Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Jangan Macam-Macam, Arkan!


__ADS_3

Tuan Park pulang membawa kesedihan, penyesalan yang begitu besar di dalam hatinya. Sedangkan Ibu Sita saat ini menangis sendirian di dalam kontrakan tersebut. Kenangan pahit 20 tahun lalu kembali menorehkan luka di dalam hatinya.


“Kenapa kami di pertemukan kembali di saat aku sudah bahagia bersama putriku. Kenapa Tuhan? Kenapa engkau begitu kejam padaku. Semua luka dan derita ini semakin sulit untuk di lupakan,” tangis lirih Ibu Sita di dalam ruangan itu terdengar sangat menyakitkan dan menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya.


Sementara itu, Tuan Park sudah sampai apartemennya. Dia melangkah masuk ke dalam apartemen mewahnya dengan langkah gontai, tatapannya hampa, seolah tidak mempunyai semangat hidup lagi, dadanya sangat sesak bagai di timpa batu besar. Otaknya terus memikirkan Rosita.


‘Selama 20 tahun, kamu pasti sangat menderita dan berjuang keras untuk membesarkan putri kita seorang diri. Maafkan aku, Rosita, maafkan aku yang pengecut ini. Maafkan aku karena sudah memberikan beban dan luka yang begitu besar padamu,’ ucap Tuan Park pada dirinya sendiri, dengan penuh penyesalan yang begitu besar.


“Sayang, kamu sudah pulang?” Nyonya Park yang duduk di ruang tengah sendirian langsung meletakkan tas barunya lalu berjalan mendekati suaminya yang baru memasuki rumah.


Tuan Park diam, terus berjalan tanpa menanggapi ucapan istrinya. Kening Nyonya Park mengerut, merasa aneh dengan sikap suaminya yang tidak biasanya mengabaikannya.


“Park Jihoon!” seru Nyonya Park pada suaminya dengan nada tinggi bercampur kesal.


Tuan Park menghentikan langkah kakinya, menoleh kebelakang menatap istrinya yang terlihat kesal.


“Ji-Woo, bisakah kau diam sebentar?!” balas Tuan Park dingin, tapi beberapa saat kemudian dia baru tersadar kalau telah berkata kasar pada istrinya. Dia menghela nafas kasar guna menetralkan perasaannya, lalu bersikap seperti biasa, agar istrinya tidak mencurgainya.


“Apa terjadi sesuatu?” tanya Nyonya Park menurunkan nada bicaranya, berjalan mendekati suaminya yang masih berdiri di tempat.


“Maafkan aku, Ji-Woo, kepalaku sedikit pusing,” ucap Tuan Park seraya memijit kepalanya, seraya menatap istrinya yang sudah berdiri tepat di hadapannya.


Nyonya Park mengusap dada bidang suaminya dengan lembut. “Aku juga minta maaf. Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?” jawab Nyonya Park sekaligus bertanya pada suaminya.


“Iya, ada masalah sedikit,” jawab Tuan Park lalu merengkuh pinggang istrinya, bersikap penuh dusta agar istrinya tidak mencurigainya, kemudian dia mengecup bibir istrinya sekilas. “Bisa pijat kepala dan pundakku?” ucap Tuan Parka dengan nada manja pada istrinya.

__ADS_1


“Tentu saja, Sayang. Ayo ... aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi setelah itu aku akan memijatmu.” Nyonya Park mengajak suaminya berjalan menuju kamar.


“Terima kasih sayang, kamu memang istri yang sangat pengertian dan sangat baik,” puji Tuan Park mengecup pipi istrinya dengan mesra.


Wajah Nyonya Park merona malu, wanita mana pun akan meleleh di perlakukan romantis dan manis seperti ini.


*


*


Di sisi lain. Arkan, Mika dan Rose saat ini tidur bertiga di ranjang Mika yang sempit.


“Bisa geser sedikit!” kesal Arkan pada Rose yang sedang tidur memeluk Mika.


Arkan menghela nafas kasar, dia tidur miring, menatap Mika yang baru saja terlelap di pelukan Rose.


“Apa dia sudah pulas?” tanya Arkan.


“Sttt!” Rose menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, sambil melotot tajam pada Arkan.


“Ck! Tanya begitu saja nggak boleh! Dasar wanita!” sungut Arkan, mendengus kesal. Bibirnya menggembung seperti ikan buntal.


Rose geleng-geleng kepala saat melihat tingkah Arkan seperti anak kecil.


15 menit kemudian.

__ADS_1


Mika sudah pulas dalam tidurnya. Rose dengan perlahan melepaskan pelukan Mika. Setelah pelukan Mika terlepas, dia mencolek lengan Arkan dengan pelan, seperti seorang istri yang akan minta jatah pada suaminya.


“Sudah tidur?” Arkan mendudukkan diri menatap Rose yang masih merebahkan diri di samping Mika.


“Mika sudah terlelap, pindah sana,” usir Rose pada Arkan.


“Ayok!” ajak Arkan pada Rose.


“Hah? Ayok ke mana?” tanya Rose, heran pada Arkan yang turun dari ranjang, lalu menarik tangannya.


“Pindah kamar.”


Jawaban Arkan membuat Rose takut lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Jangan macam-macam, Arkan. Aku masih perawan ting-ting!” Rose menatap tajam pada Arkan.


“Dasar otak udang! Apakah kau sudah nggak sabar malam pertama denganku, jadi otakmu mesum!” umpat Arkan seraya menonyor kepala Rose dengan jengkel.


“Ih ... najis! Dasar wedus gembel! Ogah banget di sentuh sama kamu!” umpat Rose sengit.


“Oh ya? Kita lihat saja nanti!” tantang Arkan, berkacak pinggang lalu menarik tangan Rose hingga membuat wanita itu hampir terjatuh dari tempat tidur.


“Ih! Lepaskan aku! Kau mau apa? Arkan, jangan macam-macam denganku!” pekik Rose tertahan.


***


Abang Arkan, jangan macam-macam ya, itu masih bersegel loh😆

__ADS_1


__ADS_2