
“Arkan!!” pekik Rose ketika Arkan menggendongnya ala bridal Style dengan paksa menuju kamar sebelah.
“Diam!” Arkan menghempaskan tubuh Rose ke atas ranjang secara kasar.
“Hei! Kau mau apa?!” Rose berseru sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, menatap Arkan penuh waspada, dan juga ketakutan.
Arkan menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku. Lalu menatap tajam Rose yang terlihat ketakutan padanya. “Sebenarnya kau itu kenapa sih? Bertingkah kayak mau di perkosa saja!” umpat Arkan dengan nada jengkel. Padahal niatnya hanya ingin mengantarkan wanita itu tidur ke kamar tamu. Tapi, karena caranya yang memaksa Rose, membuat wanita itu menjadi berpikiran buruk padanya.
Mendengar perkataan Arkan, seketika itu Rose terkejut, mengedipkan kedua matanya berulang kali, menatap Arkan penuh selidik, dan juga bingung. Rose menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia berpikir kalau Arkan akan memaksanya untuk melakukan anu...
“A-aku pikir kamu akan ...” ucapan Rose terhenti saat Arkan memotongnya.
“Dasar sinting! Kau pikir aku nafsu pada wanita jelek, kurus, kerempeng, semua yang kau miliki itu rata, dan nggak sexy sama sekali! Semut saja ogah sama kamu, apalagi aku!” balasan Arkan mengandung bon cape level 100 yang pedesnya sampai ke ujung kepala sampai ujung kaki bagi siapa saja yang mendengarnya.
Rose berengut kesal, bibirnya mengerucut lima senti, seraya menyentuh kedua dadanya bersamaan, lalu mengintip dari balik bajunya bagian atas.
“Sialan! Punyaku nggak rata. Gede dan montok, ukurannya saja 36B.” gerutu Rose, tidak terima dengan ucapan Arkan yang membuatnya sakit perut ... eh ... sakit hati maksudnya.
Tentu saja Rose tidak mau kalah, dan tidak akan mau mengalah dari pria menyebalkan seperti Arkan. “Awas saja nanti kalau kita sudah menikah, aku nggak akan membiarkanmu menyentuh tubuhku meski hanya seujung kuku!” Rose mengatakannya dengan mantap, seraya memperlihatkan ujung jari kelingkingnya sambil menatap sengit Arkan yang masih berdiri di dekat tempat tidur.
“Aku juga nggak akan pernah mau menyentuhmu ... RATA!” balas Arkan, menyebut kata ‘rata’ dengan penuh penekanan, yang berhasil membuat Rose semakin jengkel padanya.
“Dasar wedus gembel! Keluar kau dari sini!!!!!” teriak Rose sangat kesal, sambil melemparkan bantal dan guling yang ada di dekatnya ke arah Arkan.
“Wleek! Nggak kena!” balas Arkan ketika berhasil menghindar dari lemparan bantal dan guling yang di layangkan oleh Rose.
Rose mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras dan giginya bergemelutuk, kedua matanya menyipit ke arah Arkan seraya mengambil bantal terakhir yang ada di dekatnya, lalu melemparkannya ke arah Arkan, dan akhirnya ...
__ADS_1
BUGH!!
“Arghhh!” pekik Arkan ketika bantal tersebut tepat mengenai wajahnya. Meski bantal tersebut empuk, tapi tetap saja rasanya sangat sakit kalau di lemparkan ke wajah. Kedua mata Arkan terasa pedih, dan hidungnya sakit, karena terkena lemparan bantal tersebut.
“YESSS!!!!” seru Rose, seraya mengepalkan kedua tangannya di udara, seolah sedang melakukan selebrasi kemenangan. “Mampus! Enak ‘kan?!” cibir Rose tertawa puas melihat Arkan kesakitan.
“Awas kau ya! Aku akan membalasmu!” Arkan menghempaskan bantal tersebut ke sembarang arah, lalu dia naik ke atas tempat tidur dengan cara brutal. Dengan cepat menarik kedua kaki Rose yang akan melarikan diri.
“Arkan, lepaskan aku!” seru Rose sambil menggerakkan kedua kakinya yang di cekal oleh Arkan.
“Aku tidak akan melepaskanmu, RATA!” balas Arkan, menarik kedua kaki Rose dengan kuat dan cepa hingga membuat wanita tersebut telentang di atas tempat tidur, kemudian Arkan segera menduduki kedua paha Rose, agar wanita itu tidak bisa kabur darinya.
Arkan tersenyum smirk, seraya menggerakkan jari-jari tangannya di depan dada, sambil berkata, “bersiaplah, aku akan menggelitikimu!” ucap Arkan sambil tertawa jahat.
“Arggh! Arkan ... jangan lakukan itu ... Arghhh lepaskan aku!!!” teriak Rose sambil meronta ketika jari-jari Arkan menari-nari di permukaan perutnya.
“Ha ha ha ... rasakan ini ... rasakan ini.” Arkan terus menggelitiki perut Rose sampai wanita itu menggeliat ke kiri dan ke kanan sambil tertawa dan memohon ampun padanya.
“Arkan, lepaskan aku!” Suara teriakan itu berulang kali terdengar di indra pendengaran pasangan suami istri itu.
Karena sangat penasaran, mereka berdua beranjak keluar dari kamar, mengikuti sumber suara yang berasal dari kamar tamu tepat di samping kamar cucu mereka.
“Papa, Arkan dan Rose ... jangan-jangan mereka sedang melakukan itu.” Pikiran negatif tentu saja menguasai mereka yang menguping dari pintu kamar berwarna putih itu.
“Nggak mungkin, Ma.” Gerry tidak percaya, karena dia sangat tahu sikap putranya. Karena ingin menuntaskan rasa penasaran mereka, Gerry segera membuka pintu tersebut secara perlahan.
Sedangkan di dalam kamar sana, tepatnya di atas ranjang. Arkan masih menggelitiki perut Rose.
__ADS_1
Rose sudah tidak tahan lagi dengan rasa geli dan sakit di sekitar perutnya. Arkan benar-benar menyiksanya, kemudian dengan sisa tenaganya, dia menarik kemeja Arkan dengan kuat hingga pria tersebut terjatuh dan menimpa tubuhnya, tepat bersamaan dengan Gerry dan Allegra masuk ke dalam kamar, tapi sepertinya dua orang itu tidak menyadari kalau ada orang lain masuk ke dalam kamar tersebut, karena posisi mereka membelakangi pintu kamar.
“Astaga mata suciku!” pekik Gerry tertahan, suaranya terdengar sangat pelan, kemudian memejamkan kedua mata, dan salah satu tangannya menutup kedua mata istrinya agar tidak melihat adegan erotis di hadapan mereka.
“Dasar mesum! Lepaskan aku!” kesal Rose menatap sengit pada Arkan yang mengungkung tubuhnya.
“Aku tidak akan melepaskanmu!” jawab Arkan tersenyum devil, seraya memajukan wajahnya seperti akan mencium bibir Rose, tapi sebenarnya dia hanya ingin mengerjai wanita tersebut.
“Arkan!!! Kalau tahu begini aku tidak mau menginap di sini dan tidak akan mau menikah denganmu! Masa aku harus pecah perawan dulu sih!!!” kesal Rose sekaligus merengek, tapi tatapannya begitu benci dan kesal pada Arkan yang mengungkungnya.
Allegra dan Gerry terkejut mendengar perkataan Rose, mereka sudah membuka mata, kini tatapan mereka mengarah pada Arkan yang berada di atas tubuh Rose.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Papa dengar sendiri ‘kan kalau Rose masih perawan, jadi Arkan harus segera dihentikan. Aku nggak mau mereka melakukan hal itu sebelum menikah!” bisik Allegra pada suaminya.
“Aku setuju!” Gerry mengangguk mantap, setuju dengan ucapan istrinya. Kemudian dia berdeham keras, hingga membuat dua manusia yang berada di atas rajang terkejut bukan kepalang.
“EHEMMMM!!!
Arkan dan Rose saling tatap, mereka mengedipkan kedua mata kompak dengan tempo yang sama. Kemudian mereka juga kompak menoleh ke arah pintu, mata mereka membola sempurna saat melihat Gerry dan Allegra berdiri di dekat pintu sambil bersedekap di dada, menatap tajam ke arah mereka.
“Arghhh!!” Rose dengan reflek menjerit, mendorong dan menendang Arkan sangat kuat, membuat Arkan seketika itu langsung terjatuh ke lantai.
GEDEBUK!!
“Awww!”
***
__ADS_1
Ya ampun, mereka itu kapan akurnya sih 🤣🤣
Jangan lupa, like, komentar dan vote-nya🥰