
Esok harinya. Setelah pulang bekerja, Rose dan Arkan duduk di sudut kafe sambil menikmati jus jeruk yang baru saja tiba di meja mereka. Rose menyedot jus jeruknya sambil melirik ke kanan dan ke kiri dengan resah.
"Kau terlihat tidak tenang," ucap Arkan seraya mengelus lembut punggung tangan calon istrinya.
"Iya, aku gugup. Beberapa waktu yang lalu aku biasa saja jika berhadapan dengan Tuan Park, tapi kali ini berbeda," jawab Rose dengan perasaan tidak karuan, kemudian menyesap jus jeruknya lagi, lalu menegakkan duduknya sambil meremas kedua tangannya secara bergantian.
"Aku paham dengan perasaanmu." Arkan tersenyum lalu meraih tangan Rose lalu menggenggamnya erat, menyalurkan ketenangan untuk wanita cantik itu.
Rose menoleh, menatap Arkan dengan pandangan tatapan yang sulit di jelaskan, "terima kasih, aku merasa sedikit tenang sekarang," ucap Rose membalas genggaman tangan Arkan.
"Tanganmu dingin sekali, apa tubuhmu juga dingin? Mau aku hangatkan nggak?" bisik Arkan tepat di dekat telinga calon istrinya itu. Dia sengaja menggoda Rose agar wanita itu keluar dari zona tidak nyaman.
Rose menyipitkan kedua mata, menatap penuh selidik pada Arkan, "kenapa kau jadi mesum begini sih? Atau jangan-jangan ini memang sifat aslimu? Dasar Wedus!" ucap Rose sangat kesal pada pria di sampingnya ini.
"Aku sekarang sudah tahu artinya wedus! Jadi jangan macam-macam denganku, Rose, kalau tidak ... aku akan membuatmu mendesah semalaman di atas ranjang," bisik Arkan sangat frontal, lalu tersenyum mesum pada calon istrinya.
Rose bergidik takut membayangkan kata-kata Arkan bila benar terjadi, dia langsung melepaskan tangan Arkan, lalu menggeser tempat duduknya, sedikit menjauh dari Arkan.
"Aku jadi takut berdekatan denganmu," ucap Rose, lalu menyedot jus jeruknya sampai habis tidak tersisa.
"Nggak masalah! Tapi, aku mempunyai banyak cara agar kau tidak bisa jauh dariku!" balas Arkan lalu menarik kursi yang di duduki oleh Rose hingga kembali berdekatan dengannya.
"Ih! Menyebalkan!" kesal Rose, menatap sebal pada Arkan.
Perdebatan kedua orang itu terhenti saat Tuan Park sudah hadir dan bergabung satu meja dengan mereka.
"Hai, apa kabar semuanya?" sapa Tuan Park ketika sudah duduk di kursinya. "Aku lihat kalian tadi sedang bercanda, kenapa sekarang diam?" tanya Tuan Park seraya menatap Arkan dan Rose bergantian.
__ADS_1
"Kami baik, Appa," jawab Arkan seraya melirik Rose yang terlihat suram.
"Emh ... sepertinya aku harus ke toilet sebentar." Arkan beralasan, karena ingin memberikan ruang pada Rose dan Tuan Park berbicara 4 mata, kemudian ia beranjak berdiri akan tetapi Rose dengan cepat menahan tangannya.
Rose melirik Arkan seraya menggenggam tangan kekar itu dengan erat, seolah tidak ingin ditinggalkan. Mau tidak mau, akhirnya Arkan kembali duduk sambil menggenggam tangan Rose di atas pangkuannya.
Suasana canggung di antara Tuan Park dan Rose sangat jelas terlihat.
"Hai, Rose, apa kabar?" tanya Tuan Park, mencoba mencairkan suasana yang terasa beku.
Rose menatap Tuan Park lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan, wajah cantiknya yang biasa cerah dan ceria kini terlihat dingin dan suram.
Tuan Park memberikan kode pada Arkan agar Rose mau bicara dengannya, akan tetapi Arkan menjawab dengan menaikkan kedua bahunya secara bersamaan, seolah tidak mau ikut campur dengan masalah ini, yang terpenting dia berada di samping Rose dan menenangkan calon istrinya itu.
Tuan Park menghembuskan nafas panjang, lalu berusaha membangun interaksi dengan Rose.
Rose mengangkat kepalanya yang tertunduk, lalu menatap pria paruh baya yang masih terlihat tampan meski usianya sudah tidak muda lagi. Garis kewibawaan terlihat jelas di wajah tampan pria yag ternyata ayah kandungnya.
"Aku tidak akan tanya kenapa Anda bisa meninggalkan aku dan Ibuku, aku juga tidak akan menuntut apa pun kepada Anda. Dari dulu sampai saat ini hingga detik ini, aku dan ibuku sudah hidup bahagia tanpa kehadiran Anda. Cukup bagiku mengetahui siapa ayah kandungku sebenarnya," ucap Rose sangat dingin, seraya menatap datar pada Tuan Park yang tampak di selimuti rasa bersalah dan penyesalan luar biasa.
Tuan Park mengangguk seraya mengusap air matanya yang meleleh tanpa di minta. Perkataan Rose bagaikan cambukan untuknya, hatinya ngilu dan sangat sakit saat mendengarnya. "Maafkan, Ayah, Rose, aku sungguh menyusali semuanya, tapi aku masih sangat mencintai ibumu. Andai waktu bisa diulang kembali, maka aku akan ..." ucapan Tuan Park terhenti ketika Rose memotongnya.
"Tolong, jangan ngganggu ibuku. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya. Jangan menempatkan ibuku pada posisi yang salah, karena Anda mempunyai istri yang sangat mencintai Anda." Rose memotong ucapan Tuan Park dengan tegas dan tegar, meski di balik perkataan itu terselip rasa sedih dan rasa kecewa yang begitu dalam pada Tuan Park.
"Tolong hiduplah selayaknya bersama Nyonya Park ... Ayah," lanjut Rose dengan suara bergetar dan menahan tangisnya ketika bibir mungilnya memanggil Tuan Park dengan sebutan 'Ayah'.
Tuan Park terisak sedih, seraya memijat pangkal hidungnya ketika mendengar kata 'Ayah' dari bibir putrinya yang selama ini terabaikan. Dadanya terasa sesak bagaikan di timpa batu besar, ketika rasa bersalahnya semakin mencuat kepermukaan.
__ADS_1
Begitu pula dengan Rose, dia juga merasakan rasa sesak yang sama. Tapi, bedanya, Rose tidak menyesal dengan semua perkataan yang sudah dia lontarkan pada Tuan Park.
Arkan menggenggam tangan Rose sangat erat, memberikan kekuatan pada wanita cantik itu.
"Aku rasa cukup sampai di sini pertemuan kita, terima kasih ... Ayah, karena sudah menyempatkan waktu untuk bertemu denganku," ucap Rose dengan sopan pada pria paruh baya itu.
"Tunggu, Rose! Aku tahu kalau kesalahanku tidak akan bisa di tebus hanya dengan kata maaf, dengan itu Ayah akan memberikan sebagian harta Ayah untukmu sebagai penebus rasa bersalah padamu dan juga ibumu," ucap Tuan Park terndengar sangat serius. Dia berharap Rose tidak menolak pemberiannya, karena dengan ini dia bisa menebus rasa bersalahnya.
Rose tersenyum samar, kemudian dia menjawab dengan tegas, "tidak, Ayah, terima kasih banyak atas tawarannya," jawab Rose tanpa ada keraguan.
"Baiklah, mungkin kamu masih ragu, tapi jika kamu berubah pikiran, maka segera hubungi Ayah," jawab Tuan Park dengan perasaan tidak karuan.
Rose hanya mengangguk saja sebagai jawaban karena dia tidak tahu harus berkata apalagi.
"Ayah boleh peluk kamu?" Tuan Park menatap Rose penuh harap.
Rose mengangguk diiringi dengan senyuman tipis.
Tuan Park senang bukan kepalang, dia langsung menghampiri Rose dan memeluk putrinya itu sangat erat, seolah menumpahkan segala kerinduan yang begitu besar. Suasana haru begitu kentara di meja tersebut. Rose menangis di pelukan sang ayah untuk pertama kalinya. Dan pertama kalinya juga dia merasakan pelukan dari Ayah yang ternyata sangat hangat dan begitu menenangkan.
"Hei! Jangan lama-lama pelukannya!" Protes Arkan seraya melepas paksa pelukan tersebut. Suasana haru yang sudah tercipta berganti menjadi suasan jengkel karena Arkan merusak segalanya.
"Arkan, aku memaluk putriku sendiri!" Tuan Park tidak terima.
"Dan putrimu ini adalah calon istriku! Jadi aku tidak terima jika Rose di peluk oleh Pria lain, walau pun itu Appa," jawab Arkan tidak mau kalah, dan ketus pada mertuanya itu.
"Shibal!" umpat Tuan Park menatap tajam Arkan.
__ADS_1