Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Kejujuran Tuan Park


__ADS_3

Di dalam kamar apartemen bernuansa putih terang. Seorang wanita paruh baya duduk di tepian tempat tidur sembari menekuri layar ponselnya dengan serius. Dadanya naik turun, seolah kesulitan bernafas, dan kedua matanya berulang kali mengedip, menahan cairan bening yang akan mengalir.


Nyonya Park meremas ponselnya, yang memperlihatkan foto suami dan Arkan bertemu di kafe. Bukan hanya foto saja, tapi lengkap dengan video percakapan mereka. Dadanya dipenuhi dengan amarah dan juga kesakitan. Sakit, karena selama ini suaminya telah menyimpan kebohongan yang begitu besar.


Cairan bening menetes di pipinya, tapi dia segera mengusapnya. 26 tahun lamanya dia hidup dengan orang yang penuh dusta.


"Wanita itu dan anaknya ..." gumaman Nyonya Park terhenti ketika suaminya masuk ke kamar.


"Sayang, maaf telat pulang. Ada urusan mendadak," ucap Tuan Park seraya meletakkan tas kerja serta jasnya di sofa kamar tersebut. Dia memandang istrinya yang diam membisu di tepian tempat tidur. Tidak biasanya, karena istrinya akan menyambut hangat kedatangannya.


"Ji-Woo, kau baik-baik saja?" tanya Tuan Park seraya melepaskan semua kancing kemejanya, kedua matanya tertuju pada istrinya yang masih diam, mengabaikannya.


"Ji-Woo ..."


"Stop memanggil namaku dengan mulut kotormu!" sentak Nyonya Park menatap sekilas suaminya dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


Tuan Park mengerutkan kening,matanya terpejam sekilas, dia menggeleng pelan, merasa heran dengan sikap istrinya yang tiba-tiba berubah.


"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba marah?" Tuan Park mendekati istrinya, saat menyadari kalau istrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dia sudah berada di hadapan istrinya yang masih duduk di tepian tempat tidur.


Helaan nafas kasar keluar dari bibir Nyonya Park, dia memijat pangkal hidungnya sesaat. Isak tangis mulai terdengar, kemudian dia melemparkan ponselnya pada suaminya dengan kuat.


Beruntung Tuan Park menangkap ponsel mahal itu dengan tepat, kemudian dia membuka ponsel tersebut yang memperlihatkan beberapa foto dan vodio pertemuannya dengan Arkan.


Ketegangan di kamar mewah itu semakin kuat. Tuan Park mengeraskan rahangnya, kemudian melemparkan ponsel tersebut ke atas ranjang dengan asal.


"Dari mana kau mendapatkan video itu?!" tanya Tuan Park dengan nada dingin dan datar. Bukannya meminta maaf pada istrinya, dia malah menyudutkan istrinya sendiri.


"Tidak penting dari mana aku mendapatkan foto dan video itu! Aku butuh penjelasan darimu! Kenapa kau tega melakukan semua ini kepadaku? Selama bertahun-tahun kau telah membohongiku dan menduakan aku!" cecar Nyonya Park dengan suara menggelegar dan memenuhi setiap sudut kamar tersebut. Air matanya menggenang, dan menahan rasa sakit yang semakin menghimpit di dalam rongga dadanya. Nyonya Park tidak pernah berpikir kalau rumah tangganya yang selalu harmonis dan bahagia, kini di terpa badai yang sangat besar, membuatnya terombang-ambing di atas lautan.


"Tidak perlu aku jelaskan lagi. Kau sudah melihat video itu 'kan? Seharusnya kau sudah menemukan jawabannya!" jawab Tuan Park tanpa merasa bersalah sama sekali. Dan sikapnya itu semakin membuat istrinya tersakiti.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Nyonya Park menahan kesedihan dan kesakitan yang begitu dalam. Menatap suaminya penuh kecewa.


"Pernikahan kita tanpa didasari rasa cinta. Kita saling menerima perjodohan ini dengan paksa, dan demi kejayaan perusahaan keluarga kita. Jika waktu bisa di ulang kembali, aku akan lebih memilih dia ketimbang kamu. Maafkan aku, Ji-Woo. Karena aku harus mengatakan kejujuran yang menyakitkan ini," jelas Tuan Park dengan berat hati. Meski kejujurannya telah membuat hati istrinya terluka. Tapi ada sebuah perasaan lega di dalam hatinya, dan beban berat di kedua bahunya seolah terangkat.


Nyonya Park menangis histeris setelah mendengar penjelasan suaminya yang begitu menyakitkan. "Kau sungguh kejam! Aku sangat membencimu!!!!" Nyonya Park mengangkat tangan kanannya, lalu melayangkan tamparan keras ke wajah suaminya.


PLAK!


Tuan Park diam, tanpa membalas atau menjawab ucapan istrinya, dia hanya mengusap pipinya yang terasa perih dan sakit. Dia mengakui kesalahannya, dan berkata jujur meski menyakitkan.


"Maafkan aku, semua sudah berlalu. Kau mendapatkan hidup mewah, hidup enak tanpa kekurangan sama suatu apa pun. Sedangkan dia, selama ini harus menderita membesarkan putri kami seorang diri, hidup serba kekurangan. Apalagi yang kau inginkan Ji-Woo?! Semestinya kau besyukur, karena selama 26 tahun aku selalu berada di sampingmu," ucap Tuan Park dengan nada pelan, berharap istrinya mengerti situasi ini.


"Dengan mudahnya kau berkata seperti ini! Dasar manusia tidak mempunyai hati?!" bentak Nyonya Park penuh amarah, kedua matanya terus mengeluarkan air mata dan tatapannya begitu tajam pada suaminya.


"Lalu kau ingin aku bagaimana? Kau ingin bercerai denganku?! Jika begitu maumu aku akan segera memanggil pengacaraku!" balas Tuan Park tanpa beban.

__ADS_1


Nyonya Park semakin frustrasi di buatnya, dia mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian meraih tangan suaminya, "tidak, aku tidak ingin bercerai! Aku hanya ingin kau menjauhi wanita itu!" pinta Nyonya Park, seketika itu langsung ketakutan ketika suaminya membahas 'perceraian'.


"Tidak bisa!" jawab Tuan Park seraya menarik tangannya dari genggaman sang istri.


__ADS_2