Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Bab 49


__ADS_3

"Tidak bisa!" jawab Tuan Park seraya menarik tangannya dari genggaman sang istri. "Kau menyuruhku menjauhinya, setelah semua terjadi! Kau tidak tahu, betapa menderitanya aku selama ini! Paling tidak izinkan aku menjadi ayah yang baik untuk Rose," lanjut Tuan Park, menatap istrinya dengan penuh kemarahan.


Nyonya Park memejamkan kedua mata sesaat beriringan dengan helaan nafas panjang keluar dari bibirnya. Kemudian menatap suaminya penuh luka, "artinya kau selama ini pura-pura bahagia bersamaku, begitu?" lirih Nyonya Park, menahan rasa sakit yang luar biasa di dalam dadanya.


Tuan Park memalingkan wajah, lalu kembali menatap wajah istrinya, "aku bahagia bersamamu, hanya saja ...," ucapan Tuan Park terhenti, lidahnya terasa kaku kalimat selanjutnya yang akan dia lontarkan seolah tertahan di ujung lidahnya.


"Hanya saja, kau lebih mencintainya? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau melakukan semua ini kepadaku?! Kau menikamku dengan ribuan belati dan tepat mengenai jantungku!" Nyonya Park menggelengkan kepala, seraya menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


Rasa sakit di dalam dada kian menyebar dan masuk ke dalam otaknya, membuatnya kepalanya pusing dan hampir tidak bisa bernafas. Tubuhnya limbung, dan akhirnya dia terjatuh dan tidak sadarkan diri.


"JI-Woo!" Tuan Park panik, dia segera menggendong istrinya, dan merebahkan ke atas tempat tidur. Setelah itu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter.








Di sisi lain. Arkan memarkirkan mobilnya di depan kontrakan Rose pada malam hari itu. Dia keluar dari mobil, sembari menenteng sebuah berkas di tangan kirinya. Kedua kakinya melangkah tanpa keraguan, hingga berhenti tetap di depan pintu kontrakan yang tertutup itu. Tangan kanannya terangkat, mengetuk pintu berwarna coklat itu.

__ADS_1


Tok  ... Tok ...


Rose yang baru selesai mandi, segera mengenakan pakaiannya. Daster rumahan dengan harga 30 ribuan yang dia beli dari pasar malam bulan lalu menjadi pilihannya. Daster tersebut berwarna dasar pink dengan motif daun janda bolong, dan berbahan rayon, adem, dan nyaman dipakainya. Ketukan pintu kembali terdengar, membuat Rose tidak sempat menyisir rambutnya. Dia segera membuka pintu tersebut, dan betapa terkejutnya dia melihat Arkan berdiri di balik pintu itu.


Arkan terdiam, bibirnya mengatup rapat, tapi tatapan tajamnya tertuju  pada Rose yang terlihat berbeda pada malam ini. Calon istrinya ini terlihat sexy mengenakan daster sederhana seperti ini, di tambah lagi rambut panjang itu basah, dibiarkan tergerai begitu saja dan terlihat acak-acakan, tapi malah menambah kesan sexy pada visual Rose malam ini. Tanpa sadar dia sedang terpesona pada calon istrinya itu.


"Ada apa?" Pertanyaan Rose membuyarkan pemikiran Arkan yang kotor.


"Oh ... boleh aku masuk?" jawab Arkan dengan nada pelan.


"Boleh, tapi pintunya di buka saja, soalnya Ibu nggak ada, lagi pulang kampung ngambil beberapa berkas untuk pernikahan kita," ucap Rose sekaligus menjelaskan keberadaan ibunya pada Arkan.


Arkan mengangguk, seraya melepaskan sepatu dan kaos kakinya, lalu masuk ke dalam kontrakan tersebut duduk di atas lantai seperti biasanya.


"Apa saja," jawab Arkan singkat.


Rose menganguk, lalu segera membuatkan Arkan secangkir kopi. Untung ada tremosnya sudah dia isi dengan air panas jadi dia tidak perlu menyalakan kompor. Kemudian, Rose memberikan secangkir kopi hitam pada Arkan, dan Arkan menerimnya, tidak lupa mengucapkan terima kasih.


Rose duduk di lantai, namun dengan posisi sedikit miring, karena tidak ingin pahanya di lihat oleh Arkan. Arkan melihat Rose tidak nyaman pun berinisiatif mengambil bonek tedybear yang tergeletak di atas tempat tidur, lalu di berikan pada Rose.


"Terima kasih," ucap Rose seraya merubah posisi duduknya, dan menutupi pahanya dengan boneka tersebut.


Rose dan Arkan merasakan kecanggungan yang luar biasa. Tidak seperti biasanya, karena biasanya mereka akan bertengkar jika bertemu, tapi ini berbeda. Entah kenapa.


"Rose, ibu pulang kampung sejak kapan? Kenapa tidak memberitahuku?" tanya Arkan memecah kecanggungan di antara mereka.

__ADS_1


"Sore tadi, aku mengantarkannya ke terminal bus," jawab Rose.


"Lain kali hubungi aku, agar aku bisa menyuruh sopir untuk mengantarkan Ibu sampai kampung," jelas Arkan pada Rose.


"Makasih perhatiannya. Btw, kau mau apa malam-malam ke sini?" tanya Rose, menatap penuh selidik pada calon suaminya itu.


"Aku sudah mendapatkan informasi yang kau inginkan," jawab Arkan, seraya memberikan berkas yang dia bawa pada Rose.


"Tentang ayahku?" tebak Rose, dan Arkan menjawab dengan anggukan kepala.


Rose menerima berkas tersebut. Kedua tangannya bergetar, detak jantungnya berpacu dengan cepat, tapi rasa penasarannya yang begitu besar mengalahkan segala rasa yang dia rasakan saat ini. Rose menarik nafas panjang dan membuangnya secara perlahan saat akan membuka berkas tersebut.


Arkan mengamati Rose dalam diam, tapi dia bisa menebak kalau sebuah kenyataan ini akan menjadi pukulan besar untuk Rose.


Bibirnya Rose bergerak pelan saat membaca setiap kalimat yang tertulis di berkas tersbut. Kedua matanya mengembun, saat sebuah kenyataan terungkap.


"Kenapa?" tanya Rose dengan nada lirih di sela isak tangisnya.


"Rose ..." Arkan mendekat lalu memeluk wanita yang tengah menangis itu.


"Kenapa seperti ini. Bukan ini yang aku inginkan, ini pasti bohong 'kan?" tanya Rose dengan suara tersendat-sendar. Air matanya terus keluar membasahi pipinya, kedua tangannya meremas berkas tersebut dengan kuat. "Tidak mungkin ayahku adalah Tuan Park. Ini pasti bohong ... ini pasti mimpi ..." racau Rose seraya membalas pelukan Arkan dengan erat.


"Sttt, tenangkan dirimu, Rose," bisik Arkan seraya mengusap punggung ringkih yang terasa bergetar itu berulang kali, seolah menyalurkan sebuah kenyamanan dan ketenangan untuk Rose.


"Jika dia ayahku, kenapa dia meninggalkan aku dan ibu?" lirih Rose. Dadanya sangat sakit, hatinya seolah di remas dengan kuat sampai hancur lebur tak tersisa.

__ADS_1


__ADS_2