Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Bab 83


__ADS_3

Di Jakarta.


Tuan Park berbicara empat mata dengan Ibu Sita di salah satu restoran dekat Bandara. Mereka terlihat membicarakan sesuatu yang serius.


"Aku ingin kamu menerimanya, Sita. Ini sebagai bentuk permintaan maafku padamu." Tuan Park memaksa Ibu Sita untuk menerima cek darinya yang bernilai 2 Miliar rupiah.


"Maaf, aku tidak bisa menerimanya!" tegas Ibu Sita menatap selembar cek yang di sodorkan padanya tanpa berniat untuk mengambilnya. "Hidupku sudah berkecukupan, tidak perlu kau kasihan atau merendahkan aku seperti ini!" lanjut Ibu Sita dengan nada dingin dan datar.


"Astaga! Aku rasa kau salah paham dengan semua ini. Aku sama sekali tidak berniat merendahkanmu." Tuan Park tersenyum getir seraya menggelengkan kepalanya pelan.


Ibu Sita beranjak dari duduknya, menatap datar pada mantan suaminya itu, "sepertinya tidak ada hal yang kita bicarakan lagi. Kalau begitu, aku permisi!" Ibu Sita berlalu dari hadapan Tuan Park, keluar dari restoran tersebut dengan langkah cepat lalu menghentikan taksi yang kebetulan melintas di depan restoran tersebut.


Tuan Park membuang nafas kasar. Usahanya dalam mendekati Ibu Sita ternyata tidak berhasil. Rasa frustrasi dan rasa bersalah semakin menghantui perasaannya. Meski dia sudah berusaha sekuat tenaga melupakan Ibu Sita tapi dia tetap tidak bisa, Ibu Sita tetap bertahta di dalam hatinya sampai kapan pun dan tak akan bisa menggantikannya.

__ADS_1


*


30 menit menempuh perjalanan menggunakan taksi. Akhirnya Ibu Sita sampai di rumah kontrakannya dengan selamat.


"Terima kasih, Pak." Ibu Sita berkata seraya membayar ongkos taksi lalu keluar dari mobil tersebut. Langkahnya terhenti saat melihat sosok wanita yang tak asing baginya berdiri di depan pintu kontrakannya. Ibu Sita kembali melanjutkan langkahnya menghampiri wanita tersebut.


"Apakah ada hal yang penting, hingga Anda berada di sini?" tanya Ibu Sita seraya merogoh anak kunci dari dalam tasnya.


"Apakah kau tidak hilang dari kehidupan suamiku?!" desis wanita itu yang tak lain adalah Nyonya Park.


"Masuklah. Kita bicara di dalam," ucap Ibu Sita setelah membuka pintu kontrakannya, dan mempersilahkan Nyonya Masuk. Akan tetapi wanita itu menolak dan tetap berdiri di depan pintu.


"Kau belum menjawab pertanyaanku!" Nyonya Park seperti orang yang kebakaran jenggot. Dia terlihat marah dan menggembu-nggembu menyudutkan Ibu Sita.

__ADS_1


"Apakah selama 20 tahun ini aku pernah mengganggumu? Mengganggu rumah tanggamu?!" tanya Ibu Sita dengan pelan dan lembut, membuat Nyonya Park semakin meradang.


"Kau memang tak tahu diri! Seharusnya kau tidak lagi hadir di hadapan suamiku!" balas Nyonya Park emosi sambil menunjuk-nunjuk wajah Ibu Sita.


"Kau tahu Nyonya Park. Betapa sulitnya aku hidup dan membesarkan putriku seorang diri! Sesusah apapun, aku tidak pernah mengemis pada suamimu! Atau mengganggu rumah tangga kalian! Jadi berhentilah bersikap seperti ini dan jaga suamimu dengan baik!" balas Ibu Sita mulai tersulut emosi. "Oh ... perlu aku kasih tahu padamu! Jika aku wanita jahat dan tidak mempunyai hati, mungkin aku sudah menerima semua tawaran yang di berikan suamimu!"


Skak Mat!


Ucapan Ibu Sita seketika membuat Nyonya Park mematung, tapi hanya untuk sesaat. "Apa maksudmu?!" tanya Nyonya Park penasaran dan menerka-nerka apa yang dilakukan suaminya pada Ibu Sita.


"Tanyakan sendiri pada suamimu!" balas Ibu Sita lalu masuk ke dalam kontrakan dan tidak lupa menutup pintunya dengan rapat.


"Hei! Wanita sialan, keluar kau!!" teriak Nyonya Park sambil menggedor pintu tersebut. Rasanya dia tidak puas dengan jawaban Ibu Sita.

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan komentarnya


__ADS_2