Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Bab 63


__ADS_3

Arkan mengacak rambutnya frustrasi. Dia telah kehilangan jejak Rose. Taksi yang membawa calon istrinya ini entah pergi ke arah mana. Sudah berulang kali juga dia berusaha untuk menghubungi Rose akan tetapi panggilannnya selalu di reject. Hari telah berganti malam, Arkan memutuskan pulang ke rumah Rose, barang kali calon istrinya telah pulang lebih dulu. Tapi kenyataannya, Rose tidak ada di rumah kontrakan.


Berbagai pikiran buruk mulai berseliweran di benaknya. Arkan mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian dia menunggu Rose di dalam mobil sembari menatap pintu rumah kontrakan itu yang tertutup rapat.


"Ya Tuhan, bagaimana jika dia nanti membatalkan pernikahan kami," gumam Arkan sangat resah dan ketakutan. Takut kalau dia akan kehilangan wanita yang sangat dia cintainya untuk kedua kalinya.


Drttt ... Drttt


Ponsel yang dia genggam sejak tadi bergetar panjang menandakan ada panggilan masuk. Arkan segera menatap layar ponselnya, dia berharap kalau yang menghubunginya adalah Rose, akan tetapi pundaknya langsung lemas dan rasa kecewa menyelimuti hatinya ketika dia melihat layar ponselnya tertera nama "Mama". Meski begitu, Arkan segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo," jawab Arkan, lesu.


"Daddy! Kapan Daddy pulang? Jangan lupa es krim dan coklatku ya." Suara cempreng Mika menyambut pendengaran Arkan, membuat pria tersebut menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Iya, Daddy masih di jalan," bohongnya.


"Lalu mana Mommy?" tanya Mika terdengar sangat antusias jika membahas Ros-calon ibu sambungnya.


"Mommy ... sedang ... emh .. sudah dulu ya sayang. Daddy sebentar lagi akan sampai." Arkan langsung memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak. Karena dia tidak tahu harus menjawab apa saat putrinya ingin berbicara dengan Rose.


Arkan membuang nafas kasar, seraya menyandarkan punggungnya dengan frutrasi di sandaran jok mobil. Wajahnya tampak resah, dan kedua matanya menekuri layar ponselnya. Jari tangannya menekan-nekan layar ponselnya, membuka room chat, dia akan mengirim pesan pada Rose. Meski sudah puluhan pesan sudah dia kirimkan, akan tetapi pesannya tidak ada satupun yang di baca atau pun di balas oleh calon istrinya itu. Sepertinya Rose benar- benar marah padanya.


"Sayang, kamu di mana? Maafkan aku." Pesan Arkan sudah terkirim dan centang dua berwarna abu, bertanda kalau pesannya belum di baca, begitu pula dengan pesan yang lainnya mempunyai nasib sama.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana?" gumam Arkan sangat resah dan khawatir.








Sampai di rumahnya, Arkan di sambut omelan dari ibunya.


"Ke mana saja sih seharian?! Rose saja sudah ke sini tadi mengambil motornya," omel Allegra pada putranya yang baru masuk rumah.


Kedua mata Arkan membola sempurna ketika mendengar ucapan ibunya. "Kapan Rose ke sini, Ma?!" Arkan sangat penasaran.


"Tadi sore, waktu Mika selesai menghubungimu," jawab Allegra apa adanya, pasalnya Rose tadi sore memang ke rumah dan bermain sebentar dengan Mika.


"Kenapa Mama nggak segera telepon aku?!" kesal Arkan pada ibunya.

__ADS_1


"Loh ... Loh! Kok kamu menyalahkan dan memarahi Mama?! Kamu lagi bertengkar sama Rose!" Allegra menunjuk wajah putranya penuh curiga dan emosi.


Arkan menghela nafas kasar, sambil menganggukkan kepala.


"Kenapa kalian bertengkar? Pasti kamu yang cari masalah!" tuduh Allegra, karena dia sangat hafal dengan sikap putranya yang keras dan angkuh.


Arkan akhirnya menceritakan semua permasalahannya pada ibunya, tanpa ada yang terlewat sama sekali. Allegra menggelengkan kepalanya berulang kali sembari menatap putranya sangat tajam.


"Mama, kecewa sama kamu! Mama pikir selama ini kamu sudah move on dengan masa lalu kamu, ternyata  Mama salah!" ucap Allegra menumpahkan kekecewaannya.


Arkan terdiam dan kepalanya tertunduk penuh penyesalan.


"Lebih baik pernikahan kalian di batalkan saja! Dari pada kamu nyakitin anak orang!" lanjut Allegra dengan sangat tegas.


Arkan  mengangkat kepalanya yang tertunduk, kedua matanya membola sempurna, dibarengi menggelengkan kepala berulang kali sebagai tanda kalau dia tidak setuju dengan keputusan ibunya.


"Nggak, Ma! Aku nggak mau pernikahan ini batal!" ucap Arkan tak kalah tegas. "Aku sekarang sudah sadar kalau aku sangat mencintai Rose, jadi aku mohon jangan batalkan pernikahan kami!" mohon Arkan pada ibunya.


"Heleh! Cinta ... Cinta ... Taik kucing!" umpat Allegra sambil berjalan meninggalkan putranya menuju anak tangga.


****


Belum puas nyiksa Arkan🤣

__ADS_1


Jangan lupa, like, komentar, vote dan gift seikhlasnya


__ADS_2