
“Aku nggak bisa jemput, nanti akan ada asistenku yang akan menjemputmu.”
Rose menghela nafas panjang ketika membaca pesan dari Arkan. Dia menatap jam digital di pojok kiri ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul 17:00 WIB.
“Rose, mau di antar nggak?” tanya Hendra pada Rose yang duduk di ruang tunggu, depan bengkel. Bengkel sudah tutup dari setengah jam yang lalu, sebagian montir sudah pulang, kini tersisa Hendra, Agus dan Rose di sana.
“Nggak usah, mau di jemput,” jawab Rose lesu, menatap kedua temannya yang sudah bersiap pulang.
Hendra mengurungkan niat memakai helm, dia beranjak menghampiri Rose, begitu pula juga dengan Agus. Kedua pria itu akhirnya duduk samping kanan dan kiri Rose.
“Kamu kayaknya tertekan? Kamu terpaksa menikah dengan pria itu?” tanya Hendra yang sudah sangat hafal sikap Rose.
Rose menggeleng cepat, “nggak kok, aku lagi mikirin ibu,” jawab Rose, tak sepenuhnya berbohong, karena di lubuk hatinya yang paling dalam, dia memang sedang memikirkan ibunya.
“Rose, jangan bohong! Kita ini di ibaratkan sudah temanan dari orok!” sahut Agus menatap Rose dari samping.
“Iya aku tahu! Tapi aku nggak bohong sama kalian!’ jawab Rose menatap kedua temannya secara bergantian.
“Cih! Irungmu kembang kempis kayak hidung sapi, Rose! Ketahuan banget kalau kamu bohong!” Hendra berdecih sambil menatap ciri khas Rose yang sedang berbohong, hidungnya akan kembang kempis berulang kali.
“Nggak, hidungku baik-baik saja! Kalian jangan berlebihan seperti ini!” sangkal Rose seraya mengusap hidungnya berulang kali. Dia tidak ingin kedua temannya tahu kalau dia terpaksa menikah dengan Arkan karena keadaan. Keadaan yang tidak bisa di hindari, menjadi ibu sambung untuk gadis kecil yang sedang sakit parah.
Tapi, dari keadaan yang serba salah itu juga dia mendapatkan titik terang tentang ayah kandungnya. Ini sepertinya bukan hanya sebuah kebetulan, tapi sudah menjadi takdir untuknya yang harus di jalani.
__ADS_1
“Kalian kenapa masih di sini? Sana pulang!” usir Rose pada kedua temannya yang masih asyik duduk di sampingnya.
“Nggak! Kami mau tunggu kamu di jemput sama calon suamimu,” jawab Hendra, dan diangguki oleh Agus dengan mantap.
“Ish! Sana pulang! Kalian mau apa menunggu Arkan datang? Aku tahu apa yang ada dipikiran kalian, jangan membuat masalah dan jangan membuat kekacauan.” Rose memperingati kedua temannya agar jangan terlalu kepo dengan Arkan, pasalnya Arkan adalah pria yang mempunyai kekuasaan, dengan uang pria itu bisa melakukan apa saja. Dan yang Rose takutkan adalah kalau Arkan menghancurkan kedua temannya tanpa sisa. Rose tidak ingin hal itu terjadi.
“Sana pulang!” usir Rose lagi pada Hendra dan Agus. Bahkan wanita itu beranjak berdiri, dan menarik tangan kedua pria tersebut agar berdiri dari duduk mereka.
“Iya ... Iya!” jawab Hendra seraya berdecak, melepaskan tangan Rose yang masih menarik tangannya, kemudian dia berdiri dan berjalan menuju motor sport-nya yang terparkir di depan bengkel. Begitu pula dengan Agus melakukan hal yang sama. Tak berselang lama, dua pria yang memiliki kulit eksotis itu menaiki motor masing-masing dan mulai menjauh dari bengkel tersebut.
Rose bernafas lega, seraya mendudukkan diri di kursi, tak lama kemudian datang mobil HRV berwarna hitam dan berhenti tepat di hadapan Rose.
“Ibu Rose, Saya Bams, asisten Pak Arkan yang di tugaskan menjemput Ibu,” ucap Bams ketika sudah berada di luar mobil, menatap Rose yang masih duduk di kursi.
“Beneran asisten Arkan?” Rose tidak percaya kalau Arkan mempunyai asisten aneh seperti ini. Karena dia merasa ragu, akhirnya memutuskan untuk menghubungi Arkan terlebih dahulu. Rose menjauh dari Bams, karena dia butuh privasi.
*
*
Arkan yang sedang berada di Kafa bersama dengan Tuan Park tersentak kaget ketika merasakan getaran ponsel di saku celananya. Dia segera mengambil ponselnya, nama ‘Rose Cantik’ tertera di layar ponselnya, tanpa menunggu lagi dia langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Halo,” jawab Arka, ketika ponsel mahalnya melekat di telinga kirinya.
__ADS_1
“Arkan, apakah benar kalau pria aneh ini asistenmu? Kenapa penampilannya seperti penculik?” tanya Rose dari seberang sana, terdengar kesal dan jengkel.
Mendengar pertanyaan Rose, tentu saja membuat bibir Arkan berkedut, menahan tawa.
“Iya, dia asistenku. Penampilannya memang aneh, tapi orangnya baik. Kau ikut dengannya, karena dia akan mengantarkanmu sampai rumah,” jawab Arkan seraya menatap Tuan Park yang duduk berseberangan dengannya.
“Oke, tapi aku pulang ke kontrakan,” ucap Rose, tanpa menunggu jawaban Arkan, dia langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
Arkan menggerutu, seraya menatap layar ponselnya yang menggelap, bertanda panggilan telepon sudah terputus. Dia kembali memasukkan ponselnya ke kantong celana, tatapannya kembali fokus pada Tuan Park.
“Jadi, apa jawaban Appa tentang semua ini?” Arkan menggeser berkas di atas meja ke arah Tuan Park.
“Apa ini? Jadi kau mengajakku bertemu untuk membahas hal yang tidak jelas seperti ini?” tanya Tuan Park sambil tertawa kesal. Bahkan dia enggan membuka berkas tersebut.
“Buka berkas itu dulu, dan baca dengan teliti!” ucap Arkan mengandung perintah, tegas dan tidak mau di bantah.
Tuan Park membuang nafas kasar, lalu dengan malas membuka berkas tersebut, awalnya dia malas membacanya, akan tetapi saat tahu kalau isi berkas tersebut tentang masa lalunya dengan Ibu Sita, kedua matanya langsung membola sempurna dan jantungnya berdetak sangat cepat. Keringat dingin pun mulai keluar dan membasahi sekujur tubuhnya. Dia menelan ludahnya dengan kasar, mendongak, menatap Arkan penuh kegugupan.
“Ke-kenapa ini ...” ucapan Tuan Park terhenti, ketika Arkan menyela.
“Appa tahu siapa aku ‘kan?! Aku dengan mudah mendapatkan informasi ini hanya dengan menjentikkan jariku saja! Jadi jangan main-main denganku. Sekarang katakan sejujurnya, apa hubungan Appa dengan Ibu Sita!” Arkan berkata tegas, dan lugas, tatapan matanya penuh mengintimidasi Tuan Park yang sudah terpojok.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar dan tonton iklan 10 kali untuk memberikan gift, terima kasih semuanya.🥰