihnya kembali melihat air danau yang masih terlihat tenang.
__ADS_1
" Kaka di sini karena melihat seorang wanita yang pura pura terlihat kuat dan tangguh seolah semua beban bisa iya tanggung sendiri tanpa harus berbagi dengan siapapun" ucap Narendra menyindir Ayumi.
Ya Narendra yang baru saja selesai bertemu dengan klien tak sengaja melihat Ayumi yang turun di pintu masuk danau dengan membawa tas yang iya yakini berisikan pakaian.
" untuk apa berbagi jika itu hanya akan membuat kita semakin sakit " ucap Ayumi yang malah menyambut pada membagi suami bersama wanita lain.
" bukan berbagi yang itu maksudnya, tapi membagi masalah mu dengan orang lain " ucap narendra yang memang tau jika Ayumi tipikal orang yang tertutup.
" baik lah jika kamu memang tidak ingin berbagi dengan kakak " ucap Narendra yang kecewa karena Ayumi masih saja tidak menganggap nya ada.
Narendra pun bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan Ayumi yang masih terlihat asik dengan dunianya sendiri. tapi baru saja beberapa langkah Narendra kembali berbalik menghadap Ayumi.
" mungkin jika kakak menghancurkan Rafael kamu baru mau membuka hati atau setidak nya mau membagi semua beban kamu sama kakak " Ayumi menatap tak percaya jika Narendra akan bisa melakukan hal itu.
" apa dengan membagi beban bisa menyembuhkan luka ?" ucap Ayumi yang masih asik menatap danau yang kini mulai ada riak gelombang karena Ayumi melemparkan batu kerikil ke tengah danau.
" apa dengan membuka hati bisa ada jaminan jika orang itu tidak akan melakukan hal yang sama dengan orang yang telah merusak kepercayaan kita " ucap Ayumi lagi bahkan masih dalam posisi yang sama.
" lalu apa dengan kamu bersikap seperti ini luka hati kamu bisa sembuh ?" tanya Narendra balik sambil berjalan mendekati Ayumi.
" kamu egois Ayumi jika terus bersikap seperti ini, hanya karena dua orang yang tidak berguna kamu juga menghukum orang orang di sekeliling kamu "
air mata Ayumi mengalir tanpa di pinta, tersadar setelah semua ucapan Narendra yang menyadarkan nya jika apa yang di lakukannya itu salah.
Narendra yang melihat Ayumi mulai menangis pun mengambil sapu tangan dan berlutut di hadapan Ayumi sambil menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Ayumi.
" menangislah jika itu bisa meringankan semua beban yang kamu rasakan "
" lepaskan semua beban yang ada di hati kamu, jangan menyimpan semua luka di hati yang nanti malah membuat hati kamu semakin terluka dan mati " ucap narendra yang sebenarnya ingin sekali merengkuh Ayumi dalam pelukannya.
" hukum semua yang telah menyakiti kamu, karena kamu harus kuat demi anak yang ada dalam kandungan mu " ucap Narendra yang kini memilih bangkit dan berdiri di depan Ayumi.
" ayo.. " Narendra mengulurkan tangannya ke arah Ayumi dan berharap Ayumi mau menyambut uluran tangannya.
Ayumi menatap tangan yang
__ADS_1
terulur di hadapannya lalu menatap pria yang sebenarnya bukan siapa siapa nya tapi begitu perduli padanya.
" kemana " yang masih dalam posisi duduknya bahkan tidak menyambut uluran tangan Narendra.
" jika kamu tidak ingin tinggal di rumah orang tua kamu, maka kamu bisa tinggal di apartemen Kaka saja "
Ayumi menatap tak percaya jika narendra bisa berpikir seperti itu sedangkan Narendra tersenyum karena berhasil membuat Ayumi mengalihkan pikiran nya.
" kamu tenang aja, kita tidak akan tinggal bersama hanya saja kita tinggal bersebelahan, jadi jika saat malam malam ada yang minta soto mie lagi kakak bisa langsung memberikannya langsung.
Mendengar apa yang di sampaikan Narendra membuat Ayumi menundukkan wajah nya merasa malu jika mengingat hal itu.
Ayumi pun berdiri dari duduknya tanpa menjawab apapun tentang ajakan Narendra
tapi dirinya mengarah pada mobil Narendra yang terparkir di pinggir jalan dekat gerbang danau.
" apa Ayumi yang harus membawa mobil ini sendiri ?" tanya Ayumi yang melihat Narendra diam di tempat nya tadi.
" ah iya .. ayo tuan putri yang sebentar lagi akan memiliki putri .." ucap narendra sambil menuju mobilnya dan mulai melajukan mobilnya ke apartemen yang akan Ayumi tinggali.
Sedangkan rafael dan Bianca yang baru saja sampai di rumah Bianca pun langsung terlibat perang mulut karena Bianca merasa tertipu dengan semua yang di ucapkan Rafael padanya tadi di rumah Ayumi.
" kenapa mas bohongi bi, jika memang tidak ada hasil kenapa seolah olah memiliki hasil " ucap Bianca yang masih merasa di tipu oleh Rafael.
" bukan tidak ada hasil, tapi belum kita tunggu saja anak mas dengan Ayumi lahir agar kita bisa mendapatkan hak itu ' ucap Rafael yang masih santai menghadapi Bianca.
" untuk apa kita menunggu anak itu lahir jika kita bisa membuatnya lahir sekarang " ucap Bianca sambil meninggalkan Rafael dengan penuh kekecewaan.
" akan ku buat anak itu lahir saat ini juga ..." gumam Bianca sambil memasuki kamarnya.
✍️✍️✍️ Rencana apa yang akan Bianca gunakan untuk mencapai tujuan yang iya inginkan 🤔🤔
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi UP nya.
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak ya biar R-kha lebih semangat lagi.
__ADS_1
Love you moreeeee 😍😍🌹