
Perasaannya sangat resah bercampur takut saat memikirkan perkataan ibunya yang akan membatalkan pernikahannya. Lingkaran hitam di bawah mata pria tersebut menunjukkan bahwa semalam suntuk dia tidak bisa memejamkan mata. Arkan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lima belas menit kemudian dia telah selesai mandi dan berpakaian rapi. Kaos polo berwarna hitam dan celana pendek berwarna putih melekat di tubuhnya. Mulai hari ini dia telah mengambil libur untuk pernikahannya, seharusnya detik-detik kebahagiaan telah merasuk ke dalam jiwa dan raganya, namun karena kesalahan dan kebodohannya dia menjadi merasakan kegetiran dan kecemasan yang begitu dalam, dan takut kalau pernikahannya di batalkan.
Arkan keluar dari kamar, menuju kamar putrinya, "selamat pagi putri Daddy yang sangat cantik," sapa Arkan tersenyum lebar, seraya menghampiri Mika yang sedang duduk di tepian tempat tidur.
"HUH!" Mika mendengus seraya melipat kedua tangannya di depan dada, sembari memalingkan wajahnya dengan kesal. Dia marah dan tidak mau menatap ayahnya yang kini duduk di sampingnya. "Aku sebel sama Daddy! Aku nggak mau sama Daddy! Daddy tukang ingkar janji!" cerocos Mika dengan rasa jengkel luar biasa.
Arkan tersenyum ketika melihat putrinya merajuk, kemudian dia mengusap pucuk kepala Mika dengan lembut.
"Maafkan Daddy, sayang. Hari ini Daddy berjanji akan membelikan Mika es krim yang sangat banyak," bujuk Arkan pada putri kesayangannya.
"Udah nggak mau makan es krim! Males!" jawab Mika seraya turun dari tempat tidur sambil cemberut kesal.
"Emh ... atau gini aja, Daddy akan membawa Mika ke kedai es krim, dan Mika bisa memilih es krim apa saja yang Mika inginkan." Arkan tidak mau menyerah membujuk putrinya yang sepertinya sangat marah padanya.
__ADS_1
Mendengar bujukan ayahnya, Mika menghentikan langkahnya yang akan keluar dari kamar, kemudian balik badan, menatap ayahnya sangat sebal. "Tawaran Daddy sama sekali nggak menggiurkan! Aku udah nggak mau makan es krim lagi! Karena hari ini aku mau pergi sama Mom ... opsss!" Mika segera menutup mulutnya ketika dia keceplosan bicara. Mika melipat bibirnya lalu segera keluar dari kamar, melarikan diri dari ayahnya.
Kedua mata Arkan membola sempurna saat mendengar ucapan putrinya. Itu tandanya Mika mengetahui keberadaan Rose? Wah, ini tidak bisa di biarkan, dia harus membujuk putrinya agar mau memberitahukan keberadaan calon istrinya.
"Mika! Katakan sama Daddy, di mana Mommy!" seru Arkan mengejar putrinya yang berlari menuruni anak tangga.
Mika terengah-engah ketika sudah sampai tangga, dia menghentikan langkahnya seraya menatap ayahnya sengit, dan dia tidak akan memberitahukan keberadaan Mommy-nya. "Aku tidak tahu di mana Mommy!" jawab Mika ketus.
"Ayolah sayang, Daddy tahu kalau kamu saat ini sedang berbohong," bujuk Arkan mendekati putrinya yang berdiri di tengah tangga.
Arkan membungkukkan setengah badannya, seraya menatap putrinya dengan lekat, "sungguh?" tanya Arkan.
Mika menganggukkan kepala, "sungguh, Dad. Aku tidak tahu di mana Mommy. Kemarin sore Mommy memang ke sini dan bermain sebentar dengan Mika, tapi setelah itu Mommy pergi," jawab Mika memasang wajah sedih dan tak berselang lama mengeluarkan air mata cicaknya. Gadis kecil itu memang pandai berakting
__ADS_1
Mendengar penuturan putrinya yang terdengar sangat meyakinkan, membuat Arkan percaya, lalu dia memeluk putrinya dengan erat.
"Maafkan Daddy," ucap Arkan setelah pelukan mereka terurai.
Mika yang tadinya sedih kini kembali ketus pada ayahnya, "aku nggak mau maafin Daddy kalau belum membawa Mommy ke sini! Huh!" Mika memalingkan wajahnya dengan kesal, lalu melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga sambil mengusap dadanya berulang kali dan bergumam lirih, "hampir saja ketahuan, selamat."
Arkan menghela nafas panjang, seraya menatap putrinya yang sudah berada di lantai bawah, dia menyugar rambutnya dengan kasar, ketika rasa frutrasi melanda perasaan dan pikirannya.
"Sepertinya aku harus segera mencari Rose! Pernikahanku tinggal 3 hari lagi, dan aku harus segera menemukannya, karena aku tidak ingin kehilangannya," gumam Arkan seraya kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil.
***
Masih menyiksa Arkan, wkwkwkwk.
__ADS_1
Biar kapokkk 🤣