
“Aduh!” pekik Rose ketika Arkan mengerem mendadak, hampir saja kepalanya membentur dashboard mobil. “Hei, kau ini kenapa?” protes Rose, sewot.
Arkan menatap Rose lalu menggeleng pelan, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju bengkel.
Rose berdecak, “kau sungguh aneh!”
Arkan tidak menggubris gerutuan Rose, kedua matanya pada jalanan di depan sana, tapi pikirannya terus mengingat ucapan Rose beberapa detik yang lalu.
“Secara fisik Rose dan mendiang istriku mempunyai kesamaan wajah yang sama. Dan mempunyai marga yang sama, yaitu Park,” batin Arkan. Dia berusaha mengaitkan pertemuan pertama Tuan Park dan Rose saat di rumah sakit, sampai pertemuan keluarganya dengan keluarga Rose di acara lamaran. Arkan seketika terkesiap, jantungnya berdetak sangat cepat saat mengingat Ibu Sita secara tiba-tiba menjatuhkan piring dan terus menundukkan kepala saat berhadapan dengan Tuan Park.
“Semua ini sangat berhubungan, dan aku sangat yakin kalau Appa dan Ibu Sita pernah mempunyai sebuah hubungan,” batin Arkan sangat yakin. Dia harus segera mencari bukti secepatnya sebelum pernikahannya dengan Rose berlangsung. Dia masih mempunyai waktu 6 hari lagi.
Mobil yang di kendarai Arkan berhenti tepat di depan bengkel mobil. Arkan menundukkan sedikit kepala, menatap ke arah bengkel tersebut, dia mengerutkan kening ternyata semua montir di bengkel tersebut semua pria, lalu tatapannya beralih melihat Rose yang sedang melepas sabuk pengaman.
“Kau kerja disini bagian apa?” tanya Arkan pada Rose.
“Montir,” jawab Rose.
“Montir? Kau serius?” Arkan seolah tidak percaya dengan jawaban dari calon istrinya ini.
“Yeah, seribu serius, kenapa? Apa kau keberatan?” Rose menatap Arkan penuh selidik. “Lagi pula semua montir di sini sangat baik,” lanjutnya.
“Tapi, semua montir di sini pria, apakah kau tidak merasa takut atau ...” ucapan Arkan terjeda saat Rose memotongnya.
“Tenang saja, mereka baik yang selalu menjaga dan melindungiku,” jawab Rose tersenyum, seraya menggeser sedikit posisi duduknya. Kedua tangannya terulur dan meraih dasi Arkan yang terlihat berantakan.
Arkan tersentak kaget seraya memundurkan setengah badannya saat Rose meraih dasinya.
“Aku bisa merapikannya sendiri!” tolak Arkan, namun dia tetap membiarkan Rose membenarkan dasinya.
“Anggap saja aku sedang belajar menjadi istri yang baik,” ucap Rose, tatapannya fokus pada dasi berwarna hitam itu. Bibirnya tersenyum tipis ketika dasi Arkan sudah rapi, kemudian mengusap dada bidang Arkan dengan lembut sebagai sentuhan terakhir.
“Wah! Kau terlihat sangat tampan jika rapi begini,” puji Rose sambil tersenyum dan bertepuk tangan kecil.
Arkan terpaku melihat wajah cantik Rose, dia bahkan sampai tidak berkedip, terpesona dengan kecantikan alami yang di miliki oleh calon istrinya. Tapi, Arkan segera menggelengkan kepala agar tersadar kalau dia tidak boleh jatuh hati pada wanita ini.
__ADS_1
“Terima kasih, tapi sebenarnya aku lebih suka berantakan!” jawab Arkan judes seraya menegakkan posisi duduknya. Berdehem pelan untuk menetralkan jantungnya yang sedang dangdutan,
Rose mencebikkan bibirnya dengan kesal, kemudian dia segera keluar dari mobil mewah itu sambil berseru pada kedua temannya yang sedang memindahkan oli mesin ke dalam rak.
“Hendra ... Agus!!!” seru Rose sangat heboh.
Mendengar nama dua nama yang tak asing di telinganya. Arkan segera menajamkan kedua matanya ke bengkel tersebut. Dia melihat Rose ber-tos ria dengan dua orang pria yang memakai pakaian khas montir.
“Hendra, Agus? Jadi selama ini dia membohongiku?! Katanya mereka berdua adalah tukang cilok sama tukang bakso!” geram Arkan, lalu segera keluar dari mobil, tidak terima di bohongi seperti ini. Tapi, sebelum itu dia merapikan penampilannya lebih dulu, seraya memakai kaca mata hitam, agar terlihat lebih tampan.
“Piye kabare?” tanya Rose pada kedua temannya.
“Baik banget dong,” jawab dua pria itu bersamaan.
“Kalian berdua kemarin malam nggak datang ke kontrakanku kenapa?” tanya Rose cemberut sebal.
“Kami sibuk, bengkel tutup jam 10 malam. Sepurane yak. Memang ada apa sih?” tanya Hendra penasaran.
Rose tersenyum seraya memperlihatkan cincin emas yang tersemat di jari manisnya.
Kedua mata Hendra dan Agus melotot lebar saat melihat cincin tersebut, mereka berdua dengan kompak menarik tangan Rose, memperhatikan cincin tersebut dengan intens.
“Dancok!!!! Edan tenan!” umpat Agus seraya membolak balikkan tangan Rose berulang kali.
“Serusan ini? Kamu sudah tunangan Rose? Sama siapa?!” kali ini Hendra yang bertanya, sekaligus melayangkan protes pada temannya ini yang bertunangan tanpa mengundang.
“Aku ‘kan kemarin sudah menyuruh kalian main ke kontrakan, tapi kalian berdua nggak ada yang datang,” jawab Rose cemberut.
“Kamu tunangan sama siapa?” tanya Agus lagi, karena pertanyaan sebelumnya belum di jawab Rose, menimbulkan rasa penasaran yang begitu besar di benak kedua pria tersebut.
“Dia tunangan sama aku!” sahut Arkan, berjalan memasuki bengkel tersebut dengan gaya yang sangat keren. Bagaimana tidak keren? Arkan yang sudah tampan sejak lahir memakai setelan tuxedo berwarna abu, terlihat sangat gagah, tampan dan berwibawa. Rambutnya tersisir rapi, dan salah satu tangannya tersimpan ke dalam kantong celana. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya membuat ketampanannya bertambah dua kali lipat.
Hendra, Rose, dan Agus dengan kompak menoleh ke belakang, mata mereka membola sempurna melihat visual Arkan yang sangat tampan mempesona.
“Arkan,” gumam Rose seraya mengedipkan kedua matanya berulang kali saat Arkan sudah berdiri di sampingnya.
“Jadi ini yang katanya tukang Cilok dan tukang bakso?!” Arkan menatap tajam Rose seraya mengeraskan rahangnya. Entah kenapa dia sangat jengkel dan kesal karena telah di bohongi oleh Rose.
“He he he.” Rose tertawa meringis menanggapinya.
Hendra dan Agus terpaku dan tidak menyangka kalau Rose bertunangan dengan ikan kakap seperti Arkan.
Arkan berdecak seraya merengkuh pinggang Rose dengan posesif, seolah ingin menunjukkan kepada dua pria yang ada di hadapannya ini kalau Rose adalah miliknya.
Rose terkejut, berusaha untuk melepaskan tangan kekar Arkan yang melingkar di pinggangnya, namun tidak bisa karena Arkan membisikkan kata-kata ancaman yang membuat Rose langsung tak berkutik.
“Kenalkan aku Arkan, tunangan Rose. 1 minggu lagi kami akan menikah,” ucap Arkan dengan angkuh tanpa mengulurkan tangan.
__ADS_1
Hendra dan Agus sangat terkejut mendengar ucapan Arkan, lalu tatapan tajam keduanya mengarah pada Rose. Sedangkan Rose yang di tatapan seperti itu hanya tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
“Iya, kami Hendra dan Agus, sahabat terbaik Rose dari zaman SMA sampai saat ini!” jawab Hendra penuh penekanan, menatap sengit pada Arkan yang terlihat angkuh dan sombong.
“Sahabat terbaik? Aku tidak yakin itu!” jawab Arkan, tersenyum meremehkan.
Arkan tidak pernah percaya tentang persahabat yang terjalin antara pria dan wanita. Karena salah satu di antara dua pria ini pasti ada yang memendam rasa pada Rose. Arkan harus waspada dari sekarang.
“Kenapa kau berkata seperti itu? Dasar tidak sopan! Pergi sana!” usir Rose pada Arkan.
“Kau berani mengusirku?!” Arkan menatap tajam Rose.
“Bukankah kau ada meeting pagi ini?” Rose mengingatkan Arkan, agar calon suaminya itu segera pergi dari sana dan tidak mempersulitnya.
Arkan menghembuskan nafas kasar, seraya menggaruk pelipisnya, kenapa dia jadi lupa kalau pagi ini ada meeting penting.
“Oke, aku akan pergi, tapi sore nanti aku juga akan menjemputmu!” ucap Arkan seraya mengulurkan tangannya pada Rose.
“Apa?” Dengan bodohnya Rose masih bertanya sambil menatap tangan Arkan.
“Salim!” jawab Arkan jengkel.
“Bilang dong! Dasar tiang listrik, kaku!” umpat Rose seraya mencium punggung tangan Arkan dengan sopan.
“Good! Aku berangkat dulu.” Arkan mengusap pucuk kepala Rose dengan lembut, lalu segera keluar dari bengkel tersebut.
Rose terpaku seraya menyentuh pucuk kepalanya yang baru saja di usap oleh Arkan. Ada perasaan hangat yang menjalar ke relung hatinya.
Sampai di dalam mobilnya. Arkan mengambil ponselnya untuk menghubungi asistennya untuk mencari informasi tentang Tuan Park dan Ibu Sita. “Sekalian perintahkan anak buahmu untuk mengawasi Rose di bengkel!” Arkan segera menutup panggilan tersebut secara sepihak, lalu melajukan mobilnya menuju perusahaannya.
Disisi lain, Nyonya Park saat ini berada di sebuah kafe, duduk berhadapan dengan seorang detektif yang dia sewa untuk mengikuti suaminya. Karena dia merasa aneh dengan sikap suaminya setelah bertemu dengan Ibu Sita, maka dari itu dia memutuskan untuk menyewa detektif untuk mengikuti suaminya.
Nyonya Park mengeraskan rahangnya saat melihat beberapa lembar foto di tangannya. Di beberapa foto tersebut memperlihatkan Tuan Park sedang berada di rumah kontrakan Ibu Sita.
“Sudah aku duga kalau mereka berdua mempunyai sebuah hubungan. Sekarang tugasmu mencari tahu tentang Rose anak dari wanita jallang ini!”
__ADS_1
***
Like dan komentarnya jangan lupa ya bestie, makasih banyak 🥰