Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Bab 69


__ADS_3

Skak Matt!


Ucapan Mika membuat Nyonya Park mati kutu. Rasa malu yang sangat besar kini menggelayuti hatinya. Rasanya dia ingin melarikan diri dari hadapan keluarga William. Begitu pula dengan Tuan Park yang merasakan hal yang sama.


"Mika nggak boleh bicara seperti itu, Sayang," tegur Allegra pada cucu kesayanganya. Dia menjadi tidak enak hati pada besannya karena ucapan Mika yang terlampau jujur.


"Mika hanya bicara apa adanya, Oma. Memangnya salah?" tanya Mika, mendongak menatap omanya yang memangkunya. Bibir gadis kecil itu mengerucut tajam, dan tatapannya sangat polos, penuh  keteduhan.


"He he he ... lebih baik Mika main sama barbie saja. Kasihan dari tadi barbie-nya sendirian." Allegra mengalihkan pembicaraan seraya menunjuk barbie yang tergeletak di atas karpet ruang keluarga.


"Nggak mau! Mika mau di sini saja sambil nunggu Mommy datang," jawab Mika, tetap berada di atas pangkuan Allegra.


"Iya sudah, kalau begitu anak manis ini harus diam dan tidak boleh banyak bicara." Allegra berkata sambil menoel hidung mancung Mika dengan gemas.


"Oke!" jawab Mika, lalu melipat bibirnya sambil memalingkan wajah dibarengi dengan degusan kesal saat melihat Nyonya Park tersenyum kepadanya.


Nyonya Park menghembuskan nafas kasar karena  cucunya sendiri kini menjadi membenci dirinya.


Tak berselang lama, suara Rose menyapa indra pendengaran semua orang yang berkumpul di ruang keluarga itu. Rose berjalan pelan menuju ruang keluarga diikuti ibunya dari belakang. Kedua orang itu terhenyak ketika melihat Tuan Park dan Nyonya Park berada di sana juga. Tapi mereka berdua berusaha cuek dan bersikap biasa saja. Terutama Ibu Sita yang berusaha sekuat tenaga menahan gejolak sakit hati di dalam dadanya.


Sedangkan Tuan Park menatap Ibu Sita dengan penuh kerinduan, tapi dia tidak bisa berbuat banyak pasalnya dia telah berjanji pada Rose dan juga istrinya tidak akan mengganggu mantan istrinya itu. Sementara itu, Nyonya Park sudah mengeraskan rahangnya, seraya menelisik penampilan Ibu Sita yang menurutnya sangat kampungan, dan menjijikkan. Jika di bandingkan dengannya, tentu kalah jauh, karena dirinya adalah wanita yang berkelas, semua barang yang menempel di badannya barang branded yang harganya tentunya sangat mahal, tidak seperti Ibu Sita  yang hanya mengenakan pakaian murahan!

__ADS_1


"Mommy!" seru Mika sangat senang segera turun dari pangkuan omanya, kemudian berlari menghampiri calon ibu sambungnya yang berdiri tak jauh dari sana. Seperti biasa, gadis kecil itu langsung minta gendong, dengan senang hati Rose langsung mengabulkan permintaan anak sambungnya itu.


"Sudah makan dan minum obat belum?" Satu  pertanyaan wajib yang selalu di lontarkan Rose. Karena dia sangat mengkhawatirkan kondisi Mika yang masih harus sering kontrol ke rumah sakit karena jantungnya belum sembuh total.


"Sudah dong! Tadi, Mika makan banyak, terus minum obatnya juga pintar, nggak banyak drama, he he he," jawab Mika sambil tertawa menggemaskan, membuat Rose tak tahan untuk menguyel-uyel pipi Mika.


"Anak Mommy sangat pintar, kalau begitu hari ini Mommy mempunyai kado spesial buat Mika," jawab Rose seraya menurunkan Mika dari gendongannya.


"Wah, apa itu?" tanya Mika sangat penasaran.


Rose menepuk tas jinjing yang dia sembari berkata, "hadiah spesialnya adalah masakan dari Mbah Uti."


"Yeahhh! Mika sangat suka!!!" seru Mika sambil loncat-loncar bahagia, lalu memeluk Ibu Sita tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih.


"Tenang, saya sudah membuatkan rendang kesukaan kalian, semuanya ada di tas jinjing ini," jawab Ibu Sita sambil tersenyum senang.


"Asyik! Aku jadi nggak sabar, kita makan sekarang yuk!" Gerry paling antusias, bahkan dia langsung memerintahkan pelayan di rumahnya untuk menyiapkan nasi di ruang makan.


"Papa ini baru jam 6 sore!" tegur Istrinya.


"Biarin aja, Ma! Sesekali makan malam nggak tepat waktu, nggak masalah 'kan!" Gerry langsung menghampiri Ibu Sita lalu membantu membawakan tas jinjing itu dengan penuh semangat menuju meja makan.

__ADS_1


"Ayo, Mbah! Kita makan bersama!" seru Mika sangat antusias seraya menarik tangan Ibu Sita ke ruang makan.


"Ck! Apa spesialnya sih masakan wanita itu!" gerutu Nyonya Park sangat kesal saat melihat antusiasme kelurga William menyambut kedatangan Ibu Sita.


"Jangan iri!" sahut Tuan Park penuh penekanan saat mendengar ucapan istrinya.


"Kenapa kau membelanya? Awas saja kalau kau berani menatap wanita itu!" ancam Nyonya Park pada suaminya.


Padahal Ibu Sita bersikap biasa dan tenang kepada pasangan suami istri itu. Akan tetapi karena sikap Ibu Sita yang biasa saja itulah yang membuat Nyonya Park kebakaran jenggot.


"Jangan hiarukan mereka, Bu," ucap Allegra menepuk pundak besannya, ketika mereka sudah sampai di ruang makan. Allegra melirik Tuan dan Nyonya Park sedang berdebat di ruang keluarga.


"Maaf, Nyonya tahu tentang ..." ucapan Ibu terhenti saat melihat anggukan kepala dari Allegra.


"Iya, Arkan sudah menceritakan semuanya," jelas Allegra.


"Ya ampun, sungguh memalukan. Pasti Anda merasa tidak nyaman karena status Rose yang ternyata adalah anak dari Tuan Park," ucap Ibu Sita tidak enak hati pada besannya.


"Aku fine saja, Bu. Yang penting anak-anak kita saling menerima kekurangan masing-masing dan bahagia," jawaban Allegra membuat perasaan Ibu Sita sedikit tenang.


"Terima kasih banyak," ucap Ibu Sita.

__ADS_1


"Santai saja, Bu. Kita sebentar lagi akan menjadi keluarga." Allegra tersenyum lembut pada besannnya.


__ADS_2