Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Menghasut Mika


__ADS_3

Tepat jam 10 pagi. Meeting telah selesai. Arkan keluar dari ruangan tersebut dengan langkah lebar di ikuti oleh asistennya. “Bagaimana hasilnya? Kau sudah mendapatkan informasi yang aku minta?” tanya Arkan pada asistennya yang kini berjalan di sampingnya.


“Sudah, Pak. Anda tidak perlu khawatir. Saya sudah mendapatkan informasinya sangat lengkap sampai ke akarnya,” jawab pria berpenampilan parlente itu.


Arkan menghentikan langkahnya, seraya menatap asistennya dari atas sampai bawah, bibirnya berkedut ketika melihat penampilan asistennya yang sangat unik. Bagaimana tidak unik? Asistennya itu memakai kemeja lengan pendek warna dasar abu, dan bermotif daun, sedangkan celana panjangnya berwarna pink, tidak lupa topi flat cap terpasang di kepalanya.


Penampilan asistennya itu sangat njomplang jika di bandingkan dengan penampilannya yang high class.


“Kenapa?” tanya sang asisten ketika merasa diperhatikan oleh bossnya.


“Aku suka dengan style-mu,” jawab Arkan, kembali melanjutkan langkahnya.


“Terima kasih, Pak. Ini adalah kali pertama Anda memuji saya,” jawab pria tersebut mengikuti Arkan dengan langkah cepat, karena bossnya itu berjalan cepat dan langkahnya sangat lebar membuatnya terkadang kesulitan mengimbangi.


“Oh ya?” Arkan menyahut dengan nada datar.


“Iya, karena biasanya Anda selalu mengolok saya,” jawab pria tersebut, langsung menundukkan kepala, ketika mendapatkan lirikan tajam dari Arkan.


Arkan menghentikan langkahnya ketika sampai di depan pintu ruangannya, “masa sih? Kok aku lupa ya? Kapan aku mengolokmu?” tanya Arkan, pura-pura pikun, kemudian menatap tajam asistennya itu.


Melihat manik tajam itu, sang asisten tentu saja langsung ketakutan, “ha ha ha, Anda setiap hari memuji saya, tapi sepertinya saya yang lupa akan hal itu. Maaf,” ucap pria tersebut sambil tersenyum meringis, seraya berkata di dalam hati, ‘cari aman saja, dari pada di pecat.’


“Dengarkan aku Bambang, sekarang aku tidak membutuhkan omong kosongmu! Aku membutuhkan informasi itu secepatnya! Paham!” ucap Arkan dengan tegas, seraya membuka pintu ruangannya.

__ADS_1


“Bams, Pak. Bukan Bambang! Biar keren sedikit,” jawab Bams seraya menggembungkan pipinya, dan menundukkan kepala, saat Arkan kembali menatapnya dengan tajam.


“Kau berani mengaturku?!” Arkan menuding asistennya dengan jari telunjuknya.


“Maaf ... informasi yang Anda inginkan sudah saya kirimkan melalui Email, saat selesai rapat tadi,” ucap Bams, mengalihkan pembicaraan agar bossnya itu tidak darah tinggi.


“Kenapa baru bilang sekarang!” geram Arkan seraya masuk ke dalam ruangannya, menutup pintu dengan keras, membuat asistennya yang masih berdiri di luar ruangannya terkejut bukan kepalang.


“Ya ampun! Jantungku hampir mau lepas dari tempatnya,” gumam Bams seraya mengusap dadanya berulang kali, kemudian dia segera berdiri tegak dan menundukkan pandangan ketika pintu tersebut kembali terbuka. Arkan menyembulkan kepala dari pintu tersebut.


“Kenapa kau berdiri di sana? Masuk!” titah Arkan dengan nada mengerikan.


“Baik, Pak,” jawab Bams, patuh. Lalu segera masuk ke dalam ruangan bossnya, duduk berhadapan dengan Arkan, hanya meja kerja saya yang menjadi pembatas di antara mereka.


Arkan duduk dengan tegap, seraya menatap serius pada layar laptopnya yang memperlihatkan semua informasi tentang Tuan Park dan Ibu Sita. Nafas Arkan hampir tercekat di tenggorokan ketika mengetahui tentang semua kebenaran yang ada.


“Saya mendapatkan informasi itu dengan cara meretas ponsel Tuan Park,” jawab Bams dengan mantap.


“Good. Inilah yang aku suka darimu. Meski penampilanmu sangat menggelikan, tapi otakmu seperti berlian yang sangat langka,” jawab Arkan mengolok sekaligus memuji asistennya.


Bams tersenyum meringis, dia tidak tahu harus bereskpresi senang atau sedih karena kata-kata bossnya itu seperti sebilah pedang yang sedang memotong permen karet.


“Lalu, apakah kau sudah memerintahkan anak buahmu untuk mengawasi Rose?” tanya Arkan lagi, kali ini dia menatap Asistennya dengan serius.

__ADS_1


“Sudah, Pak. Anda tidak perlu khawatir.”


“Oke, kau boleh keluar dari sini!” usir Arkan seraya mengibaskan tangan kanannya pada Bams.


“Baik, Pak.” Bams beranjak dari duduknya, bernafas lega setelah keluar dari ruangan tersebut.


*


*


Di tempat lain. Nyonya Park sekarang berada di rumah Arkan. Dia sedang bermain dengan cucunya, di dalam kamar Mika.


“Mika, apa yang membuatmu suka dengan Rose?” tanya Nyonya Park pada cucunya yang sedang merapikan rambut barbie.


Mika menatap wanita paruh baya itu sambil mengerutkan alisnya, seraya berkata, “kenapa Oma bertanya seperti itu? Semua orang di sini sudah pada tahu kalau Mommy Rose adalah wanita baik, dan wajahnya juga sangat mirip dengan Mommy-ku.”


Jawaban Mika membuat Nyonya Park semakin kesal dan marah, akan tetapi wanita tersebut berusaha untuk menahan diri dan bersikap sok manis di depan cucunya ini.


“Sepertinya akan sulit menghasut bocah pintar ini,” batin Nyonya Park sangat kesal.


Pokoknya dia harus bisa menghasut Mika agar membenci Rose, dan menggagalkan pernikahan tersebut. Dia sangat tidak sudi jika Rose yang notabennya anak dari ibu Sita masuk ke dalam keluarganya atau pun keluarga William.


 ***

__ADS_1


Sumpah benci banget sama Nyonya Park.


Jangan lupa like dan komentarnya, bestie-ku semua.


__ADS_2