
"Hen, kamu yakin?" tanya Agus pada Hendra yang duduk di sampingnya, tepatnya di angkringan yang biasa untuk nongkrong mereka bersama dengan Rose.
"Yakin," jawab Hendra seraya menganggukkan kepala, sambil memakan sate usus dengan nikmat.
"Aku nggak nyangka loh kalau kamu ternyata selama ini menyimpan rasa sama Rose. Kalau calon suaminya tahu bisa habis kamu! Lebih baik kamu urungkan niatmu mengungkapkan perasaanmu pada Rose!" Agus memperingatkan Hendra, akan tetapi temannya itu hanya menaikkan kedua bahunya, acuh.
Agus menghela nafas panjang ketika melihat respons Hendra. Dia pun akhirnya diam sambil mengambil satu bungkus nasi kucing yang tersaji di hadapannya.
Mobil yang dikendarai Arkan parkir tak jauh dari angkringan yang masih terlihat sepi pada sore menjelang malam itu. Rose keluar mobil lebih dulu seraya menyisir rambut panjangnya dengan kelima jari tangan kanannya, sambil menatap Arkan yang baru keluar dari mobil dengan gagah dan penuh pesona. Calon suaminya itu memakai kemeja warna biru laut yang sangat kontras dengan kulit putihnya, lengan panjangnya di gulung sampai ke siku, dan kancing bagian depan di biarkan terbuka memperlihatkan dada bidang yang di tumbuhi bulu-bulu kasar.
"Ada apa?" tanya Arkan ketika sudah sampai di hadapan Rose yang menatapnya tak berkedip.
"Kancing kemejanya dibenarkan dulu," jawab Rose seraya menunjuk dada bidang Arkan yang terlihat sexy.
"Biarkan saja! Biar para cewek yang melihatnya pada ngiler!" ucap Arkan menggoda Rose, sekaligus ingin melihat reaksi Rose cemburu atau tidak.
Rose cemberut, dengan sebal mengancingkan kemeja Arkan sampai rapi. Setelah selesai, dia berjalan menuju angkringan yang baru buka itu, diikuti Arkan dari belakang.
Arkan mesam-mesem seperti orang waras sejak tadi, lantaran sikap Rose yang cuek, ketus tapi malu-malu memperhatikannya membuatnya menjadi gemas sendiri pada calon istrinya itu.
"Oh, jadi ini yang namanya angkringan?" gumam Arkan pada dirinya sendiri. Sepertinya mulai saat ini dia harus membiasakan diri dengan lingkungan istrinya yang penuh kesederhanaan.
__ADS_1
Rose dan Arkan memasuki angkringan yang berdiri di tepi jalan raya, tatapan mereka langsung tertuju pada dua orang pria yang sedang asyik menikmati nasi kucing yang khas.
"Hai, Hen, Gus," sapa Rose, ramah seraya tersenyum riang, menghampiri dua sahabatnya yang duduk di kursi panjang terbuat dari kayu jati.
"Hai, kirain sendirian!" ucap Hendra seraya menatap datar pada Arkan yang berdiri di belakang Rose. Sementara itu Agus melambaikan tangannya pada Rose sambil tersenyum tipis.
"Apa kau berharap Rose sendirian datang ke sini?!" Arkan menatap Hendra penuh curiga.
"Udah sih! Kenapa kalian jadi ribut sih!" omel Rose sekaligus menjadi penengah kedua pria yang sedang ribut itu.
Kemudian Rose mendudukkan diri di kursi panjang bersebelahan dengan Hendra, tapi dengan cepat Arkan menggeser posisinya, dan alhasil Arkan yang duduk di samping Hendra.
"Ada maksud apa kau menyuruh Rose datang ke sini?! Kau pasti ada maksud lain 'kan?" Arkan menatap tajam Hendra sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Arkan! Kita makan dulu, perutku lapar," ucap Rose pada Arkan yang terlihat emosi.
"Nggak bisa! Temanmu ini pasti ada niat lain sama kamu!" Arkan tidak mau mendengarkan ucapan calon istrinya, tatapan tajamnya tak lepas dari Hendra yang duduk di sebelahnya.
"Kau yang mempunyai niat kurang ajar pada Rose! Kau memaksa Rose agar mau menjadi ibu sambung untuk anakmu saja 'kan?!" balas Hendra tidak mau kalah.
"Kau pikir kau siapa berani berkata seperti itu kepadaku! Dan asal kau tahu aku menikahi Rose karena aku suka dan cinta sama dia!" Arkan semakin emosi pada Hendra, rasanya dia ingin menonjok pria tersebut.
__ADS_1
Rose memijat pelipisnya, pusing mendengar keributan itu, kemudian dia menatap Agus, memohon pada temannya itu agar menghentikan perdebatan tersebut, akan tetapi Agus malah menggeleng sebagai jawaban, seolah tidak mau ikut campur dengan keributan itu.
"Aku juga mencintai Rose dari zaman SMK sampai sekarang, dan kenapa kau merebutnya dariku?!" balas Hendra seraya membanting sendok yang dia pegang. Kesabarannya sudah habis, rasa cemburu dan amarah menyatu di dalam dadanya saat melihat wanita yang dia cintai dalam diam di akan menikah dengan Arkan.
Kedua mata Rose membola sempurna, terkejut saat mendengar pengakuan Hendra. Dia menatap temannya itu dengan tatapan tak percaya. Bisa-bisanya pria yang selama ini sudah dia anggap sebagai kakak yang selalu menjaganya ternyata menyimpan rasa kepadanya.
"Hen ..." Rose menggelengkan kepalanya sambil menatap Hendra lekat. Berharap kalau pria tersebut hanya asal bicara.
"Semua yang aku ucapkan benar, Rose. Aku mencintai dan menyukaimu sejak dulu. Hanya saja aku tidak pernah berani untuk mengungkapkannya. Tapi, setelah melihatmu tiba-tiba akan menikah dengan dia, membuatku tersadar dan mendapatkan keberanian besar untuk mengungkapkan perasaan ini yang sudah lama terpendam," jawab Hendra penuh keseriusan.
"Brengsek!" umpat Arkan lalu berdiri, dan melayangkan tinju pada wajah Hendra penuh emosi.
BUGH!
BUGH!
"Arghh!!" pekik Hendra kesakitan ketika wajahnya di pukuli berulang kali oleh Arkan. Ujung bibirnya sobek, cairan merah dan kental mengalir dari sana semakin membuat Hendra kesakitan.
"Berani lagi mendekati Rose, habis kau!" ancam Arkan tidak main-main seraya menunjuk wajah Hendra penuh amarah. Kemudian dia menarik tangan Rose keluar dari angkringan tersebut.
Pemilik angkringan tersebut meringis ngilu ketika melihat wajah Hendra babak belur. Untung saja tidak ada dagangannya yang rusak. Dia memberikan tisu pada Hendra akan tetapi pria tersebut langsung menepisnya, hingga tisu tersebut terjatuh di atas tanah.
__ADS_1
"Hen! Kamu cari penyakit! Kamu nggak akan pernah bisa melawan Arkan. Dia bukan tandianganmu," ucap Agus seraya mengambil tisu yang terjatuh itu lalu meletakkannya di atas meja.
Hendra diam tidak menanggapi karena dia masih merasa kesakitan karena pukulan dari Arkan masih begitu terasa sakit di area wajahnya.