
Mika tampak sedih ketika mengantarkan kedua orang tuanya ke Bandara. Gadis kecil itu sejak tadi menundukkan kepala sambil memanyunkan bibir.
"Sayang, jangan sedih dong. Mommy dan Daddy hanya berada 2 minggu di Bali." Arkan menggendong putrinya yang masih sedih.
"Daddy dan Mommy kenapa nggak ngajak Mika?" Mike menatap sebal pada ayahnya.
"Kalau nanti Mika ikut ke Bali, adik bayi nggak akan jadi." Arkan memberikan alasan pada putrinya. Tapi sepertinya alasannya itu menjadi boomerang untuknya. Bagaimana tidak? Jika Mika langsung melontarkan pertanyaan yang membuatnya bingung untuk menjawabnya.
"Kenapa membuat bayinya harus ke Bali? Memangnya tidak bisa di buat di dapur rumah?" pertanyaan polos yang terlontar dari bibir mungil Mika membuat semua orang di sana hampir menyemburkan tawa.
Gerry, Allegra, Tuan Park dan Ibu Sita seketika langsung memalingkan wajah dengan kompak sambil melipat bibir, menahan tawa mereka agar tidak pecah.
Sedangkan Rose memejamkan mata erat, sambil meringis malu, kemudian mengambil alih Mika dari gendongan suaminya, "sayang, sepertinya pesawat Mommy dan Daddy sebentar lagi akan berangkat, sudah dulu ya. Selama Mommy dan Daddy tidak di rumah, Mika harus jadi anak manis dan patuh kepada Oma dan Opa." Rose segera mengalihkan pembicaraan sekaligus mengalihkan rasa penasaran Mika.
Mika tersenyum, lalu memeluk ibu sambungnya dengan sangat erat. "Mommy jangan lupa kalau pulang nanti bawa oleh-oleh yang banyak," ucap Mika, lalu mencium pipi ibunya dengan penuh sayang.
"Oke, Tuan Putri!" jawab Rose lalu membalas ciuman putrinya itu. Rose mencium dan mengunyel-uyel pipi Mika dengan sangat gemas. "Jangan lupa obatnya harus di minum rutin, biar cepat sembuh, oke!" ucap Rose setelah puas mencium pipi Mika.
__ADS_1
"Ya, Mommy!" Mika turun dari gendongan ibunya, lalu berjalan menghampiri Allegra, menatap kedua orang tuanya yang melambaikan tangan padanya.
"Ha ha ha ha." Tawa keras memecah kesunyian di bengkel mobil yang baru akan buka. Hendra dan Agus tertawa terbahak sambil membayangkan ekspresi Rose saat membuka kado dari mereka berdua.
"Gokil! Pasti Rose akan sangat marah pada kita." Agus berkomentar sambil memakai wearpack-nya.
__ADS_1
"Kayaknya sebaliknya deh. Dia akan berterima kasih kepada kita, karena malam pertamanya lancar jaya tanpa hambatan," sahut Hendra di barengi dengan tawa keras.
"Apa pun itu, yang penting sebentar lagi kita akan mempunyai keponakan," ucap Agus tertawa geli.
"Tapi, kalau si Arkan memakai dur*x nggak jadi punya keponakan kita," jawab Hendra.
"Ya, nggak mungkin mereka memakai benda karet itu. Apalagi si Arkan sudah menduda lama, pasti ingin segera punya momongan." Agus menyahut sembari memasukkan beberapa alat kerjanya ke dalam kantong wearpack yang sudah dia kenakan.
Hendra mengangguk setuju dengan pendapat Agus, tak berselang lama dia kembali tertawa geli.
"Ketawa terus, nanti lama-lama jadi gila kamu." Agus geleng-geleng kepala melihat tingkat temannya itu.
"Masih ingat kejadian kemarin waktu aku membeli lingerie untuk Rose, dikiranya aku ingin membeli lingerie untuk istriku. Hadehh... nikah aja belum," jawab Hendra masih menyisakan tawanya.
"Ck! Memangnya ada yang lucu? Aku malah kesal waktu beli dur*x di indoapril! Mana kasirnya cewek lagi, malunya nggak ketulungan!" balas Agus sambil berdecak kesal.
"Gosss .... Agoosss! ha ha ha ha!" Hendra menepuk pundak Agus berulang kali sambil tertawa terbahak.
__ADS_1
***
Like, komentar, dan vote