Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Bab 70


__ADS_3

Makan malam bersama di rumah keluarga William terasa hangat. Semua orang makan dengan lahap karena masakan Ibu Sita sangat lezat. Kecuali Nyonya Park yang sama sekali tidak mau menyentuh makanannya.


"Enak banget ya, Ma," ucap Gerry yang sudah nambah nasi dan rendang daging sebanyak dua kali.


"Iya, Mama bawaannya pengen nambah terus. Bener-bener mantap banget besanku ini," puji Allegra seraya mengacungkan dua jempol tangannya pada Ibu Sita.


Ibu Sita tersipu malu dan tetap rendah hati meski mendapatkan pujian dari besannya.


"Cih!!" Nyonya Park berdecih pelan, seraya melengos. Dia merasa panas seolah kebakaran jenggot ketika melihat semua orang memuji Ibu Sita. Di tambah lagi perhatian semua orang saat ini teralihkan pada wanita itu, membuat Nyonya Park semakin dongkol.


"Amma tidak makan? Kok makanannya masih utuh?" tanya Arkan pada Nyonya Park.


"Tidak lapar Arkan," jawab Nyonya Park sembari tersenyum, menahan rasa dongkol di dalam dadanya.


"Yakin nggak lapar?!" sahut Tuan Park seraya menatap rendang yang masih utuh di piring istrinya.


"Iya! Kenapa?!" sewot Nyonya Park pada suaminya.


"Kalau begitu, buat aku saja makanannya. Soalnya rendangnya sudah habis." Tuan Park ingin mengambil piring istrinya akan tetapi tangannya langsung di pukul sendok oleh Nyonya Park


"Tidak boleh!!!!" sentak Nyonya Park seraya mengeraskan rahangnya. "Apa hebatnya sih masakan wanita itu!" lanjut Nyonya Park marah-marah tidak jelas.


Tuan Park menggaruk salah satu ujung alisnya yang tidak gatal. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena pada dasarnya dia sangat merindukan masakan Ibu Sita yang super lezat ini, hingga dia melupakan perasaan istrinya yang tentunya sangat cemburu.


Semua orang di meja makan tersebut terdiam, pandangan mereka teralihkan pada Nyonya Park yang tengah emosi.


"Tidak perlu marah-marah jika tidak ingin memakan masakan saya, Nyonya. Anda bisa memakan makanan lainnya yang di masak oleh pelayan di rumah ini," ucap Ibu Sita dengan lembut dan bijak. "Marah-marah di depan makanan sama saja tidak bersyukur," lanjut Ibu Sita, tetap tenang, dan bersikap anggun.


Mendengar ucapan Ibu Sita membuat kemarahan Nyonya Park semakin membumbung tinggi, "shibal! Jangan sok menasehatiku!" umpat Nyonya Park sangat emosi.

__ADS_1


"Oma, jangan bicara kasar seperti itu di hadapan Mika!" tegur Arkan dengan nada tegas.


"No Problem, Dad. Telingaku dapat menyaring kata-kata kotor agar tidak merasuk ke dalam otakku," celetuk Mika dengan segala kepolosannya. Gadis kecil itu kemudian tersenyum lebar lalu kembali memakan ayam goreng kesukaannya.


Celetukan Mika yang polos dan apa adanya membuat semua orang menahan tawa, kecuali Nyonya Park yang semakin emosi dan juga malu.


"Lebih baik kita pergi dari sini, dari pada kau membuatku malu!" bisik Tuan Park seraya beranjak dari duduknya, sambil menarik tangan istrinya, keluar dari rumah mewha tersebut.


"Jangan lupa, besok datang ke pernikahan Rose dan Arkan!" seru Allegra pada Tuan dan Nyonya Park yang sudah berlalu menuju pintu utama rumahnya.


"Maaf atas kekacauan yang telah terjadi, semua ini pasti karena kehadiranku," ucap Ibu Sita, merasa bersalah pada keluarga William.


"Jangan di ambil hati, Bu. Nyonya Park hanya belum bisa menerima keadaan bahwa suaminya sebelumnya pernah menikah dengan Ibu Sita," sahut Allegra menenangkan.


"Itu 'kan sudah menjadi cerita lama. Kalau boleh diingat, justru aku yang seharusnya sakit hati karena aku korban keegosian Tuan Park," jawab Ibu Sita lirih, mengingat kembali masa lalunya yang sangat kelam dan menyakitkan.


"Ibu ..." Rose menggenggam tangan ibunya dengan erat, menyadarkan ibunya agar tidak larut dalam suasana hati yang sedang melankolis.


*


*


Makan malam telah selesai. Suasana hangat menyelimuti ruang keluarga rumah mewah tersebut. Mika sedang asyik berada di pangkuan Ibu Sita. Sementara itu pada orang dewasa sedang mengobrol santai.


"Bu, saya minta resep rendangnya boleh?" tanya Allegra pada besannya.


"Tentu boleh dong," jawab Ibu Sita dengan senang hati akan memberikan resep rahasianya pada besannya.


"Yess! Terima kasih banyak." Allegra sangat senang sekali, lalu memerintahkan salah satu pelayannya untuk mengambil pena dan selembar kertas untuk mencatat  resep rendang dari besannya.

__ADS_1


Di sudut lain, masih di area rumah mewah tersebut. Arkan mengajak Rose ke kamarnya.


"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Rose pada pria yang berdiri di hadapannya ini.


"Karena aku ingin menyelesaikan masalah kita di sini." Arkan berjalan menunu sofa yang tersedia di dalam kamarnya. Dia menepuk sisi sebelah kirinya, menandakan kalau Rose harus duduk di sana.


Dengan penuh keraguan, Rose melangkahkan kedua kakinya mendekati Arkan, lalu mendudukkan diri di samping calon suaminya itu.


"Karena hanya kamar ini saja yang tidak bisa di jangkau oleh Mika," bisik Arkan seraya merengkuh pinggang Rose sangat posesif hingga tubuh keduanya tak berjarak sama sekali.


"Arkan, jangan seperti ini, bisa bahaya untuk dirimu sendiri." Rose melepaskan tangan pria tersebut yang melingkar di pinggangnya, kemudian dia menggeser duduknya, sedikit menjauh dari Arkan.


"Kau masih marah?" tanya Arkan lembut.


"Nggak, aku sudah nggak marah," jawab Rose seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar mewah tersebut. Keningnya mengerut dalam saat menyadari ada perubahan besar yang terjadi di dalam kamar itu. Terakhir dia memasuki kamar ini, dia melihat foto pernikahan Arkan dan mendiang istrinya, tapi sekarang ... foto itu sudah tidak ada.


"Aku sudah menurunkannya, dan meletakkanya di gudang. Aku sadar kalau aku tidak boleh terpaku pada masa laluku, karena ada masa depanku yang menanti," ucap Arkan memandang Rose sangat dalam, dia seolah tahu pertanyaan besar yang bersarang dalam benak calon istrinya itu.


"Arkan ... maaf, bukan maksudku untuk ..."  ucapan Rose terhenti ketika Arkan menempelkan jari telunjuk ke permukaan bibirnya.


"Kamu dan dia sangat berarti untukku. Dia sudah aku tempatkan di sudut hatiku yang paling dalam, dan selamanya akan tetap berada di sana. Bagitu pula denganmu, aku sudah menempatkan namamu di dalam hatiku, hanya bedanya perasaanku padamu akan terus berkembang dan memenuhi hatiku untuk selamanya, karena aku sangat mencintaimu, Rose ... sangat ... sangat mencintai," ucap Arkan dari lubuk hatinya yang paling dalam, penuh ketulusan dan kejujuran.


Rose sangat terharu dengan pengakuan cinta dari Arkan, kedua mata wanita itu bahkan sampai mengembun karena saking bahagianya. Rose menggeser duduknya, mendekati Arkan kemudian dia menarik tengkuk Arkan seraya berbisik, "aku juga sangat mencintaimu, calon suamiku." Kemudian Rose melabuhkan ciuman lembut di permukaan bibir tebal dan sexy milik calon suaminya.


Ciuman tersebut di sambut Arkan dengan penuh kebahagiaan. Mereka berciuman dengan penuh kelembutan tanpa ada gairah,  keduanya hanya menyalurkan rasa cinta dan kasih sayang yang membuncah di dalam dada.


****


Jangan lupa hadir di pernkahan Rose dan Arkan ya. Kalian semua di undang loh.

__ADS_1



__ADS_2