
Mobil Jazz warna putih berhenti di depan rumah kontrakan Rose. Sang pengemudi di dalamnya menatap layar ponsel yang memperlihatkan google maps yang menuntun perjalanannya sampai ke sana.
"Benar tidak?" tanya Nyonya Park pada suaminya yang duduk di balik kemudi.
"Benar, sesuai dengan sharelok yang dikirimkan Arkan," jawab Tuan Park seraya menoleh ke kanan sambil membuka kaca jendela mobil. Menatap deretan rumah kecil dengan ukuran dan cat yang sama—warna biru. Tak berselang lama keluar sosok Arkan dari salah satu rumah kecil berwarna biru.
Arkan berjalan menuju ke arahnya, wajahnya terlihat sumringah saat menyapanya.
"Appa, Amma, bagaimana perjalanan kalian? Pasti sedikit sulit ya?" sapa Arkan lalu membukkan pintu mobil untuk kedua mertuanya itu.
"Aigoo! Bagaimana bisa ada jalan sesempit ini di Jakarta?" Nyonya Park mengeluh sembari membenarkan penampilannya. Lalu menatap rumah kecil yang ada di hadapannya. "Itu rumah Rose?" tanya Nyonya Park pada Arkan dengan tatapan tak percaya, dia kira rumah Rose megah dan besar, tapi dugaannya salah.
Arkan mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kasta kalian berbeda!" dengus Nyonya Park.
"Jangan membicarakan kasta di Indonesia!" tegas Tuan Park pada istrinya yang menyamakan budaya Indonesia dengan budaya Korea. "Di Indonesia tidak ada perbedaan kasta seperti yang kau maksud!" lanjut Tuan Park dengan segala ketegasannya, membuat istrinya langsung bungkam.
__ADS_1
Tapi, di dalam hati Nyonya Park tetap saja tidak rela jika Arkan menikah dengan wanita tidak sederajat. Dengan langkah malas, dia berjalan mengikuti Arkan dan suaminya yang berjalan lebih dulu memasuki rumah kecil dan sempit itu.
Dengan gagah, Tuan Park memasuki rumah tersebut, memberikan salam dan menyapa semuanya yang ada di sana dengan ramah dan sopan.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Park, mari bergabung dengan kami," sapa balik Gerry pada besannya yang baru datang.
Ibu Sita yang sedang berada di dapur terkejut mendengar nama 'Park'. Kebetulan dapur dan ruangan depan tidak di sekat, jadi Ibu Sita langsung menoleh ke belakang, menatap sosok pria yang selama ini telah menorehkan luka di dalam dada. Piring yang dipegangnyalangsung lepas, terjun ke lantai, pecah dan pecahan beling berserakan di sana.
PYAR!!!
"Tidak mungkin! Tidak mungkin." Bibir ibu Sita terus menggumamkan kata yang sama, kedua matanya memerah menahan kesedihan serta air mata yang ingin meluncur keluar. Dadanya bergemuruh seperti gendrang yang mau perang. Hatinya mencelos sakit, dan rasa sesak mulai menyeruak dan memenuhi rongga dadanya. Kejadian 20 tahun yang lalu kembali bermunculan di benaknya, layaknya kaset video yang rusak dan sulit untuk di hilangkan.
Bumi yang dia pijak terasa goyah, tubuhnya limbung tapi dengan cepat salah satu tangannya berpegangan pada tembok yang tak jauh darinya.
"Ibu!" Rose langsung berdiri, menghampiri sang ibu dengan perasaan cemas dan khawati, lalu di susul oleh Arkan.
Arkan berjongkok dan memunguti pecahan piring dengan hati-hati lalu mengambil kantong plastik yang terselip di rak piring dan memasukkan semua pecahan piring tersebut ke dalam plastik, lalu memeriksa sekitar barang kali ada sisa serpihan yang tertinggal, takut mengenai kaki.
__ADS_1
Rose mengusap punggung ibunya dengan lembut. Menyadarkan ibunya yang tampak terkejut.
"Ibu, tidak apa-apa? Ibu kenapa?" tanya Rose beruntun, suaranya terdengar panik.
"I-ibu tidak apa-apa. Maaf, karena sudah mengacaukan semuanya, sepertinya gula darah ibu kembali rendah, tiba-tiba lemas," bohong Ibu Sita tapi terdengar sangat meyakinkan.
"Ibu, mungkin kelelahan. Ayo, istirahat dulu." Arkan membujuk calon ibu mertuanya.
"Tidak, ibu di sini saja," tolak Ibu Sita, dia tidak ingin bertemu dengan Tuan Park.
"Ibu, jangan seperti ini. Nggak enak sama keluarganya Arkan," bisik Rose penuh permohonan.
Ibu Sita menghela nafas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum menganggukkan kepalanya.
****
Like-nya jangan lupa ya bestie-ku semuanya ❤😘
__ADS_1