
Hendra duduk di atas lantai sembari memangku laptopnya. Pria tampan yang memiliki kulit eksotis khas pria jawa tengah itu tampak sibuk mengetik sesuatu di keyboard laptopnya. Kedua matanya menatap lekat pada layar yang menyala, memperhatikan satu per satu foto wanita di aplikasi danting yang baru saja dia instal di laptopnya. Pilihannya jatuh pada foto wanita cantik memakai hodie sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. Dan salah satu tangan wanita itu terdapat tato kupu-kupu yang berukuran cukup besar. Visual wanita dari aplikasi danting itu sangat misterius membuat Hendra sangat penasaran.
"Summer," gumam Hendra membaca nama profil wanita tersebut. "Mungkin ini hanya nama samaran," lanjutnya lagi, kemudian mulai mengetik pesan perkenalan untuk wanita tersebut.
"Hai, selamat malam. Bisa berkenalan?" pesan yang di kirimkan oleh Hendra terlihat sangat to the point dan juga sangat kaku. Tapi, Hendra tidak mempedulikannya, karena dia tidak pandai berbasa-basi atau pun merayu wanita.
Hendra mengetuk-ngetuk keyboard laptopnya, menunggu balasan dari wanita tersebut. Karena tidak mau menunggu terlalu lama, pria tersebut menutup laptopnya lalu meletakkan ke atas tempat tidur. Hari sudah semakin malam, dan dia harus segera beristirahat pasalnya besok dia kembali bekerja.
"Sepertinya saran yang di berikan Agus nggak efektif! Katanya menggunakan aplikasi danting bisa mendapatkan teman kencan secepat kilat!" gerutu Hendra seraya merebahkan diri di atas tempat tidur, tak berselang lama dirinya menguap dan akhirnya memejamkan kedua matanya.
*
*
__ADS_1
Willia menatap layar ponselnya dengan lekat, membuka aplikasi danting yang dia instal beberapa hari yang lalu. "Ada pesan masuk," gumamnya seraya membaca pesan tersebut, kemudian dia segera membalas pesan itu dengan cepat.
"Ini gila! Aku ini cantik, sexy, tapi kenapa terlihat nggak laku kayak gini, sampai harus instal aplikasi danting untuk cari pasangan!" rutuknya pada diri sendiri seraya menyesap rokoknya dengan dalam lalu menghembuskan asap rokok tersebut melalui mulutnya. Malam ini udara di Bali sangat panas, dia duduk di teras Villa sembari menikmati pemandangan laut di malam hari.
"Bahkan Arkan saja sama sekali tidak pernah melirikku. Sepertinya aku harus segera move on, karena dia sudah hidup bahagia dengan istri barunya," gumam Willia sembari mendesah kasar penuh kekecewaan. Willia memang suka dengan Arkan tapi dia bukan tipe wanita yang suka merebut suami orang. Walau pun dia merasa berat melepaskan Arkan tapi dia akan berusaha semampunya.
*
*
"Kalian menyebalkan! Kenapa baru menghubungiku? Sesibuk itukah kalian membuat adonan adik bayi?!" Suara cempreng Mika menyambut indra pendengaran kedua orang tuanya.
"Sayang, Mommy dan Daddy lelah dan langsung tidur ketika sampai di hotel," jawab Rose sambil tersenyum gemas saat melihat wajah cemberut Mika memenuhi layar ponselnya. Tapi sepertinya Mika sudah terlanjur marah dan tidak mau mendengar penjelasannya. Gadis kecil itu langsung menyerahkan ponselnya pada omanya.
__ADS_1
"Kok di hotel? Bukankah Arkan sudah menyewa villa milik Willia?" tanya Allegra pada menantunya.
"Ceritanya panjang, Ma." Arkan yang menjawab sambil mengambil alih ponsel istrinya. "Mana Mika?" tanya Arkan.
"Dia merajuk, karena seharian menunggu telepon dari kalian," jawab Allegra sambil mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Mika yang terlihat kesal.
Arkan tertawa pelan melihat wajah putrinya yang sangat menggemaskan itu. Rasanya dia ingin menggigit pipi Mika sampai gadis kecil itu menangis.
"Jadi sekarang kalian menginap di hotel?" Allegra kembali membahas tentang penginapan anak dan menantunya.
"Iya, Ma." Arkan memberikan kode agar tidak membahasnya lagi demi menghargai perasaan istrinya. Allegra pun menganggguk dan paham dengan kode yang di berikan putranya.
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya 🥰