
Tuan Park merasa tersudutkan. Dia meraih kepalanya dengan kedua tangannya, meremas rambutnya dengan kuat. Dia tidak bisa lari, dan dia tidak bisa mengelak lagi. Dia harus jujur, semua rahasia yang selama ini dia sembunyikan harus di ungkap.
“Appa!” Arkan memanggil ayah mertuanya yang sejak tadi terdiam sambil memegang kepala. Dia tahu, dan dia paham kalau saat ini ayah mertuanya sedang dilema.
Tuan Park menegakkkan badannya, kepalanya juga ikut tegak, menatap lurus pada Arkan. Dia menghela nafas berulang kali, sebelum membuka suara untuk menceritakan semuanya.
“Semua ini terjadi begitu saja ...” Tuan Park menjeda ucapannya sejenak. Dia mengambil nafas panjang, lalu kembali bercerita.
“20 tahun yang lalu saat pertama kali menginjakkan kedua kakiku di Jakarta, aku bertemu dengan wanita cantik bernama Rosita. Kala itu dia menjadi asisten pribadiku sekaligus sekretarisku. Rosita adalah wanita cantik, mandiri dan pekerja keras, itulah yang membuatku tertarik padanya. Tapi, aku sadar diri, dan berusaha untuk mengubur perasaanku karena aku sudah menikah dan mempunyai seorang putri. Tapi semakin aku menghindar dan mengubur perasaanku, rasa itu semakin tumbuh semakin lebar dan subur. Singkat cerita, ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan, Rosita ternyata juga menyukainya. Hingga akhirnya aku membuat keputusan besar dan gila di sepanjang hidupku, aku mengajaknya menikah secara agama, dia pun mau dan setuju. Tapi, setelah kami menikah, aku harus kembali ke Korea, karena kedua orang tuaku saat itu telah mengetahui hubunganku dengan Rosita. Aku ingin kembali lagi ke Jakarta, tapi kedua orang tuaku saat itu mengancamku akan mencoret namaku dari daftar ahli waris dan lebih parahnya mereka mengancam akan membunuh Rosita. Sebagai seorang pria yang mencintai pasangannya, tentu aku tidak ingin kalau Rosita di bunuh orang tuaku sendiri, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menuruti permintaan mereka, meninggalkan Rosita untuk selamanya. Kami putus kontak, hingga takdir mempertemukan kami kembali setelah 20 tahun berlalu. Dan aku tidak menyangka hubunganku dengan Rosita yang singkat telah menghadirkan bidadari cantik, yaitu Rose.” Tuan Park menjelaskan kisah hidupnya pada Arkan, dengan perasaan yang tidak karuan, terselip sebuah kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam.
Arkan terdiam, dia turut merasakan sesak di dalam dada mendengar kisah hidup ayah mertuanya. Arkan menundukkan pandangan, seraya menghela nafas panjang.
“Apa kau tahu Arkan, jika waktu boleh di putar kembali, aku ingin memperbaiki semuanya, memberikan kehidupan yang layak untuk Rosita dan Rose. Menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka. Aku sangat menyesal, sangat menyesali semuanya.” Tuan Park terisak sedih, seraya menundukkan kepala. Rasa sesak dan penyesalan kian menyeruak di dalam dadanya.
“Jadi, Rose dan mendiang istriku ...”
__ADS_1
“Iya ... kau benar Arkan, mereka berdua adik dan kakak kandung hanya saja berbeda ibu. Kau akan menikahi adik iparmu sendiri, Arkan. Aku harap kau bisa menjaga Rose, dan memberikan kebahagiaan. Aku mohon kepadamu, ini adalah permintaan seorang ayah demi kebahagiaan putrinya. Sekali lagi aku mohon, bahagiakan Rose, meski aku tahu kalau kau terpaksa menikahinya karena Mika,” ucap Tuan Park, memohon pada Arkan. Tuan Park menyatukan kedua tangannya di depan dada, tatapannya begitu memelas, dan penuh permohonan.
“Appa, aku memang tidak mencintainya, tapi aku akan berusaha untuk membahagiakannya,” jawab Arkan jujur. Sebenarnya Arkan sangat terkejut setelah mengetahui semua kenyataan ini. Dan ternyata dia akan menikahi adik iparnya sendiri. Arkan memijat pelipisnya ketika kepalanya mendadak pusing. Dunia ternyata sangat sempit.
“Terima kasih, Arkan. Setidaknya kini aku sedikit bernafas lega karena Rose akan menikah dengan pria baik dan bertanggung jawab sepertimu.” Tuan Park bersyukur karena Arkan menjadi menantunya untuk kedua kalinya. Sikap Arkan yang tegas, bertanggung jawab, mapan, dan kaya dalam segala hal, membuatnya tidak mencemaskan kehidupan Rose kedepannya, karena putrinya itu jatuh pada pria yang tepat.
“Apakah Amma tahu tentang semua ini?” tanya Arkan, serius.
“Tidak, dia tidak tahu. Tapi, aku akan jujur kepadanya,” jawab Tuan Park.
“Lebih cepat, lebih baik, jangan di tunda,” saran Arkan kepada ayah mertuanya.
Ck!
Arkan berdecak kesal, mengolok ayah mertuanya yan sama sekali tidak gentle. Dia beranjak dari duduknya, pamit pulang kepada Tuan Park.
__ADS_1
“Tunggu Arkan! Aku ingin memberikan sesuatu padamu.” Tuan Park merogoh dompetnya, lalu memberikan sebuah kartu ATM kepada menantunya.
“Apa ini?” Alis Arkan bertaut menatap kartu ATM tersebut yang di sodorkan kepadanya.
“Berikan kepada Rose,” jawab Tuan Park.
“Aku yang akan menafkahinya! Jadi simpan kartu ini!” Arkan menolak kartu ATM tersebut, kemudian segera keluar dari Kafe tersebut dengan langkah tegap.
CEKREK!
Dari kejauhan ada seseorang memotret pertemuan Arkan dan Tuan Park.
Siapakah itu? Apakah orang suruhan Nyonya Park?
****
__ADS_1
Like dan komentarnya, jangan lupa bestie.
Sekarang udah aku jelaskan dengan gamblang hubungan Rose dan mendiang istri Arkan, Tolong di simak dengan baik, biar nggak pada bingung, terima kasih🥰