
Hari kemarin yang melelahkan di isi dengan segala kesibukan telah terlewati dengan penuh ke rumitan. Arkan merasa galau dan gamang dengan perasaannya sendiri, tapi ucapan dan nasehat dari Bams terus teringat di kepalanya.
"Terserah Anda yang menjalani. Kamu mau terus hidup dalam bayang-bayang mendiang istrimu atau melangkah ke depan bersama dengan Rose. Hidup itu pilihan! Tapi, ambilah pilihan yang bijak, terbaik untuk masa depanmu serta anakmu." Kurang lebih seperti itu nasehat yang di berikan Bams kepada Arkan.
"Mendiang istrimu dan Rose sama-sama wanita spesial di hatimu. Aku yakin kamu pasti sudah menempatkan kedua nama itu di sudut hati yang berbeda. Percayalah kalau Tuhan menghadirkan Rose di kehidupanmu dan Mika karena dia adalah wanita yang terbaik untukmu. Wanita yang mampu menyembuhkan segala lara dari rasa kehilangan mendiang istrimu. Maka dari itu, Mak Lampir memanfaatkan kelemahanmu yang masih sangat mencintai mendiang istrimu, agar kamu menggagalkan pernikahanmu sendiri dengan Rose." Bams terus menasehati Arkan yang sedang galau dan ragu dengan perasaannya sendiri.
Arkan mengusap wajahnya dengan kasar. Pria yang baru selesai membersihkan diri dan mengenakan jubah mandi itu berjalan ke balkon kamar. Tatapan matanya terpaku ke arah depan, penuh ke rumitan. Tapi, semua kerumitan yang membelenggu pikirannya itu teralihkan saat melihat wanita cantik memasuki area rumahnya menggunakan motor matic.
"Mommy!" Mika berseru lalu berlari ke arah Rose yang baru memarkirkan motornya di halaman rumah yang luas itu.
"Sabar dong. Mommy matikan mesin motornya dulu," jawab Rose, ketika Mika sudah berada di dekatnya dan ingin di gendong.
"Ayo, Mommy, cepat. Aku sangat rindu dengan Mommy." Mika merengek sambil mengulurkan kedua tangannya pada Rose yang kini sudah turun dari motor.
"Iya." Rose tersenyum lembut lalu segera menggendong Mika dengan penuh kasih dan cinta. "Wangi banget, sudah sarapan belum?" tanya Rose ketika selesai mencium kedua pipi Mika, gemas.
"Belum, karena mau di suapi Mommy," jawab Mika tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi dan putih.
"Oh, pantas saja, Mommy dengar suara ayam dari perut ini." Rose tersenyum menggoda Mika seraya memegang perut anak sambungnya itu.
Mika tertawa pelan, lalu memeluk leher Rose dengan erat, mencurahkan kerinduannya.
__ADS_1
Kehangatan antara Rose dan Mika tidak luput dari perhatian Arkan yang sejak tadi memperhatikan dari balkon kamar. Bibir Arkan melengkung tipis, hati dan pikirannya turut hangat dan tentram saat melihat kedekatan Rose dan putrinya. Kini dia telah tahu jawaban atas segala kegundahan dan kegalauan hatinya. Arkan segera beranjak dari balkon kamar, masuk ke dalam kamarnya, dan segera memakai pakaiannya.
*
*
"Selamat pagi," sapa Rose pada Gerry dan Allegra dengan ceria sambil menggendong Mika yang sangat manja kepadanya.
"Selamat pagi juga, Rose," balas Gery dan Allegra secara bersamaan seraya tersenyum melihat tingkah Mika yang sangat manja.
"Ayo, sarapan bareng. Arkan sebentar lagi akan turun dan bergabung," ucap Allegra pada calon menantunya yang masih berdiri di dekat meja makan.
"Iya, Nyonya," jawab Rose seraya mendudukkan diri di kursi tempat biasa dia duduk sambil memangku Mika.
"Iya, sayang. Sebelum makan berdoa dulu ya." Rose dengan cekatan mengambilkan sarapan untuk Mika, lalu menyuapi Mika sangat telaten.
"Mika, duduk sendiri dong. Kalau kamu terus di situ, nanti Mommy lelah memangkumu," tegur Gerry paca cucunya, akan tetapi Mika menggeleng dengan tegas, bertanda kalau tidak mau pindah dari pangkuan mommy-nya.
Tak berselang lama, Arkan bergabung di meja makan. Dia duduk di samping Rose yang terlihat masih cuek padanya.
"Aku mau juga di suapi," ucap Arkan seraya membuka mulutnya, menatap Rose dengan tatapan permohonan.
"Ih! Kau 'kan bisa makan sendiri!" tolak Rose, seraya melirik kedua calon mertuanya karena merasa malu dan tidak enak hati.
__ADS_1
"Kayaknya makan dari tanganmu lebih enak dan nikmat. Ayolah," bujuk Arkan, kembali membuka mulutnya dengan lebar, berharap Rose segera menyuapinya.
'"Daddy kayak kecil! Yang boleh di suapi mommy itu cuma Mika!" sewot Mika sambil mendorong bahu ayahnya agar menjauh dari mommy-nya.
Gerry dan Allegra tertawa melihat tingkah ayah dan anak itu yang saling merebutkan Rose.
"Rose, kayaknya kamu akan mempunyai bayi dua deh," goda Allegra pada calon menantunya, sambil tertawa pelan.
Rose tersenyum meringis menanggapinya, kemudian dia menoleh pada Arkan, menatap sebal pada pria tersebut seraya berkata, "makan sendiri!"
"Nggak mau!" jawab Arkan tidak mau mengalah, lalu mengarahkan tangan kanan Rose yang memegang satu sendok nasi dan ayam goreng lalu mengarahkan pada mulutnya,
"Daddy!! Itu punyaku!!!" teriak Mika tidak terima jatah sarapan spesialnya di ambil ayahnya meski hanya satu sendok saja.
"Wleekkk!" Arkan semakin menggoda putrinya yang merajuk.
"Mommy, lihat Daddy!" adu Mika pada Rose, dengan nada manjah.
***
Agak tenang ya😆😆
Jangan lupa like dan komentarnya, eh vote-nya jangan lupa ya juga ya, soalnya udah hari senin😍😍🥰
__ADS_1