
Tuan Park merasa gamang dengan perasaannya sendiri. Namun yang pasti, dia tidak ingin kehilangan istrinya yang sudah menemaninya selama 26 tahun lebih. Ataukah semua ini adalah jawaban dari segala kegundaan hatinya selama ini?
"Ji Woo, jangan pergi. Jika kau ingin kembali ke Korea, kembali bersamaku," ucap Tuan Park seraya mencekal tangan istrinya yang masih sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.
"Lepas!" Nyonya Park menyentak tangan suaminya dengan kasar, kemudian melanjutkan aktivitasnya tanpa mempedulikan pria yang berdiri di sampingnya ini.
"Maafkan aku jika selama ini aku terlalu egois. Aku mohon jangan pergi," pinta Tuan Park penuh harap pada istrinya itu.
Nyonya Park menghentikan aktivitasnya sejenak, dia mengambil nafas dalam guna mengurai rasa sesak yang semakin menekan dadanya, "terlambat! Aku sudah terlanjur kecewa padamu! Jika kau ingin bercerai, mari kita lakukan!"
__ADS_1
Tuan Park menggelengkan kepalanya berulang kali, bertanda jika dia tidak setuju dengan ucapan istrinya. "Tidak! Aku tidak akan bercerai denganmu!" tegas Tuan Park.
Nyonya Park tersenyum sinis mendengar jawaban suaminya, "Kau pikir aku akan diam dan patuh padamu! Jika kau tidak mau bercerai maka aku akan menggugatmu!" balas Nyonya Park dengan segala rasa sakit hati dan kecewa yang begitu dalam. "Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena kau bisa kembali bersama dengan wanita itu!" lanjutnya seraya menutup kopernya setelah selesai membereskan semua pakaiannya, lalu menurunkan koper besarnya dari atas tempat tidur ke permukaan lantai. Dia mengambil tas slempang dan jaketnya lalu menarik koper tersebut keluar dari kamar mewah itu.
"Tidak Ji Woo ... aku tidak mau bercerai denganmu." Tuan Park mengikuti istrinya lalu berjalan mendahului wanita tersebut dan menghadangnya. "Kau tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak seperti ini!"
"Tentu saja bisa! Di saat kau sibuk memikirkan wanita itu, apakah kau memikirkan aku juga? Apakah aku berada di dalam hatimu?" Nyonya Park menatap suaminya penuh emosi.
Ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh istrinya begitu menusuk hati Tuan Park. Dadanya seperti di jejal sesuatu, terasa sangat sesak dan sakit, bahkan membuatnya kesulitan untuk bernafas. Tuan Park tidak menyangka jika semua ini akan terjadi padanya. Atau apakah semua ini adalah karma untuknya?
__ADS_1
"Ji Woo, aku mohon maafkan aku. Dan berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." mohon Tuan Park dengan suara nyaris tercekat di tenggorokan.
Nyonya Park tersenyum sendu seraya menatap suaminya penuh luka, "selama 26 tahun kau membohongiku, menduakan aku, bahkan kau menikah dengan wanita itu tanpa sepengetahuanku, dan yang terfatal adalah aku juga memiliki anak dengannya. Hati wanita mana yang kuat menahan semua luka ini! Di sini aku yang paling terluka, aku yang paling di rugikan, tapi tak pernah sedetikpun kau memikirkan perasaanku, hingga mentalku down-pun kau tidak pernah mengetahuinya, karena hanya sibuk memikirkan wanita itu!" ucap Nyonya Park mengeluarkan segala perasaan yang selama ini dia pendam. Air matanya berderai membasahi pipinya, tapi dengan cepat dia menghapusnya.
Tuan Park tergugu pilu setelah mendengar perkataan istrinya yang begitu menghantam dadanya, meremukkan hatinya sampai berkeping-keping. Benar, selama ini dia hanya sibuk memikirkan Rosita, sehingga membuatnya lupa dan menjadi egois tanpa memikirkan istrinya yang tengah terluka karena perbuatannya selama ini.
"Melepasmu adalah jalan terbaik untuk kita, jadi jangan halangi aku untuk pergi!" Nyonya Park berusaha untuk tetap tegar dan kuat untuk melewati semua ini. Dia menarik kopernya lalu keluar dari unit apartemen mewah tersebut dengan langkah gontai.
Terkadang seseorang terlihat kuat bukan berarti kuat juga batinnya, justru orang tersebut memendam luka yang begitu dalam. Contohnya seperti Nyonya Park. Dia berusaha sabar, kuat dan menerima suaminya apa adanya meski udah kalau suaminya menduakannya bahkan mempunyai anak dari wanita lain. Segala hal dia lakukan untuk mempertahankan pernikahan dan suaminya, tapi seorang manusia mempunyai titik lelah dan putus asa, hingga akhirnya memutuskan untuk menyerah setelah sadar jika kehadirannya tidak dianggap atau diinginkan.
__ADS_1
Semoga semua ini menjadi pelajaran untuk kita semua, tetap mawas diri agar kewarasan kita semua tetap terjaga. Jangan lupa tekan like, komentar dan berikan gift seikhlasnya 😘