
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Pagi hari telah menyapa. Rose dan Arkan telah bersiap menikmati kebersamaan mereka selama di Bali.
"Hari ini mau ke mana?" tanya Arkan pada istrinya yang sudah terlihat sangat cantik menggunakan dress berwarna pink yang sangat kontras dengan kulit putihnya.
"Ke mana saja yang penting sama kamu," jawab Rose sambil tersenyum malu lalu menggandeng lengan kekar suaminya.
Arkan hari ini juga sangat tampan. Suaminya memakai kaos polo berwarna hitam dan celana pendek berwarna putih, tidak lupa kaca mata bertengger di hidung mancungnya yang menambah ketampanan pria tersebut.
"Jangan bersikap manis kayak gini, nanti aku bisa nggak tahan," ucap Arkan menatap istrinya dengan penuh dambah. Ah, rasanya dia seperti seperti anak ABG yang baru mengenal cinta, dia jadi bucin banget sama istrinya.
"Ck! Kamu tadi malam sudah berjanji kalau hari ini tidak akan menyentuhku!" ketus Rose sambil memanyunkan bibirnya dengan sebal.
Arkan tertawa pelan, "iya, sayang. Tapi kalau ingkar janji jangan salahkan aku, tapi salahkan dia." Arkan menunjuk sela pahanya yang terlihat menggembung, bertanda kalau senjatanya kembali tegak berdiri hanya dengan berdekatan dengan istrinya. Tubuh Rose seolah mengandung sinyal kuat yang membuat antena milik Arkan langsung berdiri tegak.
"Alasan!" Rose semakin cemberut dibuatnya, lalu menarik tangan suaminya keluar dari kamar hotel.
*
__ADS_1
*
"Gimana, Hen?" tanya Agus pada temannya yang baru memasuki bengkel.
"Apanya yang gimana?" Hendra balik bertanya seraya menatap temannya itu yang sedang menata oli di rak yang disediakan di sana.
"Aplikasi danting berjalan lancar 'kan?"
"Nggak sama sekali! Aku udah coba untuk mengirim pesan pada salah satu wanita yang aku pilih, tapi sama sekali nggak di balas," jawab Hendra seraya berjalan masuk ke ruangan loker dan berpas-pasan dengan Dani pemilik bengkel tersebut.
"Mungkin setelah bulan madu dia akan resign, karena suaminya sudah kaya raya dan menjamin hidupnya!" balas Hendra dengan nada tak kalah kesal, seraya mengambil wearpack-nya yang tergatung di dalam lokernya.
"Cih!" Dani hanya berdecih kesal menanggapinya dan berlalu dari sana.
Hendra geleng-geleng kepala melihat sikap Dani yang masih mengharapkan Rose sebagai istri kedua. "Tua-tua ngggak tahu diri! Udah punya anak istri masih aja kurang!"
*
__ADS_1
*
Di sisi lain, Nyonya Park saat ini sedang bersiap kembali ke Korea.
"Kau ingin kembali ke Korea? Kenapa mendadak?" tanya suaminya.
"Bukan urusanmu!" balas Nyonya Park dengan nada datar, tanpa menatap suaminya. Dia sedang sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Ji Woo, kalau ada masalah dibicarakan baik-baik, jangan seperti ini!" Tuan Park memandang istrinya dengan tatapan kesal bukan kepala.
"Aku selama ini sudah cukup sabar mengahadapi sikapmu yang sama sekali tidak bisa move on dari masa lalumu! Apakah kau memikirkan perasaanku? Apakah kau memikirkan betapa sakitnya hatiku saat pria yang aku cintai ternyata setiap harinya hanya mengingat dan menginginkan wanita lain?!" balas Nyonya Park tak kalah geram pada suaminya yang selama ini telah menyepelekan perasaannya.
"Aku memang bukan wanita yang sempurna. Aku tidak seperti dia yang serba bisa melakukan segala hal! Seharusnya sejak awal aku sadar, bahwa kehadiranku sama sekali tidak kau inginkan, lebih baik aku pergi! Sekarang aku mengikhlaskanmu untuk wanita itu!" lanjut Nyonya Park dengan lirih, dan putus asa.
Deg!
Jantung Tuan Park berdetak sangat cepat saat mendegar ucapan istrinya. Entah kenapa hatinya tidak terima dengan keputusan istrinya itu. Apakah perasaannya mulai goyah?
__ADS_1