Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Bab 52


__ADS_3

"Mommy!" Mika berseru sambil berlari pada Rose yang baru memasuki rumah mewahnya bersama Daddy-nya.


Rose tersenyum, menyambut gadis kecil yang berlari ke arahnya dengan riang gembira. Dia langsung mendekap Mika dan menggendongnya, tidak lupa mencium pipi gadis kecil itu dengan gemas.


"Kenapa belum tidur?" tanya Rose, masih menggendong Mika dengan penuh kasih dan sayang.


Interaksi Rose dan Mika di perhatikan oleh Arkan dan Allegra yang berdiri tidak jauh dari sana. Mereka turut senang melihat Mika bahagia.


"Nunggu Mommy," jawab Mika seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Rose, lalu merebahkan kepalanya di pundak calon Mommy-nya. Gadis kecil itu seolah meluapkan rasa rindu karena seharian tidak bertemu dengan Rose.


"Tidak menunggu Daddy?" sahut Arkan seraya mencubit gemas pipi putrinya.


"Tidak!" jawab Mika ketus, lalu menggembungkan pipinya, menatap sebal pada ayahnya.


"Oke! Daddy sekarang sudah dilupakan!" Arkan pura-pura merajuk, berharap kalau putrinya mau memberikan pelukan hangat. Tapi sayang, Mika tetap cuek kepadanya kalau bersama Rose. Bibir Arkan melengkung tipis, karena sebenarnya dia juga senang kalau Mika lengket pada Rose.


"Peluk Daddy dulu, Sayang. Setelah itu Mommy akan mengantarkanmu tidur," ucap Rose lembut pada Mika.


Mika tersenyum dan mengangguk patuh, lalu turun dari gendongan Rose, dan beralih memeluk ayahnya dengan erat dan penuh kehangatan.


"Terima kasih, Sayang. Sekarang kamu harus segera tidur." Arkan mengecup kening putrinya penuh kelembutan.


Mika mengangguk lalu menggandeng tangan Rose menuju kamarnya yang letaknya di lantai atas. "Mommy, hari ini nyanyikan aku lagu twingkle-twingkle dan bacakan dongeng si kancil, karena hari ini aku pintar dan mau minum obat," ucap Mika saat menaiki anak tangga.


"Wah, putri Mommy hari ini sangat baik dan pintar ya. Maka dari itu apa pun keinginan Mika akan Mommy turuti," jawan Rose sambil tertawa pelan.


"Thanks, Mommy." Mika tersenyum seraya mendongak, menatap Rose yang berjalan di sisinya.

__ADS_1


Arkan dan Allegra menatap keduanya dari kejauhan. Rose dan Mika berjalan menapaki anak tangga sambil terus berbicara riang.


"Mama senang, karena Rose menerima Mika apa adanya, dia juga sangat menyayangi Mika. Tapi, Arkan ..." suara Allegra menggantung ketika sebuah keraguan merayap di permukaan hatinya. Wanita paruh baya itu menundukkan pandangan, rasanya tidak ingin melanjutkan perkataannya, karena dia tidak ingin merusak kebahagiaan Arkan.


"Tapi kenapa Ma? Kenapa diam?" Arkan menatap ibunya dengan penuh rasa penasaran.


Allegra menghembuskan nafas dengan resah, "lebih baik jangan bicara di sini," ucap Allegra menatap putranya serius.


Jantung Arkan berdetak sangat cepat, dia semakin penasaran kelanjutan perkataan dari ibunya, kemudian dia berjalan menuju ruang kerjanya yang tak jauh dari sana, dan diikuti ibunya dari belakang.


Sampai di ruang kerjanya. Arkan dan Allegra duduk berhadapan, dengan meja yang menjadi pembatas di antara ibu dan anak itu.


"Ma, katakan, ada apa?" tanya Arkan sangat tidak sabar. Karena jika di lihat dari ekspresi ibunya, seperti ini adalah pembahasan yang berat.


"Tadi sore, Mika bercerita tentang Nyonya Park," ucap Allegra. Dia menjeda ucapannya sejenak, karena terasa berat untuk mengatakan semuanya pada Arkan, bukan hanya berat tapi juga takut kalau hal ini akan menjadi konflik di antara Arkan dengan keluarga Park.


"Lalu?"


Arkan membuang nafas kasar, seraya memijat pelipisnya bersamaan dengan dia memejamkan matanya sejenak. Dia sudah menduga kalau semua ini pasti akan terjadi, pasalnya Nyonya Park pasti sudah tahu tentang hubungan Tuan Park dan Ibu Sita, jadi ibu mertuanya itu tidak terima kalau Rose menjadi ibu sambung Mika.


"Mama, nggak usah memikirkan hal ini. Biar ini menjadi urusanku," jawab Arkan menenangkan ibunya yang tampak gelisah.


"Mama tentu tidak akan tinggal diam, Arkan! Ini sudah menjadi masalah yang serius. Menghasut pikiran anak kecil sama saja dengan kejahatan pencucian otak!" ucap Allegra tidak mau tenang.


Arkan menganggukkan kepala, setuju dengan ucapan ibunya, "sebenarnya, Ma, ada sebuah fakta besar yang belum Mama ketahui. Nyonya Park melakukan hal itu karena sebuah alasan..." Selanjutnya Arkan menjelaskan pada ibunya tentang status Rose sebenarnya, serta hubungan Tuan Park dan Ibu Sita di masa lalu.


"Oh My God!" Allegra menggelengkan kepala pelan, seraya membekap mulutnya dengan sebelah tangannya, dia seolah tidak percaya dengan kenyataan ini. Wajah Rose yang sangat mirip dengan mendiang istri Arkan, ternyata mereka saling terikat antara satu sama lain, mulai dari darah hingga memiliki gen yang sama.

__ADS_1


"Terus terang aku sama terkejutnya seperti Mama," ucap Arkan ketika melihat ibunya syok.


"Lalu bagaimana, Arkan? Kau akan menikahi adik iparmu sendiri?" Allegra menatap putranya dengan intens.


"Ma, aku akan tetap menikahi Rose, tidak peduli dia adik iparku atau bukan," jawab Arkan mantap dan penuh keyakinan.


Allegra lega mendengar perkataan putranya, kemudian menatap kedua manik putranya yang terlihat berbinar saat membicarakan Rose, membuatnya yakin kalau Arkan saat ini sudah jatuh cinta pada Rose.


"Keputusanmu sudah tepat. Rose adalah wanita yang baik untukmu, untuk Mika, dan untuk kita semua. Mama akan membicarakan hal ini sama Papamu." Allegra berkata sambil beranjak dari duduknya, keluar dari ruang pribadi putranya menuju lantai atas di mana kamarnya berada.


Setelah ibunya sudah tidak terlihat, Arkan mengambil ponselnya lalu aplikasi chating berwarna hijau, kemudian membuka room chat, kedua jempolnya bergerak menekan huruf demi huruf di keyboad ponselnya. Mengirimkan pesan untuk Rose.


"Mika sudah tidur?" Pesan terkirim, centang dua berwarna abu, tapi tidak berselang lama berubah warna biru, bertanda kalau pesannya sudah di baca.


Rose sedang mengetik pesan ...


Arkan menatap layar poselnya, tidak sabar menunggu balasan dari calon istrinya. Dan setelah beberapa detik menunggu, akhirnya balasan pesan Rose tertera di layar ponselnya.


"Sudah, ada apa?" balasan Rose terasa hambar, tidak seperti yang di harapkan oleh Arkan. Ya, seharusnya Arkan sadar diri, kalau Rose bukan tipe wanita yang mudah baper, yang akan berjingkrak-jingkrak saat mendapatkan pesan dan perhatian darinya.


Arkan menggenggam ponselnya, sembari mengetukkan ujung ponselnya itu di dagunya, kemudian dia tersenyum tipis saat ada sebuah ide melintas di otaknya.


"Bisa ke kamarku, sebentar? Aku mengalami kesulitan." Arkan kembali mengirimkan pesan pada Rose.


Bibir Arkan berkedut, dia segera beranjak menuju kamarnya, tidak sabar bertemu Rose.


***

__ADS_1


Ekspresi Arkan nahan senyuman. Anggap aja tangan kanannya lagi pegang Hp 🤣🤣🤣🤣🙈



__ADS_2