
"Sudah siap? Nggak ada yang ketinggalan 'kan?" tanya Ibu Sita pada putrinya. Sore itu Ibu Sita mengajak Rose ke rumah calon besannya.
"Nggak ada, Bu. Semua masakan juga sudah ibu bawa," ucap Rose menunjuk tas jinjing berisi berbagai macam masakan istimewa yang akan diberikan kepada calon mertuanya.
"Nanti kalau di sana jangan bikin ulah! Jangan bikin malu ibu. Pokoknya kamu harus berbaikan sama Arkan. Masa iya sebentar lagi mau nikah kok bertengkar!" Ibu Sita terus mewanti-wanti putrinya agar tidak membuat masalah.
"Sendiko dawuh, Kanjeng Ratu," jawab Rose seraya membungkukkan setengah badannya, memberikan hormat pada ibunya layaknya seperti ratu di kerajaan.
"Oalah! Tak tutuk sirahmu iki, kokean tingkah!" Ibu Sita mendengus sebal, lalu menjitak kepala putrinya yang kebanyakan tingkah. "Ayo, kita jalan sekarang, keburu macet!" Ibu Sita berjalan keluar kontrakan sembari menjinjing tas yang bersisi berbagai macam masakan di dalamnya.
"Sakit tahu!" gerutu Rose, pelan, seraya mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh ibunya.
"Rose! Buruan!!!" teriak Ibu Sita pada putrinya yang masih di dalam kontrakan.
"Nggih, Bu! Sabar yo!" sahut Rose sambil berjalan keluar lalu menutup pintu kontrakan tidak lupa menguncinya dengan erat. Bibirnya mengerucut tajam dan tak hentinya menggerutu pada ibunya.
"Orang kok nggak sabar sama sekali! Memangnya nggak pakai jalan dulu apa!" gerutu Rose sambil menaiki motor matic-nya.
__ADS_1
"Kokean cangkem tenan cah iki! Tak ikat bibirmu yang manyun itu baru tahu rasa kamu!" omel Ibu Sita seraya naik ke atas motor, duduk di belakang Rose.
"Ibu! Ini motornya harus mundur dulu! Masa main nangkring aja sih, susah ini jalannya!" dengus Rose marah pada ibunya yang tidak sabaran.
"Udah nggak usah banyak protes! Kayak baru bisa naik motor saja kamu ini!" Ibu Sita tetap nangkring di atas motor.
"Angel tenan iki tuturane!" gerutu Rose pada ibunya, saat dia merasa kesulitan memundurkan motornya.
"Rose!!!!"
*
*
"Mika, kamu nggak rindu sama Oma?" tanya Nyonya Park pada cucu kesayangannya.
Mika menggelengkan kepalanya pelan, lalu mendudukkan diri di atas pangkuan Allegra tepatnya di ruang keluarga.
__ADS_1
Sore itu Nyonya Park dan suaminya berkunjung karena sangat merindukan Mika--cucu kesayangan mereka.
"Mika nggak boleh gitu dong. Hayo, salam dengan Oma Ji Woo," bujuk Allegra pada cucunya.
Mika tetap menggeleng pelan, lalu berkata, "Nggak mau, Oma Ji Woon jahat!" jawab Mika menatap singit pada Nyonya Park.
Mendengar jawaban Mika, tentu semua orang langsung memandang Nyonya Park dengan tatapan yang tak terbaca.
"Hei, kenapa kalian menatapku seperti itu? Mana mungkin aku berbuat jahat pada cucuku sendiri, ha ha ha," ucap Nyonya Park sambil tertawa hambar, lalu mencengkram erat bantal sofa yang berada di atas pangkuannya.
Semua orang di sana sudah tahu sifat asli Nyonya Park pun tersenyum saja dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa, berbeda dengan Tuan Park yang merasa sangat malu dengan segala kelakuan istrinya.
"Oma memang tidak menyakitiku, tapi Oma selalu menjelekan Mommy Rose padaku! Bukankah itu tindakan yang jahat juga?" Lagi-Lagi Mika bersuara yang membuat Nyonya Park seketika itu panas dingin.
"Mika sayang, kamu bicara apa? Kapan Oma pernah menjelekkan Mommy Rose? Mungkin kamu salah dengar." Nyonya Park berusaha mengelak dan berusaha menutupi kebusukannya yang ternyata sudah di ketahui oleh keluarga William.
"Ah, capek ngomong sama Oma yang suka memutar balikkan fakta! Kalau bahasa gaulnya, playing fictim!" balas Mika dengan segala kecerdasannya.
__ADS_1