Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Permintaan Rose Pada Arkan


__ADS_3

Tuan Park pulang dengan perasaan sedih. Sedih karena Ibu Sita menolaknya, bahkan  menganggapnya sudah mati. Hatinya sangat sakit bagai di tusuk dengan ribuan jarum.


“Tapi, aku pantas mendapatkannya,” gumam Tuan Park pada dirinya sendiri sambil menyetir mobil.


Perasaan bersalah yang begitu besar, dan perasaan cintanya pada Ibu Sita yang masih ada di dalam hati, membuat Tuan Park menjadi menggebu-gebu ingin mendekati Ibu Sita untuk menebus semua rasa bersalah atas perbuatannya yang selama 20 tahun telah menelantarkan anak dan istrinya.


Tuan Park menghela nafas panjang seraya memukul stir mobilnya sangat kuat, ketika berhenti di lampu merah. Dia marah pada dirinya sendiri saat membayangkan betapa susah dan menderitanya Ibu Sita selama ini.


“Aku memang pria yang kejam. Pantaskah aku mendapatkan maaf dari mereka?” gumam Tuan Park menyandarkan punggungnya disandaran jok mobil. Dadanya naik turun ketika rasa sesak kembali memenuhi rongga dadanya. Dia memijit pelipisnya seraya terus menggumamkan kesalahan terbesar yang selama ini menjadi rahasia hidupnya. Ya, bagaimana tidak menjadi rahasia jika dia menyembunyikan semua ini dari istri sah dan putrinya yang sudah tiada.


Tuan Park kembali melajukan mobilnya ketika rambu-rambu lalu lintas sudah berubah menjadi warna hijau. Tuan Park mengendarai mobilnya menuju suatu tempat.


*


*


Sementara itu, Rose dan Arkan lagi-lagi berdebat saat akan berangkat bekerja.


“Hei, seharusnya kau berada di rumah untuk apa bekerja lagi!” ucap Arkan dengan nada jengkel pada calon istrinya yang menerobos masuk ke dalam mobilnya.


“Apa hakmu melarangku?!” balas Rose tak kalah jengkel, seraya melirik tajam Arkan.


“Tentu aku mempunyai hak melarangmu karena kau adalah calon istriku!” balas Arkan mencengkram erat stir mobilnya. Berdebat dengan Rose membuat kepalanya mendidih. Dia seperti gunung merapi yang siap meletus.


“Baru calon ‘kan ... jadi kau nggak berhak mengaturku, kecuali kalau kita sudah menikah dan sah menjadi pasangan suami istri,” jelas Rose, mendengus kesal.


“Bisa tidak sih satu hari saja jangan membangkang. Jadi lah wanita yang lembut dan manis!” Arkan geleng-geleng kepala, menatap Rose sangat kesal. Karena sudah lelah berdebat, dia akhirnya melajukan mobilnya keluar dari area rumah mewahnya, dan tujuan pertamanya di pagi ini adalah mengantarkan Rose ke bengkel. Padahal dia ada meeting penting jadinya harus tertunda untuk beberapa menit karena mengalah dengan calon istrinya.


“Aku lebih suka dengan diriku sendiri yang apa adanya,” jawab Rose seraya mencebikkan bibirnya.


“Terserah kau saja! Dasar bar-bar!” kesal Arkan, melirik Rose yang lumayan cantik hari ini, memakai celana jeans robek di bagian lutut, kaos gombrong berwarna hijau, dan rambut panjangnya di kuncir kuda. Wajahnya yang sudah cantik dari lahir sama sekali tidak di poles dengan make-up.


Bibir Arkan mengulas senyum tipis, karena dalam diam dia menganggumi kecantikan Rose yang sama persis seperti mendiang istrinya.

__ADS_1


“Ingat Arkan, kau tidak boleh jatuh cinta pada wanita bar-bar ini. Cintamu hanya untuk mendiang istrimu.” Arkan mensugesti dirinya sendiri agar tidak jatuh hati dalam pesona wanita yang duduk di sampingnya ini.


“Dia hanya ibu pengganti untuk Mika,” lanjut Arkan di dalam hati.


“Kau tahu tempat kerjaku?” tanya Rose tanpa menoleh karena saat ini pandangannya fokus ke luar jendela mobil, menatap jalanan ibu kota yang terlihat sangat ramai di pagi hari.


Suara klakson bersahutan di jalanan kota sudah menjadi hal yang wajar saat di jam sibuk seperti ini. Di tambah lagi kemacetan di ibu kota  sudah menjadi makanan penduduk warga Jakarta yang membuat mereka selalu ingin saling mendahului agar cepat sampai di tujuan.


“Aku tahu semua tentang dirimu,” jawab Arkan datar, pandangannya fokus pada jalanan di depan sana.


“Wuihhh! Keren sekali, ternyata selain menyebalkan, kau juga seorang detektif ya!” canda Rose, menoleh pada Arkan sambil tersenyum manis.


“Cih! Jangan mengolokku!” cibir Arkan, melirik Rose sekilas. Diam-diam dia menelan ludahnya dengan kasar ketika melihat senyuman manis merekah di bibir ranum itu.


“Aku benci dengan otakku! Dasar kotor! Jangan memerintahkan aku untuk menciumnya!” geram Arkan pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya pelan.


“Hei, kau kenapa?” tanya Rose dengan tatapan heran saat melihat Arkan memukul kepalanya sendiri.


Rose mencebikkan bibirnya sebal, dia kembali fokus menatap jalanan ibu kota.


Hening.


Untuk sesaat di dalam mobil tersebut terasa hening, tidak ada yang bersuara sama sekali. Arkan dan Rose sibuk dengan segala pemikirannya masing-masing.


Hingga pada akhirnya, keheningan itu terpecahkan saat Rose kembali bersuara.


“Arkan, apakah benar kau adalah seorang detektif?” tanya Rose dengan suara pelan.


Arkan menaikkan sebelah alisnya, menatap ekspresi Rose yang terlihat murung, “iya, aku adalah detektif hebat, kenapa?” jawab Arkan asal.


“Kalau begitu apakah kau bisa mencari keberadaan ayahku?” tanya Rose lagi, menatap Arkan penuh permohonan, memasang wajah melas agar pria itu iba kepadanya.


“Hei! Kenapa wajahmu menjengkelkan sekali?!” Arkan berdecak seraya memalingkan pandangan, enggan menatap wajah Rose yang terlihat melas.

__ADS_1


“Ayolah, bantu aku Arkan. Kau adalah pria baik dan detektif hebat, pasti sangat mudah mencari tahu tentang ayahku!” rengek Rose dengan nada manja, seraya menarik tangan kiri Arkan lalu memeluknya dengan erat.


“I...iya! Tapi, lepaskan tanganku!” Arkan segera menarik tangannya yang di peluk oleh Rose, dia menjadi gugup karena tanpa sengaja tangannya itu menyentuh gunung kembar milik Rose yang terasa sangat kenyal.


“Kata ibumu, ayahmu sudah meninggal,” ucap Arkan pada calon istrinya. Karenapada waktu malam lamaran, Ibu Sita mengatakan kepada keluarganya kalau ayah Rose sudah meninggal saat Rose masih berada di dalam kandungan.


“Aku tidak yakin dengan hal itu,” jawab Rose.


“Kenapa kau jadi tidak yakin?” Arkan menjadi semakin penasaran.


“Karena aku tidak pernah tahu di mana letak makam ayahku jika dia benar meninggal, bahkan aku juga tidak pernah tahu nama ayahku sendiri. Ibu selalu marah dan sedih jika aku bertanya tentang ayah. Bahkan di kartu keluargaku saja tidak tercantum nama ayah. Apakah menurutmu ini wajar? Aku yakin ada hal yang di sembunyikan oleh ibu,” jelas Rose, meluapkan segala rasa yang selama ini dia pendam sendiri.


“Ini sedikit aneh,” gumam Arkan, semakin penasaran dengan misteri ini. “Apakah ibumu tidak pernah kelepasan bicara saat sedang marah atau sedih ketika kau bertanya tentang ayahmu?” tanya Arkan, melirik Rose yang menundukkan kepala sedih.


Rose menegakkan kepala, menatap Arkan dengan intens, sambil berusaha mengingat kejadian di mana sang ibu kelepasan bicara tentang ayahnya.


Kedua mata Rose membola sempurna, ketika dia berhasil mengingat sesuatu.


“Pernah! Ibu pernah marah ketika aku bertanya tentang Tuan Park, saat ibu berkata kalau Tuan Park bukan ayahku, dan nama marga Park yang terselip di namaku hanya kebetulan saja,” jelas Rose pada Arkan.


Mendengar penjelasan Rose, membuat Arkan seketika langsung mengerem mobilnya secara mendadak, lalu menatap wajah Rose yang sangat persis dengan mendiang istrinya.


“Bodoh! Kenapa aku tidak pernah berpikir ke arah sana!” Arkan memaki dirinya sendiri.


***


Visual Rose



Muka songongnya Arkan, tapi ganteng 🤣🥰


__ADS_1


__ADS_2