
"Kau bisa bertemu dengannya langsung dan meminta penjelasan padanya," ucap Arkan menenangkan Rose agar tidak terus menangis.
"Ya, seharusnya memang seperti itu," jawab Rose seraya melepaskan pelukan Arkan, dia menundukkan kepala seraya mengusap air matanya dengan cepat. "Maaf, karena aku sangat cengeng," ucap Rose pada Arkan, kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Arkan memandang wajah Rose yang terlihat sendu. Hidung mancung itu terlihat memerah karena kebanyakan menangis. Dan bibir ranum itu bergetar, menandakan jika calon istrinya ini sedang menahan tangis dan kesedihan yang mendalam.
"Jangan merasa lemah hanya karena kau menangis, Rose. Menangislah jika membuat hatimu tenang," ucap Arkan seraya menangkup wajah Rose dengan kedua tangannya. Ditatapnya wajah cantik itu dengan dalam. Wajah cantik yang sama persis seperti mendiang istrinya. Arkan tidak menyangka, gadis bar-bar yang selalu membuatnya pusing kepala ini adalah adik iparnya, yang sebentar lagi akan dia nikahi.
Tatapan Arkan semakin dalam, hingga mampu menghipnotis Rose yang juga tengah menatapnya. Wajah keduanya saling mendekat, hembusan nafas keduanya saling menderu-deru ketika sebuah hasrat mendorong mereka untuk melakukan sesuatu.
1 detik ...
2 detik ...
3 detik ...
Wajah keduanya kini tak berjarak sama sekali, hidung mancung keduanya saling beradu. Arkan sedikit memiringkan kepala, dan salah satu tangannya yang tadinya berada di permukaan pipi Rose kini perlahan merambat ke tengkuk wanita itu. Di tekannya tengkuk itu, bersamaan dengan dia menempelkan bibirnya ke permukaan bibir Rose yang terasa lembut, manis dan dingin tapi terasa nikmat.
Tidak ada penolakan dari Rose, justru wanita itu terbuai dalam pesona Arkan yang tidak terbantahkan. Bibirnya mulai bergerak pelan, membalas ciuman manis nan lembut yang di berikan oleh Arkan. Kepala keduanya bergerak ke kiri dan ke kanan, mengikuti irama ciuman mereka.
Kedua mata mereka terpejam, serta bibir mereka saling beradu, saling menyesap bergantian dengan penuh kelembutan. Menikmati rasa manis dan gurih dari setiap pagutan yang mereka ciptakan.
Salah satu tangan Arkan terulur, meraih pintu kontrakan yang terbuka. Kemudian dia menutup pintu tersebut dengan perlahan, tanpa melepaskan ciumannya.
Pintu telah tertutup. Arkan tersenyum di balik ciuman tersebut. Hasratnya mulai merayap dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Naluri kelakiannya mulai terbangun dan memberontak, apalagi dia sudah 7 tahun menduda. Bisa di tebak, apa yang dia inginkan dan dia pikirkan sekarang.
"Rose ..." bisik Arkan di sela ciuman tersebut. Bibirnya kembali memanggut, tapi kali ini dengan penuh gairah. Kedua tangan Arkan tidak mau diam, bergerak menyetuh lengan dan punggung Rose dengan gerasakan asal. menandakan kalau gairahnya sudah tidak bisa lagi di tahan. Kemudian kedua tangan Arkan meraih pinggang Rose, lalu menariknya hingga duduk di atas pangkuannya seperti bayi koala. Bibirnya mereka masih beradu, sesekali ciuman mereka terlepas untuk meraup oksigen, mengisi pasokan udara di paru-paru mereka yang mulai menipis.
__ADS_1
Di sisi lain. Tuan Park saat ini sedang menyaksikan istrinya sedang di periksa oleh dokter. Nyonya Park terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Dokter telah selesai memeriksa kondisi Nyonya Park, kemudian Tuan Park mendekat dan menanyakan kondisi istrinya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Tuan Park.
"Tekanan darah istri Anda sangat rendah, Tuan. Saya akan memberikan resep obat penambah darah, agar istri Anda kembali pulih," jawab dokter seraya menuliskan resep obat, lalu memberikannya pada Tuan Park. "Untuk saat ini jangan biarkan istri Anda banyak pikiran atau tertekan, karena itu bisa memicu kondisinya semakin drop," lanjut dokter tersebut.
Dokter tersebut mengangguk, menerima uang tersebut dan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih, lalu pamit dari sana karena tugasnya sudah selesai.
Tuan Park menghembuskan nafas kasar, seraya menatap istrinya yang terbaring lemah di atas ranjang. "Aku akan menebus obatmu, kau di sini dulu, jangan ke mana-mana," ucap Tuan Park pada istrinya.
"Tidak! Jangan pergi, jangan tinggalkan aku," mohon Nyonya Park dengan nada lemah. Dia takut kalau suaminya ini bertemu dengan Ibu Rosita.
"Jangan berlebihan, Ji-Woo! Kau butuh obat agar cepat sembuh!" ucap Tuan Park sedikit kesal.
"Aku tidak membutuhkan apa pun! Yang aku butuhkan adalah kamu, hanya kamu!" balas Nyonya Park sambil menangis sesegukan.
Tuan Park berdecak kesal, kemudian mendudukkan diri di tepian tempat tidur. "Kau harus cepat sembuh," ucap Tuan Park, lembut.
"Iya, aku tahu itu," jawab Nyonya Park seraya mengusap air matanya.
__ADS_1
"Maka dari itu, kau harus minum obat." Tuan Park menatap istrinya dengan tatapan jengkel.
Nyonya Park menggeleng berulang kali, "kau tidak boleh pergi, tetap di sini bersamaku!" Nyonya Park begitu keras kepala.
"Ck! Kalau begitu aku akan menyuruh satpam untuk menebus obatmu ini! Menyusahkan!" umpat Tuan Park dengan nada jengkel.
Kembali pada pasangan yang sedang berciuman di dalam kontrakan.
Ciuman tersebut terlepas menyisakan benang salivanya yang saling menghubungkan ke dua bibir yang terlihat basah dan sedikit bengkak. Keduanya saling pandang, nafas mereka terengah-engah. Arkan menganggukkan kepala, memberikan kode jika dia meminta lebih, sedangkan Rose menggelengkan kepala, sebagai jawaban.
"Ayolah," bisik Arkan memohon pada Rose. Seraya menyentuh lengan Rose, dan sentuhannya itu merambat ke pundak Rose, lalu membelainya dengan penuh kelembutan.
Rose memejamkan kedua mata, ketika merasakan sentuhan lembut yang begitu membuainya.
"Rose ..." bisik Arkan lagi, lalu mengecup dada Rose dengan penuh harap.
Dan selanjutnya ...
__ADS_1