Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy

Anak Genius: Mendadak Jadi Mommy
Rencana Tuan Park


__ADS_3

Canggung. Itu yang dirasakan oleh Ibu Sita ketika kembali bergabung di tengah-tengah keluarga Arkan. Ruangan yang sempit itu terasa pengap. Padahal sebelumnya biasa saja, di tambah lagi kehadiran sosok pria di masa lalunya yang sama sekali tidak dia harapkan. Ibu Sita sengaja menundukkan kepala, agar pria itu tidak bisa melihat wajahnya.


“Maaf, semuanya menjadi kacau karena saya,” ucap Ibu Sita, tidak enak hati.


“Tidak apa-apa, Bu. Apa Ibu Sita sudah merasa lebih baik?” tanya Allegra dengan ramah, pada calon besannya.


“Iya, saya sudah merasa lebih baik,” jawab Ibu Sita tersenyum paksa.


“Tapi, tidak dengan hati saya,” lanjut Ibu Sita di dalam hati. Dia menghela nafas kasar, saat rasa sesak di dalam dada kembali menghimpit. Bayangan masa lalu kembali berputar di dalam otaknya. Tapi, kali ini Ibu Sita berusaha untuk mengontrol diri agar tidak kejadian seperti tadi.


“Syukurlah,” ucap Gerry dan Allegra bersamaan, menatap ibu Sita yang sejak tadi menundukkan kepala. Mereka berpikir kalau Ibu Sita masih merasa tidak enak hati atas kejadian tadi, jadi mereka memaklumi.


Di sisi lain. Tuan Park sejak tadi mengepalkan tangan di atas pangkuan. Dia menatap Ibu Sita yang duduk tepat berhadapan dengannya hanya saja wanita itu sejak tadi menundukkan kepala, jadi dia tidak bisa melihat jelas wajahnya.


Sikap Tuan Park di sadari oleh istrinya. Nyonya Park berdehem beberapa kali memberikan kode pada suaminya agar menjaga sikap. Rasa curiga di benaknya pun semakin menjadi, kala suaminya tak melepaskan pandangannya dari wanita yang bernama Rosita itu.


“Ibu, ini kenalkan Tuan dan Nyonya Park, yang aku ceritakan waktu itu. Beliau adalah kedua mertua Arkan dari mendiang istrinya,” ucap Rose pada ibunya.


“Ah, iya. Salam kenal, Tuan, dan Nyonya Park,” sapa Ibu Sita sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada, lalu sedikit membungkukkan setengah badan, tapi kepalanya masih tertunduk dalam.


“Maaf, bukankah tidak sopan jika berkenalan dengan cara menunduk seperti itu?!” ucap Nyonya Park pada Ibu Sita dengan nada tidak suka. Dia sangat penasaran dengan wajah wanita itu. Dan apakah benar jika wanita itu mempunyai hubungan dengan suaminya di masa lalu?


Kedua bola mata Ibu Sita bergerak ke kiri dan ke kanan. Cemas dan takut yang dia rasakan saat ini. Tapi, dia secepatnya mencari ide agar tidak menegakkan kepalanya.


“Maaf Nyonya Park. Jika sikap saya kurang sopan, tapi saya minder dan tak percaya diri berhadapan dengan Nyonya Park dan Nyonya Allegra yang terlihat sangat cantik, sedangkan saya ...” ucapan Ibu Sita terhenti ketika Mika menyela ucapannya.


“Aduh ... kepalaku pusing sekali! Sebenarnya kalian para orang dewasa membicarakan apa? Kenapa tidak membahas hari pernikahan Mommy dan Daddy?” protes Mika sambil cemberut menatap semua orang di sana dengan kesal.


Suasana yang canggung kini mencair ketika mendengar celoteh Mika yang melayangkan protes. Mereka semua jadi kembali ke topik pembicaraan, membahas pernikahan Arkan dan Rose.


Ibu Sita bernafas lega, sepertinya dia harus berterima kasih pada cucunya itu.


Tapi, tanpa Ibu Sita sadari, sejak tadi Tuan Park mencuri pandang ke arahnya yang masih menundukkan kepala.


“Rosita,” batin Tuan Park sangat yakin kalau wanita itu adalah Rosita di masa lalunya dulu. Tangan Tuan Park terkepal kuat, dadanya bagai dihantam batu besar ketika pandangannya beralih menatap Rose yang duduk di samping wanita itu. Kedua matanya memerah, ingin menangis, tapi sekuat tenaga dia menahannya.


“Apakah dia putriku?” batin Tuan Park sengsara. Rasanya dia ingin menjerit kuat guna melepaskan rasa mengganjal di dalam hatinya.


“Ya Tuhan.” Tuan Park bergumam dengan perasaan gelisah, dan rasa bersalah luar biasa terhadap Rosita.

__ADS_1


“Tuan Park, bagaimana?” tanya Gerry.


Pertanyaan Gerry menyadarkan Tuan Park dari segala keresahan hati dan segala pikirannya yang seperti benang kusut.


“Iya?” Tuan Park segera menguasai diri, berusaha bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. “Maaf, tadi aku memikirkan pekerjaan, jadinya tidak konsentrasi,” lanjut Tuan Park ketika semua orang menatapnya dengan kening berkerut, kecuali Ibu Sita yang masih setia mendundukkan kepala.


Gerry tersenyum, memaklumi kesibukan Tuan Park di dunia bisnis. Kemudian dia menjelaskan lagi tentang hari pernikahan Arkan dan Rose yang sudah di tentukan, “Satu minggu lagi. Untuk acaranya di ballroom hotel dan untuk persiapannya kita serahkan saja pada WO,” jelas Gerry dengan mantap.


“Iya, aku setuju saja. Untuk biayanya biar aku yang menanggungnya,” jawab Tuan Park tapi langsung mendapatkan ultimatum dari istrinya.


Nyonya Park menyenggol lengan suaminya, bertanda kalau tidak setuju jika mengeluarkan dana untuk pernikahan Arkan dan wanita miskin itu alias Rose. Namun, Tuan Park tidak mempedulikan protes istrinya.


“Arkan sudah aku anggap putraku sendiri, jadi izinkan aku membiayai semua ini,” jelas Tuan Park tidak sepenuhnya jujur, karena ada sebuah pernyataan tersembunyi di balik ucapannya itu yaitu dia juga merasa bertanggung jawab atas pernikahan Rose yang dia yakini adalah darah dagingnya.


“Kami tidak masalah, Tuan, tapi bagaimana dengan istri Anda,” jawab Gerry melirik Nyonya Park yang terlihat keberatan.


Nyonya Park seketika tersenyum palsu untuk menjaga Image-nya. “Iya, tentu saja aku setuju, Tuan William. Kami sudah menganggap Arkan sebagai putra kami,” jawab Nyonya Park penuh dusta.


“Oke, kalau begitu. Semua sudah di setujui, dan tidak ada yang keberatan atas pernikahan ini ‘kan? Jika ada mohon katakan sekarang,” ucap Gerry seraya menatap semua orang di seluruh ruangan tersebut.


Tidak ada yang protes atau keberatan, jadi Gerry menyimpulkan bahwa semua orang di sana telah setuju dengan pernikahan Arkan dan Rose.


*


*


Acara tersebut telah selesai. Gerry dan Allegra sudah pulang lebih dulu, begitu pula dengan Tuan Park dan istrinya. Kini tersisa Arkan dan Mika.


“Mbah, malam ini Mommy boleh tidur di rumahku?” mohon Mika pada ibu Sita.


“Tidak boleh, Sayang,” jawab Ibu Sita pada Mika.


Mika cemberut lalu mengerluarkan jurus air matanya untuk membuat Ibu Sita luluh.


“Mbah nggak sayang sama Mika ya? Hikss ... Hiksss ... aku hanya ingin di peluk Mommy saat tidur. Aku belum pernah merasakan di peluk Mommy dari sejak masih bayi ... hiks ... hikss.” Mika menangis tersedu-sedu di hadapan Ibu Sita. Dan tentu saja Ibu Sita jadi tidak tega mendengar ucapan Mika yang menyayat hati, apalagi gadis kecil itu menangis sedih. Dan akhirnya Ibu Sita mengabulkan permohonan Mika.


“Makaksih banyak, Mbah Putri.” Mika langsung memeluk wanita itu dengan erat, di balik pelukan itu Mika tersenyum bahagia sambil bersorak di dalam hati,’Yes!’ seraya mengepalkan tinju diudara,


Rose dan Arkan yang memperhatikan Mika dari dekat mobil menghela nafas kasar.

__ADS_1


“Dia berhasil membujuk Mbahnya,” ucap Arkan, tertawa pelan.


“Kenapa kau tertawa? Kau berharap banget ya aku nginap di rumahmu?!” sahut Rose dengan nada jengkel, menatap sinis pada Arkan.


“Cih! Kalau bukan karena Mika, aku juga nggak sudi berdekatan denganmu!” balas Arkan tak kalah kesal, seraya memutar kedua matanya dengan malas.


“Alasan!” balas Rose, mencibir Arkan dengan sengit.


“Terserah, memang begitu kenyataannya!” jawab Arkan balik menatap sengit pada wanita itu.


Rose dan Arkan saling pandang, dari kedua mata mereka seolah memancarkan sinar kebencian yang saling menghunus dan saling dorong seolah ingin bersaing menjadi pemenangnya. Sinar kebencian dari tatapan mereka seperti di film laga yang pernah di putar di saluran televisi ikan terbang pada zaman dulu.🤣🤣


Jadi ingat film laga angling darma🤣🤣🙈🙈


*


*


Tuan Park dan Istrinya telah sampai di lobby apartemen.


"Aku ada urusan, kau masuk saja lebih dulu. Mungkin aku akan pulang malam." Tuan Park berkata pada istrinya dengan lembut, agar tidak mencurigainya.


"Apa urusan bisnis?" tanya Nyonya Park penuh selidik.


"Iya." Tuan Park mengecup kening istrinya sesaat, sebelum istrinya itu turun dari mobil.


Tuan Park mengambil ponselnya dan membuka aplikasi M-banking, jempol tangannya berselancar menekan angka-angka di sana. Dia mentrasferkan sejumlah uang ke rekening istrinya.


"Malam ini kau bisa shoping sepuasnya," ucap Tuan Park seraya memasukkan ponselnya ke kantong jasnya.


Nyonya Park pun senang, mengucapkan terima kasih lalu melayangkan kiss bye pada suaminya yang sudah kembali menyalakan mesin mobil.


Tuan Park tersenyum, seraya membalas kiss bye istrinya, lalu menjalankan mobilnya, keluar dari area lobby apartemen tersebut.


Nyonya Park tersenyum bahagia, karena malam ini dia bisa membali tas branded incarannya.


***


2 bab, aku jadikan satu ya. Partnya panjang banget 🤣🤣🤣

__ADS_1


Jangan lupa like dan dukungan lainnya.


__ADS_2