
“By, Mbah!” seru Mika dari jendela mobil yang terbuka sambil melambaikan tangannya pada Ibu Sita yang juga melambaikan tangan seraya tersenyum padanya.
“Ibu, nggak apa-apa sendirian malam ini?” tanya Rose pada ibunya yang berdiri di luar mobil. Dia duduk di jok depan sambil memangku Mika.
“Nggak apa-apa. Ingat pesan ibu, jangan macam-macam.” Jawaban Ibu Sita mengandung ultimatum untuk putrinya.
Rose tersenyum seraya mengacungkan jempol tangannya pada ibunya.
“Untuk Arkan, juga jangan macam-macam pada putri ibu!” Ibu Sita juga tidak lupa memberikan peringatan pada calon menantunya yang duduk di balik kemudi mobil.
“Siap, Bu!” Arkan menjawab sambil memberikan hormat, lalu terkekeh pelan.
“Mbah tenang saja, ada Mika yang akan melindungi Mommy dari kenakalan Daddy,” celetuk Mika sambil tersenyum lalu melambaikan tangannya lagi pada Ibu Sita, sebelum menutup kaca jendela mobil, ketika mobil yang di kendarai ayahnya itu mulai melaju pelan.
Ibu Sita terkekeh mendengar ucapan cucunya, seraya menatap mobil berwarna hitam itu melaju pelan meninggalkan halaman kontrakan. Setelah mobil itu tidak terlihat. Ibu Sita segera masuk ke dalam kontrakan dan tidak lupa mengunci pintu.
10 menit kemudian. Ibu Sita sudah mengganti pakaiannya dengan daster, dan bersiap merebahkan diri di atas tempat tidur. Tapi, baru saja akan meletakkan kepala di bantal, terdengar ketukan pintu dari luar. Ibu Sita berpikir kalau itu putrinya kembali lagi karena sebelumnya mendengar suara deru mobil berhenti di halaman kontrakan yang lumayan luas. Tanpa banyak berpikir, Ibu Sita segera membuka pintu tersebut sembari bertanya, “ada yang ketinggalan, Rose?”
“Rose?” Suara berat itu mengejutkan Ibu Sita yang sudah membuka pintu dengan lebar.
Ibu Sita membeku di tengah pintu saat melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya.
Kedua manik hitam itu menatap lekat pada Ibu Sita yang terlihat sederhana, masih cantik meski usianya sudah tidak muda lagi.
Ibu Sita menghela nafas panjang, tidak ingin larut dari luka masa lalunya, dia segera menutup pintu tersebut, akan tetapi terlambat, Tuan Park menahan pintu itu dengan tangan kanannya.
__ADS_1
“Rosita!”
“Maaf, Tuan. Anda salah orang, saya bukan Rosita!” ucap Ibu Sita masih berusaha keras untuk menutup pintunya, menghindar dari pria bajingan yang telah memberikan luka dan penderitaan selama 20 tahun ini.
Tuan Park terkejut mendengar ucapan Ibu Sita, tapi dia tidak percaya, karena dia yakin kalau wanita ini adalah Rosita-nya yang sudah dia tinggalkan 20 tahun yang lalu tanpa kepastian.
“Anda salah orang!” seru Ibu Sita masih mempertahankan pintu yang di dorong dari luar oleh Tuan Park. Kedua orang itu saling mendorong pintu dari kedua sisi yang berlawanan. Karena tenaga Tuan Park lebih besar, akhirnya dia berhasil membuka pintu tersebut dengan lebar. Ibu Sita sedikit terpental ke belakang saat Tuan Park mendorong pintu itu sangat kuat.
Karena para tetangga sudah tahu kalau malam i ini Rose menerima lamaran dari duda kaya. Para tetangganya tidak menaruh rasa curiga dengan kedatangan Tuan Park pada malam hari itu. Padahal di dekat kontrakan sana ada sekumpulan anak-anak muda yang sedang nongkrong sambil main gitar. Apalagi mobil yang dikendarai Tuan Park sebelumnya sudah ke sana, jadi tidak membuat para tetangganya curiga.
“Kau tidak bisa mengelak lagi!” tegas Tuan Park menatap tajam Ibu Sita, tapi percayalah di balik tatapan tajam itu terselip sebuah kerinduan yang begitu besar.
Ibu Sita memundurkan langkahnya, ketika Tuan Park berjalan mendekatinya.
“Jangan mendekatiku!!! Jika kau berani mendekat selangkah lagi, aku akan berteriak dan para warga akan datang dan menghajarmu!” ancam Ibu Sita tidak main-main, suaranya bergetar tapi sangat tegas, dia melihat Tuan Park dengan tatapan tajam dan penuh luka.
“Rosita, tolong berikan penjelasan padaku tentang semua ini,” ucap Tuan Park dengan suara pelan, memandang Ibu Sita dengan tatapan memohon
“Penjelasan apa? Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi! Silahkan pergi dari sini dan jangan pernah menggangguku lagi!” tegas Ibu Sita, menatap Tuan Park penuh kebencian.
“Aku tidak akan pernah pergi sebelum kau menjelaskan tentang Rose. Dia putriku ‘kan? Dia darah dagingku ‘kan?!” tanya Tuan Park dengan keseriusan, dan perasaan bersalah yang luar biasa pada wanita yang berdiri dihadapannya ini.
“Bukan! Dia bukan putrimu!” jawab Ibu Sita tanpa gentar.
“Jangan berbohong Rosita! Bahkan di namanya terselip nama margaku!” balas Tuan Park tidak menyerah.
__ADS_1
“Hanya kebetulan saja!” jawab Ibu Sita dingin.
“Kau tidak bisa mengelak lagi, Rosita! Bahkan wajah Rose sangat mirip dengan mendiang putriku! Kau tidak bisa menutupinya lagi. Rose adalah darah dagingku!” sentak Tuan Park seraya menunduk dadanya sendiri, kedua matanya memerah menahan air mata dan rasa sesak di dalam dada.
Ibu Sita tersenyum sinis mendengar pernyataan Tuan Park, bahkan senyumannya itu terlihat sangat mengerikan dan tatapan matanya memancarkan sebuah kebencian yang begitu besar.
“Dengan begitu mudahnya kau meng-klaim Rose sebagai putrimu! Lalu di mana kau selama 20 tahun ini? Kau meninggalkan aku begitu saja tanpa sebuah kepastian. Kau meninggalkan aku di hari pertama pernikahan kita. Ha ha ha ha, aku terlalu bodoh dan terlalu naif karena saat itu kau menikahiku secara agama dan tentu saja kau bisa meninggalkan aku kapan saja setelah kau melakukan semua dan merenggut kesucian yang aku miliki!” ucap Ibu Sita berapi-api, air matanya menggenang, saat rasa sesak di dalam dada kembali menyeruak ke dalam otaknya.
Sakit! Tentu saja rasanya sangat sakit yang di rasakan Ibu Sita selama 20 tahun ini.
“Aku wanita bodoh yang mudah percaya dengan rayuan cinta busukmu! Sungguh demi langit dan bumi aku sangat membencimu!” lanjut Ibu Sita penuh amarah, menatap tajam Tuan Park yang membeku di hadapannya.
Tenggorokan Tuan Park tercekat dan lidahnya kelu, bahkan untuk menelan ludahnya saja dia tidak mampu. Sungguh getir, dan pahit yang dia rasakan saat ini, dia menyesal karena telah meninggalkan Rosita begitu saja. Ada banyak alasan yang menghambat Tuan Park untuk kembali ke Jakarta pada waktu itu, terutama alasan terbesarnya adalah kedua orang tuanya yang dulu mengetahui hubungan gelapnya dengan Rosita. Saat itu kedua orang tuanya mengancamnya akan mencoret namanya dari daftar ahli waris jika berani datang ke Jakarta lagi untuk menemui Rosita. Mendapatkan ancaman seperti itu dari kedua orang tuanya, tentu saja membuat Tuan Park takut dan merasa tertekan, karena jika dia tidak menurut maka kedua orang tuanya juga akan melenyapkan Rosita dari dunia ini.
“Maafkan aku Rosita, karena aku tidak berdaya melawan kekuasaan kedua orang tuaku. Maafkan aku karena aku telah menorehkan luka di dalam hatimu. Maaf ... seribu maaf pun tidak akan pernah bisa menghapus semua luka yang sudah aku ciptakan. Tapi, sampai saat ini aku masih sangat mencintaimu. Terima kasih sudah memberikan aku seorang putri yang sangat cantik, dan baik.” Tuan Park menangis di hadapan Ibu SIta, bahkan pria itu bersimpuh di hadapan wanita itu.
Ibu Sita memalingkan wajahnya, air matanya begitu deras membasahi pipinya. Nyatanya luka masa lalu tidak lekang oleh waktu. 20 tahun telah berlalu, tapi rasa sakit dan luka di dalam hatinya masih terasa sampai saat ini. Sakit hingga menembus ke relung hatinya.
“Pulang dan pergilah dari sini! Masa lalu telah berlalu, dan kembali pada istrimu!” tegas Ibu Sita mengusir Tuan Park yang masih bersimpuh di hadapannya.
“Rosita.” Tuan Park menggeleng, kepalanya tertunduk dan air matanya mengalir dari kedua sudut matanya.
****
Hayo, jangan lupa like, komentar dan dukungan lainnya.
__ADS_1
Puas nggak? Di part ini?