
Nyonya Park kembali ke apartemen dengan perasaan marah dan kecewa yang begitu menyesakkan dada. Pernyataan dari Ibu Sita membuat hatinya hancur dan perih. Bagaimana tidak, jika suaminya ternyata selama ini masih berusaha menemui Ibu Sita yang notabennya adalah mantan istri kedua suaminya.
"Dari mana saja? Kenapa baru pulang?" Pertanyaan dari suaminya menyambut indra pendengaran Nyonya Park.
Nyonya Park menghela nafas kasar seraya menatap suaminya yang duduk santai di ruang keluarga sambil membaca koran. Tapi, bukan itu yang Nyonya Park perhatikan, melainkan sikap suaminya yang sama sekali tidak menoleh atau pun menatapnya saat menyambutnya. Nyonya Park melenggang masuk ke dalam kamar tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Hatinya sangat sakit bagaikan ditusuk ribuan belati.
"Ji Woo, aku bertanya kepadamu, kenapa kau tidak menjawab?!" Tuan Park melipat koran, lalu meletakkannya dengan asal di atas sofa, kemudian mengikuti istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar.
"Ji Woo!" Tuan Park berseru pada istrinya yang sama sekali tidak mempedulikannya. "Ada apa? Apakah aku membuat kesalahan lagi?"
"Haruskah aku jawab pertanyaanmu?!" balas Nyonya Park dengan malas, seraya melemparkan tas mewahnya ke atas tempat tidur degan asal, lalu menatap suaminya dengan tajam.
"Ya, seharusnya kau mengatakan semuanya kepadaku. Agar aku tahu letak kesalahanku!" sahut Tuan Park di barengi dengan helaan nafas lelah mengahadapi istrinya.
"Oke! Kalau begitu!" Nyonya Park menjeda ucapannya sejenak. Mengambil nafas panjang guna mengontrol emosinya agar tidak meledak. "Kau menemui wanita itu lagi 'kan?!" lanjut Nyonya Park seraya menunjuk wajah suaminya penuh kekecewaan.
Tuan Park terdiam sejenak, berpikir kalau istrinya pasti mengirim detektif lagi untuk mengikutinya. "Iya!" jawab Tuan Park pada akhirnya.
__ADS_1
"Waeyo?!" tanya Nyonya Park, menatap nanar pada suaminya. Perasaan kecewa, sedih, dan emosi berkecamuk di dalam dadanya. Tapi, sebisa mungkin dia berusaha memendam segala rasa tersebut.
"Apakah perlu aku jelaskan lagi alasannya?" jawab Tuan Park. "Sebenarnya, aku tidak ingin melakukan hal ini, tapi aku sudah muak dengan segala sikapmu yang terus curiga padaku! Kau bahkan terus menuduhku berhubungan lagi dengannya!" lanjut Tuan Park melampiaskan amarahnya.
"Asal kau tahu! Sejak kami bertemu kembali setelah 20 tahun berpisah, dia sama sekali tidak pernah mau melirikku atau pun mengenalku lagi! Jika dia wanita jahat mungkin dia sudah menerima semua tawaran yang aku berikan! Sekarang kini kau tahu kenapa aku masih begitu mengharapkan dia? Karena Rosita adalah wanita yang sangat baik, lembut, dan sangat istimewa! Tidak seperti kau yang bisa berfoya-foya dan melakukan hal yang tak jelas lainnya!" ucapan Tuan Park membuat hati istrinya semakin sakit dan remuk.
Nyonya Park tak bisa membendung air matanya lagi, ucapan suaminya terlalu menyakitkan untuknya. "Se-istimewa itukah dia hingga kau bersikap seperti ini padaku?" lirih Nyonya Park di sela isak tangisnya.
Tuan Park tidak menjawab, dia langsung keluar dari kamar tersebut membawa perasaan tidak menenentu yang bersarang di dalam dadanya.
*
*
Nafas menderu-deru dan keringat membasahi tubuh pengantin baru yang baru saja selesai melakukan penyatuan panas dan dahsyat.
"Aku lelah, aku ingin istirahat," keluh Rose seraya mendorong dada bidang suaminya agar segera turun dari tubuhnya.
__ADS_1
Rose merasa kalau tubuhnya sudah lemas tak berdaya karena selama 2 hari ini terus di gempur oleh suaminya.
"Iya, sayang. Malam ini kau bisa tidur nyenyak karena aku tidak akan menganggumu," jawab Arkan lalu mengecu bibir istrinya dengan lembut sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.
"Janji!"
"Iya, sepertinya," jawab Arkan tidak yakin, sembari menggulingkan badannya ke samping, merebahkan diri di samping istrinya.
Bibir Rose mengerucut sebal setelah mendengar jawaban suaminya. "Kau harus menepati janjimu! Jika tidak, aku akan mengurung si jangkrik biar nggak bisa masuk ke sarangnya lagi!" ancam Rose tidak main-main.
"Ancamanmu sangat mengerikan, dan membuatku sangat takut," jawab Arkan menggoda istrinya, lalu memeluk Rose dari samping sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benang.
****
Waeyo ? = Kenapa?
Jangan lupa tekan like, komentar, vote dan berikan gift seikhlasnya 😘😅
__ADS_1