
"Kenapa kau memukul Hendra?!" Rose menatap tajam Arkan ketika mereka sudah duduk di mobil.
Arkan membalas tatapan tajam Rose. "Aku berhak marah pada pria mana pun yang menyukaimu, termasuk dia!" balas Arkan tak kalah marah.
"Tapi semuanya bisa di bicarakan baik-baik, tidak dengan memukul seperti itu!" Rose masih memarahi calon suaminya, dia menatap Arkan penuh kecewa.
"Jadi kau membelanya? Kau suka kalau dia menyukaimu?!" Saat mengatakan kalimat tersebut Arkan mengeraskan rahangnya seraya menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnya menuju kontrakan Rose yang tak jauh dari sana.
Rose menatap Arkan dengan pandangan tak percaya, dia tidak menyangka kalau Arkan bersikap anarkis seperti ini. Terdiam sesaat, dan sesekali melirik Arkan yang masih terlihat sangat emosi, kini dia baru menyadari satu hal yaitu Arkan tengah di rundung rasa cemburu yang begitu besar.
Bibir Rose melengkung tipis dibarengi dengan helaan nafas panjang. Entah kenapa hatinya berbunga-bunga saat mengetahui jika Arkan cemburu. Dan bukankah cemburu itu bertanda cinta?
Tak berselang lama, mobil yang di kendarai Arkan berhenti di depan rumah kontrakan Rose.
"Kamu nggak mau mampir?" tanya Rose dengan nada pelan, menatap Arkan yang masih terlihat emosi.
"Nggak!" Arkan menjawab singkat, padan dan jelas, tatapannya terus ke depan, seolah tidak mau menatap Rose.
"Yakin? tanya Rose lagi.
"Hemm!" Arkan lagi-lagi menjawab dengan singkat, yang berakhir membuat Rose kesal bukan kepalang.
__ADS_1
"Ya udah kalau nggak mau!" balas Rose lalu segera keluar dari mobil tersebut dan menutup pintu mobil dengan kasar dan kuat.
BLAM!!!
Arkan sampai terlonjak kaget ketika melihat sikap Rose seperti itu. "Kenapa dia yang marah sih?! Seharusnya 'kan aku yang marah, dan seharusnya dia membujukku agar aku tidak marah lagi!" dumel Arkan seraya menatap Rose yang sudah masuk ke dalam kontrakan, bahkan wanita itu juga menutup pintu kontrakan penuh emosi.
BRAK!!!!
Suara pintu tertutup dengan keras, membuat para tetangganya pada keluar lalu menatap ke arah pintu Rose yang sudah tertutup rapat. Sedangkan Arkan mengusap dadanya berulang kali, sembari berkata, "spot jantung banget, dasar bar-bar!" dumelnya lagi, seraya melajukan mobilnya lagi menjauh dari rumah kontrakan Rose. Sebenarnya dia mau membujuk Rose, akan tetapi karena dia ada urusan lain, jadi dia mengurungkan niatnya.
"Besok juga baikan lagi," gumam Arkan, percaya jika Rose tidak akan bisa marah terlalu lama.
"Semarah itu 'kan dia?" gumam Arkan seraya berdecak dan mengendurkan dasi yang terasa mencekik di lehernya. Padahal dasi itu baru saja terpasang, tapi dia harus melonggarkannya lagi saat melihat sikap Rose yang acuh dan dingin padanya.
"Kalian sedang bertengkar?" tanya Allegra pada putranya yang berdiri di dekat ruang keluarga sambil menatap Rose sedang menyuapi Mika.
"Iya," jawab Arkan seraya mendesah kasar.
"Pernikahan kalian 4 hari lagi, sabaiknya kalian jangan bertemu lebih dulu, ini demi kebaikan kalian," saran Allegra pada putranya.
"Terlalu berat," jawab Arkan.
__ADS_1
Allegra tersenyum melihat putranya yang sedang galau, "sepertinya kamu sudah melupakan mendiang istrimu ya, Mama senang."
DEG!
Ucapan Allegra membuat Arkan seketika itu terkejut sekaligus tersadar karena beberapa hari ini telah melupakan mendiang istrinya. Biasanya dia setiap hari akan datang ke makam istrinya, Arkan merasa bersalah sangat bersalah dan merasa menghianati mendiang istrinya.
Arkan tersadar dari segala lamunannya, ketika Allegra menepuk pundaknya.
"Mama, ke dapur dulu," pamit Allegra, dan di jawaban anggukan pelan oleh Arkan.
Arkan menatap Rose dari kejauhan, kedua tangannya terkepal kuat seraya bergumam, "seharusnya rasa ini tidak pernah ada, dia hanya ibu pengganti untuk Mika." Arkan segera berlalu dari sana, melewati ruang keluarga dan ruang tamu, tanpa memedulikan Rose yang tampak sibuk dengan Mika.
Arkan bergegas masuk ke dalam mobil, tujuannya pada pagi itu adalah ke makam mendiang istrinya.
***
Kesal nggak sih? Kesel nggak?
Ya pasti kesel dong sama sikap Arkan.
Jangan lupa like, komentar. vote dan kasih gift seikhlasnya 😘
__ADS_1